Ekonom UMS: Kawasan Industri Kunci Dongkrak Ekonomi RI

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,29 persen secara tahunan (year-on-year) pada Triwulan II-2026 dinilai belum cukup untuk mendorong akselerasi ekonomi nasional. Penguatan sektor industri, percepatan perizinan investasi, dan perluasan kawasan industri menjadi langkah strategis untuk mengatasi stagnasi pertumbuhan ekonomi.

 

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., menilai fondasi ekonomi Indonesia secara umum masih baik. Namun, sejumlah persoalan struktural membuat pertumbuhan ekonomi cenderung berjalan di tempat.

 

“Kalau dari sisi ekonomi kita sebenarnya sekarang tidak ada masalah-masalah, kita cuma satu stagnan, mundur ya nggak tapi maju ya nggak ya stagnan di situ,” ujar Anton, Senin (26/10/2026).

 

Menurutnya, tantangan ekonomi Indonesia bukan hanya mempertahankan angka pertumbuhan, tetapi juga meningkatkan kualitas pertumbuhan agar mampu memperkuat sektor produktif, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

 

Perizinan Investasi Dinilai Terlalu Lama

 

Salah satu persoalan yang menjadi sorotan Anton ialah lamanya proses perizinan investasi, terutama terkait pembebasan lahan dan persiapan pembangunan fasilitas industri.

 

Ia membandingkan proses pembangunan pabrik di Vietnam yang, menurutnya, dapat dimulai dalam waktu sekitar tiga hingga empat bulan apabila persyaratan perizinan telah jelas. Sementara itu, di Indonesia, proses serupa dapat memakan waktu dua hingga tiga tahun karena investor harus menyelesaikan berbagai urusan lahan, perizinan, dan kebutuhan pendukung lainnya.

 

Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat realisasi investasi dan memperlambat ekspansi industri. Padahal, investasi yang cepat terealisasi diperlukan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas kegiatan usaha, dan membuka peluang kerja baru.

 

Karena itu, Anton mendorong pemerintah mempercepat proses perizinan serta menyiapkan kawasan industri yang telah memiliki kepastian lahan, legalitas, dan infrastruktur pendukung.

 

Dengan kesiapan tersebut, investor tidak perlu memulai seluruh proses dari awal sehingga pembangunan pabrik dapat berjalan lebih efisien.

 

Kawasan Industri Harus Jadi Motor Pertumbuhan

 

Anton menegaskan, perluasan kawasan industri khusus menjadi salah satu kunci untuk memperkuat perekonomian nasional. Kawasan yang siap digunakan akan mempermudah investor merealisasikan rencana bisnis sekaligus mendorong perkembangan sektor manufaktur.

 

“Selama kita tidak memperbanyak kawasan industri khusus yang nanti akan jadi motor pertumbuhan ekonomi ya nonsense,” tegasnya.

 

Ia mencontohkan kawasan industri di Kendal dan Batang yang telah menarik perusahaan domestik maupun asing. Sementara itu, kawasan Gresik turut berperan dalam mendukung jalur pengiriman ekspor mineral dari fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) di Sulawesi.

 

Menurut Anton, pengembangan kawasan industri tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan jumlah investasi. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa investasi tersebut mampu memperkuat rantai produksi dalam negeri, meningkatkan nilai tambah, dan menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.

 

Penguatan manufaktur juga perlu berjalan beriringan dengan pengembangan sumber daya manusia dan hilirisasi industri. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk impor atau pemasok bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.

 

Ketidakpastian Kerja Bisa Menekan Konsumsi

 

Selain persoalan investasi, Anton menyoroti kualitas penyerapan tenaga kerja sebagai faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

 

Ia mengingatkan bahwa terbatasnya kesempatan kerja formal dan ketidakpastian status pekerjaan dapat mendorong sebagian pekerja beralih ke sektor informal. Praktik kontrak kerja berdurasi pendek di sejumlah industri juga berpotensi menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pekerjaan dan pendapatan.

 

Ketidakpastian tersebut dapat memengaruhi perilaku konsumsi rumah tangga. Masyarakat yang khawatir kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan pendapatan cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.

 

Pembelian bernilai besar, seperti rumah dan kendaraan, berpotensi ditunda. Sebagian masyarakat juga dapat memilih menyimpan uang tunai sebagai langkah antisipasi menghadapi kondisi ekonomi yang tidak menentu.

 

Jika perilaku tersebut terjadi secara luas, transaksi ekonomi dapat melambat dan mengurangi dorongan pertumbuhan dari sisi konsumsi domestik.

 

Karena itu, menurut Anton, penguatan sektor industri perlu disertai upaya memperluas kesempatan kerja formal dan meningkatkan kepastian penghasilan masyarakat.

 

Hilirisasi dan SDM Jadi Penentu

 

Anton menilai Indonesia tidak dapat terus mengandalkan konsumsi domestik sebagai tumpuan utama pertumbuhan ekonomi. Penguatan kapasitas produksi, pengembangan manufaktur, hilirisasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia perlu menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi yang terintegrasi.

 

Hilirisasi memungkinkan komoditas diolah lebih lanjut di dalam negeri sehingga menghasilkan nilai tambah yang lebih besar. Sementara itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia dibutuhkan agar tenaga kerja mampu memenuhi kebutuhan industri yang terus berkembang.

 

Menurutnya, pembenahan tersebut harus dilakukan secara terencana dan konsisten. Perizinan yang lebih cepat perlu diikuti kesiapan kawasan industri, dukungan infrastruktur, serta kebijakan yang mendorong investasi produktif.

 

Dengan langkah tersebut, investasi diharapkan tidak berhenti pada penanaman modal, tetapi berkembang menjadi kegiatan produksi yang memperkuat industri nasional, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

Penguatan sektor industri pada akhirnya menjadi salah satu agenda penting untuk membawa ekonomi Indonesia keluar dari stagnasi menuju pertumbuhan yang lebih produktif, berkualitas, dan berkelanjutan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!