SOLO, MENARA62.COM – Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menuntut mahasiswa tidak sekadar menguasai rumus, tetapi juga mampu berpikir matematis, membaca data, dan bernalar kritis untuk menghadapi ketidakpastian dunia. Kompetensi tersebut menjadi fokus Kuliah Umum Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id di Ruang Seminar Gedung Induk Siti Walidah UMS, Senin (26/10/2026).
Mengusung tema “Meneguhkan Jati Diri sebagai Mahasiswa Pendidikan Matematika: Berpikir Matematis, Berkarakter, dan Berdampak”, kegiatan ini membekali mahasiswa semester satu dan tiga agar mampu mengembangkan identitas akademik sebagai calon pendidik matematika yang unggul, berkarakter, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.
Ketua Program Studi Pendidikan Matematika UMS, Rita Pramujiyanti Khotimah, S.Si., M.Sc., Ph.D., mengatakan tema tersebut selaras dengan visi keilmuan program studi yang menitikberatkan pada pembelajaran matematika berbasis kemampuan berpikir matematis dan teknologi digital, dengan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman serta mengintegrasikan kearifan lokal.
Menurut Rita, mahasiswa perlu memiliki kemampuan lebih dari sekadar memahami konsep matematika. Mereka diharapkan mampu menerapkan pengetahuan tersebut untuk menghasilkan gagasan dan solusi yang memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan maupun masyarakat.
“Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai konsep matematika, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menghasilkan gagasan dan solusi yang memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan dan masyarakat,” tegas Rita, Selasa (27/10/2026).
Menelusuri Sejarah Matematika hingga Era Komputasi
Kuliah umum ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Puguh Wahyu Prasetyo, S.Si., M.Sc., dosen sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD), serta Naufal Ishartono, M.Pd., Ph.D., dosen Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UMS.
Pada sesi pertama, Puguh menyampaikan materi Mathematical Thinking atau berpikir matematis. Ia membuka pemaparannya dengan pertanyaan reflektif mengenai relevansi belajar matematika di tengah perkembangan AI yang mampu menghasilkan jawaban secara cepat.
Pertanyaan tersebut mengajak mahasiswa memahami bahwa belajar matematika tidak berhenti pada kemampuan memperoleh jawaban, tetapi juga mencakup proses berpikir, menyusun strategi, menguji kebenaran, dan menemukan solusi secara logis.
Untuk memperkuat perspektif tersebut, Puguh mengajak mahasiswa menelusuri sejarah perkembangan matematika melalui sejumlah artefak penting, mulai dari tulang Ishango yang diperkirakan berusia sekitar 25.000 tahun, tablet Babilonia Plimpton 322, hingga Papirus Rhind dari Mesir kuno.
Ia kemudian menguraikan dua pendekatan penting dalam berpikir matematis, yaitu algebraic thinking atau berpikir aljabar dan computational thinking atau berpikir komputasional.
Dalam pembahasan berpikir aljabar, Puguh menyoroti kontribusi tokoh-tokoh seperti Al-Khwarizmi, Gauss, dan Galois dalam perkembangan pemikiran matematika. Sementara itu, pembahasan berpikir komputasional mengangkat peran Al-Khwarizmi dalam sejarah algoritma serta kontribusi Ada Lovelace dan Alan Turing.
Mahasiswa juga diajak memahami penerapan konsep matematika melalui demonstrasi metode bagi dua (bisection method) dan sejumlah simulasi interaktif. Melalui kegiatan tersebut, mereka mempelajari bagaimana prinsip matematika dapat digunakan untuk menyusun tahapan penyelesaian masalah secara sistematis.
Pendekatan ini menegaskan bahwa kemampuan berpikir matematis tetap relevan di era AI karena mahasiswa perlu memahami proses di balik suatu jawaban, bukan sekadar menerima hasil yang diberikan teknologi.
Matematika untuk Membaca Ketidakpastian Dunia
Pada sesi kedua, Naufal Ishartono membawakan materi “How Math Handle VUCA?”. Ia mengaitkan matematika dengan berbagai fenomena aktual, seperti pergerakan nilai tukar rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), ketidakpastian ekonomi global, hingga perkembangan kecerdasan buatan.
Naufal menjelaskan bahwa VUCA merupakan singkatan dari volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity, yang menggambarkan situasi dunia yang bergejolak, tidak pasti, kompleks, dan ambigu.
Menurutnya, setiap karakteristik VUCA membutuhkan keterampilan matematis yang berbeda. Literasi statistik diperlukan untuk membaca volatilitas, penalaran probabilistik membantu memahami ketidakpastian, pemodelan matematika digunakan untuk mengurai kompleksitas, sedangkan penalaran kritis dibutuhkan untuk menghadapi ambiguitas.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diajak melihat matematika sebagai alat untuk memahami persoalan nyata, termasuk fenomena ekonomi dan perubahan teknologi yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Naufal juga mendorong mahasiswa membangun kebiasaan belajar sejak semester pertama. Langkah yang dapat dilakukan antara lain membaca pemberitaan berbasis data secara kritis, memperkuat penguasaan statistika dan peluang, serta memanfaatkan perangkat digital dan AI secara bijak.
Ia menekankan pentingnya melakukan verifikasi terhadap informasi maupun hasil yang diperoleh dari teknologi. Dengan demikian, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar tanpa menghilangkan kemampuan mahasiswa untuk menilai informasi secara mandiri.
Membentuk Calon Guru Matematika yang Adaptif
Setelah pemaparan kedua narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan sesi tanya jawab. Mahasiswa antusias mengajukan pertanyaan serta membahas penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari dan tantangan perkembangan teknologi.
Kuliah umum ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan keilmuan sekaligus merefleksikan peran calon pendidik matematika di tengah perubahan zaman.
Melalui penguatan kemampuan berpikir matematis, karakter, dan literasi digital, Prodi Pendidikan Matematika FKIP UMS berharap mahasiswa mampu menjadi pendidik yang tidak hanya mengajarkan konsep, tetapi juga menumbuhkan pola pikir logis, kritis, dan sistematis pada peserta didik.
Di tengah kemajuan AI, kemampuan tersebut menjadi modal penting agar calon guru matematika mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, menjaga integritas akademik, serta menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. (*)

