SOLO, MENARA62.COM – Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mitigasi bencana, khususnya gempa bumi yang hingga kini belum dapat diprediksi secara pasti. Hal itu disampaikan Prof. Ir. Eko Setiawan, Ph.D dalam sesi tanya jawab bersama wartawan pada jumpa pers rencana pengukuhan lima guru besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Senin (19/1/2026), di RM Dapur Solo.
Prof. Eko menjelaskan bahwa gempa bumi termasuk jenis bencana yang terjadi secara cepat dan sulit diprediksi. Bahkan, menurutnya, hingga saat ini para ilmuwan terbaik dunia belum mampu menentukan secara akurat waktu dan lokasi terjadinya gempa, termasuk potensi gempa besar atau megathrust.
“Kalau soal kapan dan di mana gempa besar itu terjadi, setahu saya sampai sekarang belum ada yang bisa memastikan,” ujarnya.
Meski demikian, Prof. Eko menegaskan masih banyak langkah strategis yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko bencana. Salah satunya adalah peningkatan kesadaran risiko bencana (risk awareness) di seluruh lapisan masyarakat. Ia menilai pendidikan menjadi jalur paling efektif, baik melalui pendidikan formal, nonformal, maupun informal.
“Kesadaran risiko ini penting untuk semua level. Pendidikan menjadi cara paling strategis, meskipun jumlah pesertanya terbatas, dampaknya tetap signifikan,” jelasnya.
Selain itu, Prof. Eko menyoroti pentingnya adaptasi berkelanjutan dengan memanfaatkan kearifan lokal, seperti ngilmu titen yang telah lama dikenal masyarakat Jawa. Contohnya adalah membaca tanda-tanda alam, termasuk perilaku hewan yang turun dari gunung menjelang erupsi gunung berapi.
Ia juga menekankan perlunya integrasi pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction) ke dalam kebijakan dan tata kelola pemerintahan. Menurutnya, kebijakan yang sensitif terhadap risiko bencana akan membantu masyarakat meminimalkan dampak, terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan rawan dan memiliki keterbatasan pilihan ekonomi.
Tak kalah penting, Prof. Eko menggarisbawahi peran komunitas dan lembaga berbasis keagamaan, seperti Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), dalam penanganan dan mitigasi bencana. Keterlibatan masyarakat dinilai krusial, termasuk dalam menjaga dan memanfaatkan Early Warning System (EWS) agar berfungsi optimal.
“Percuma ada EWS kalau rusak atau hilang. Ini kembali lagi ke kesadaran risiko masyarakat,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Prof. Eko kembali menekankan bahwa meskipun gempa bumi belum dapat diprediksi, upaya peningkatan kesadaran, adaptasi, tata kelola kebijakan, serta keterlibatan komunitas tetap menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko dan dampak bencana di Indonesia. (*)
