SALATIGA, MENARA62.COM – Sebanyak 82 murid kelas IV SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mempererat persahabatan lintas sekolah melalui kegiatan field trip edukatif di SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga dan Saloka Theme Park, Kabupaten Semarang, Kamis (8/10/2026).
Mengusung tema “Satu Hari, Sejuta Sahabat: Kolaborasi Seru Tanpa Batas”, kegiatan ini dirancang untuk memperluas wawasan sosial, melatih kemandirian, serta menumbuhkan kemampuan kolaborasi murid melalui pengalaman belajar di luar kelas.
Koordinator Tim Kelas IV SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Atit Nur Ariyanna, mengatakan interaksi dengan lingkungan baru memiliki peran penting dalam mengembangkan kecerdasan emosional dan sosial anak.
“Pembelajaran di luar kelas ini melatih keberanian anak-anak untuk beradaptasi dan berkomunikasi. Kami berharap kolaborasi antarsekolah ini terus berlanjut demi kemajuan bersama,” ungkapnya.
Perkuat Kolaborasi Lewat Permainan Interaktif
Rangkaian field trip diawali dengan kunjungan persahabatan ke SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga. Dalam kunjungan tersebut, murid dari kedua sekolah mengikuti serangkaian permainan interaktif untuk membangun keakraban sekaligus melatih kerja sama.
Pembentukan kelompok dilakukan secara acak menggunakan kartu bergambar hewan. Cara ini membuat murid berkesempatan berkenalan dan bekerja sama dengan teman-teman baru dari sekolah berbeda.
Suasana semakin semarak saat para peserta mengikuti fun games yang terdiri atas lima pos permainan kolaboratif, yakni Clash of Champions (COC) Matematika, memindahkan gelas (cup moving), sambung kata, angkat bola, dan Trivia Game in English.
Setiap permainan dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir, komunikasi, pemecahan masalah, serta kekompakan tim. Murid tidak hanya ditantang menyelesaikan tugas, tetapi juga belajar menghargai ide dan kontribusi setiap anggota kelompok.
Sulap Barang Bekas Menjadi Karya Kolaboratif
Semangat kebersamaan juga diwujudkan melalui kegiatan seni kolase berbahan daur ulang. Para murid memanfaatkan botol plastik dan kanvas bekas untuk membuat karya yang mengandung pesan persahabatan dan kolaborasi.
Setiap kelompok menyusun bagian-bagian karya hingga membentuk rangkaian huruf yang bertuliskan “SDM Plus” dan “SDM PK SOLO”.
Kegiatan tersebut menjadi pengalaman bagi murid untuk memahami bahwa sebuah karya dapat tercipta melalui kontribusi banyak orang. Selain melatih kreativitas, pemanfaatan bahan bekas juga memperkenalkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
Kepala SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga, Suharwono, menyambut positif kunjungan tersebut. Menurutnya, pertemuan antarmurid dari sekolah berbeda menjadi ruang strategis untuk mengasah keterampilan sosial sekaligus memperluas jejaring pertemanan sejak usia dini.
“Kami berharap ruang perkenalan ini menjadi pemantik lahirnya persahabatan yang berkelanjutan bagi para siswa di luar momentum kegiatan field trip hari ini,” ujarnya.
Belajar Sambil Bereksplorasi di Saloka Theme Park
Setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan di SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga, rombongan melanjutkan perjalanan ke Saloka Theme Park di Kabupaten Semarang.
Di taman rekreasi tersebut, para murid mengeksplorasi berbagai wahana interaktif yang memadukan hiburan dengan pembelajaran kontekstual. Pengalaman ini memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar melalui pengamatan, eksplorasi, dan interaksi langsung dengan lingkungan.
Perjalanan edukatif tersebut sekaligus memperkaya pengalaman belajar murid di luar suasana kelas formal. Mereka dapat membangun kedekatan dengan teman, melatih keberanian mencoba hal baru, serta mengembangkan kemandirian dalam suasana yang menyenangkan.
Melalui kegiatan field trip ini, SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo menegaskan komitmennya menghadirkan pembelajaran bermakna (meaningful learning). Pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kemampuan bersosialisasi, kemandirian, dan kepedulian sosial.
Pengalaman sehari bersama teman-teman dari sekolah berbeda diharapkan menjadi awal persahabatan yang lebih luas sekaligus menanamkan pemahaman kepada murid bahwa kolaborasi dan kebersamaan merupakan bekal penting dalam kehidupan. (*)

