27.3 C
Jakarta

Dekan UM Bandung Tekankan Pentingnya Transisi Energi

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM – Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Arief Yunan menegaskan bahwa energi merupakan kebutuhan esensial bagi kehidupan manusia yang sejajar dengan pangan dan air. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat, Selasa, 30 Desember 2025.

”Dalam perspektif Al-Qur’an, energi merupakan bagian penting dari keberlangsungan hidup dan kesejahteraan umat manusia. Negara yang mampu menguasai dan mengelola tiga kebutuhan pokok manusia, yaitu pangan, energi, dan air, akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” ujar Arief.

Ia pun mencontohkan negara-negara penguasa energi fosil, seperti Arab Saudi, Amerika Serikat, dan Rusia, serta negara seperti Cina yang meski tidak memiliki cadangan minyak besar, mampu maju melalui strategi diversifikasi dan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) secara masif dan terencana.

Lebih lanjut, ia menyoroti kondisi Indonesia yang hingga kini masih sangat bergantung pada energi fosil, seperti minyak bumi dan batu bara, yang bersifat tidak terbarukan. Padahal, cadangan energi fosil terus menurun dan proses pembentukannya membutuhkan waktu jutaan tahun.

“Bauran energi terbarukan Indonesia baru mencapai sekitar 14 persen, masih jauh dari target 23 persen pada 2025. Sementara itu, produksi minyak bumi nasional terus merosot hingga Indonesia berubah status dari negara pengekspor menjadi pengimpor sejak 2007,” lanjut Arief.

Menurut Arief, tantangan energi nasional akan semakin besar seiring dengan target pertumbuhan ekonomi pemerintah Indonesia sebesar 8 persen dan jumlah penduduk Indonesia yang telah mencapai sekitar 280 juta jiwa. Kondisi tersebut menuntut adanya transisi energi yang serius dan terarah menuju sumber energi terbarukan yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan mampu menjamin ketahanan energi nasional di masa depan.

Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah telah memiliki landasan kebijakan energi yang cukup kuat, di antaranya melalui Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi serta Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 yang menegaskan pentingnya kemandirian dan ketahanan energi nasional. Selain itu, Indonesia juga menargetkan net zero emission pada 2060, yakni kondisi keseimbangan antara emisi karbon yang dihasilkan dengan kemampuan alam menyerap emisi tersebut.

Dalam konteks itulah, Arief menempatkan bioenergi sebagai salah satu solusi strategis. Bioenergi berasal dari sumber daya hayati seperti tumbuhan, hewan, dan limbah organik yang dapat diperbarui secara berkelanjutan. Indonesia, menurutnya, memiliki potensi besar melalui tanaman energi, limbah pertanian dan peternakan, seperti produksi kelapa sawit yang mencapai sekitar 45 juta ton CPO per tahun sebagai bahan baku biodiesel, selain jagung, tebu, dan singkong untuk bioetanol, juga limbah organik utk biomassa dan biogas.

Arief menekankan pentingnya hilirisasi bioenergi untuk memperkuat keterkaitan antara sektor hulu dan hilir, sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi. Biofuel sebagai salah satu jenis bioenergi dengan produknya seperti biodiesel B30 hingga B50, bioetanol, green diesel, hingga bioavtur dinilai mampu mengurangi ketergantungan impor minyak yang mencapai sekitar satu juta barel minyak ekivalen per hari, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi daerah.

Arief Yunan mengingatkan bahwa isu energi tidak hanya berkaitan dengan teknologi dan kebijakan, tetapi menyangkut keadilan sosial, kelestarian lingkungan, dan masa depan generasi mendatang. Ia menegaskan peran Muhammadiyah dan perguruan tinggi dalam mengawal kebijakan energi agar berpihak pada kemaslahatan umat, berkeadilan, serta berkelanjutan. “Sumber daya energi adalah anugerah dan amanah Allah yang harus dikelola dengan bijak, agar tidak merusak alam dan tetap menjamin kesejahteraan manusia,” pungkasnya. (FA)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!