25.6 C
Jakarta

Kampus Merdeka, Buka Prodi Baru Tak Perlu Izin Kementerian

Must read

Dunia Harus Tahu Persoalan Bangsa Palestina Belum Selesai

JAKARTA, MENARA62.COM – Adara Relief Internasional kembali menghadirkan tokoh-tokoh pemuda Palestina untuk menceritakan kondisi negara tersebut sejak kaum zionis Israel menjajahnya. Kali ini Husammuddin...

Untuk Pertama Kalinya Politeknik Negeri Kupang Kukuhkan Guru Besar

KUPANG, MENARA62.COM – Dr Adrianus Amheka, ST, M.Eng dikukuhkan menjadi guru besar pertama di Politeknik Negeri Kupang (PNK) bidang tehnik mesin sistem energy lingkungan....

TNI-Polri, Tokoh Masyarakat, dan FPI Mataram Kerja Bakti di Lokasi Baliho Habib Rizieq

MATARAM, MENARA62.COM – TNI-Polri bergandengan tangan dengan tokoh masyarakat dan Front Pembela Islam (FPI) Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar kerja bakti di bekas...

Jauhi Prasangka

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…” (Q.S. Al-Hujurat: 12) Di antara sebab kegalauan hati setiap orang adalah munculnya...

JAKARTA, MENARA62.COM – Kebijakan Kampus Merdeka yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menjadi solusi cepat bagi kampus-kampus yang akan membuka program studi baru. Dengan kebijakan tersebut kampus yang sudah memiliki akreditasi B dan A atau memiliki kerjasama dengan organisasi QS top 100 World Universities, bisa membuka prodi baru tanpa perlu mengurus izin ke kementerian.

“Perguruan tinggi harus lebih cepat berinovasi dibandingkan jalur pendidikan lainnya karena harus adaptif dan berubah dengan lincah menyesuaikan dengan kebutuhan di dunia kerja,” tutur Nadiem dalam siaran persnya, Sabtu (25/1/2020).

Artinya untuk perguruan tinggi dengan akreditasi A dan B tidak perlu lagi melalui perizinan prodi di kementerian, asal mereka bisa membuktikan telah melakukan kerja sama dengan perusahaan kelas dunia, organisasi nirlaba seperti PBB, Bank Dunia, USAID, BUMN, BUMD, top 100 World Universities berdasarkan QS ranking.

Sebagai catatan, prodi baru yang diusulkan tersebut bukan di bidang kesehatan, seperti  pendidikan kedokteran, farmasi, kebidanan, kesehatan masyarakat, dan jurusan-jurusan kesehatan lainnya.

Ditambahkan Mendikbud, kebijakan pemberian otonomi untuk membuka prodi baru ini sebagai upaya untuk menyediakan kurikulum yang lebih prioritas untuk dikuasai oleh mahasiswa Indonesia.

“Kita dorong upaya link and match antara bekal keilmuan mahasiswa dengan kebutuhan industri sehingga lebih bisa bersaing di panggung dunia,” ucapnya.

Ia meyakini bahwa perguruan tinggi memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul di Indonesia. Menurutnya, setelah meraih gelar sarjana, para lulusan S-1 akan langsung menghadapi tantangan di dunia kerja.

Mendikbud mengatakan, sebagai ujung tombak penyiapan SDM, sudah semestinya perguruan tinggi terus bergerak dan berbenah dalam memperkuat bekal para sarjana di Indonesia sesuai dengan perkembangan zaman.

“Perguruan tinggi harus lebih cepat berinovasi dibandingkan jalur pendidikan lainnya karena harus adaptif dan berubah dengan lincah menyesuaikan dengan kebutuhan di dunia kerja,” tutur Nadiem.

Mendikbud Nadiem menjelaskan bahwa kerja sama perguruan tinggi dengan organisasi harus mencakup penyusunan kurikulum, praktik kerja, dan penyerapan lapangan kerja. Kementerian akan bekerja sama dengan perguruan tinggi dan mitra prodi untuk melakukan pengawasan. Jika bisa dibuktikan ada kerja sama yang nyata dan riil antara kedua belah pihak, prodi baru tersebut otomatis akan mendapatkan akreditasi C dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT).

Dengan demikian, kebijakan ini diharapkan Mendikbud dapat menumbuhkembangkan semangat dan kepedulian seluruh civitas akademik dan dunia industri untuk maju bersama membangun kualitas SDM Indonesia.

“Lulusan S-1 yang berkualitas adalah hasil gotong royong seluruh aspek bukan hanya perguruan tinggi yang bertanggung jawab, melainkan perusahaan juga terlibat dalam kurikulum, magang, dan rekrutmen,” tutur Mendikbud.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Dunia Harus Tahu Persoalan Bangsa Palestina Belum Selesai

JAKARTA, MENARA62.COM – Adara Relief Internasional kembali menghadirkan tokoh-tokoh pemuda Palestina untuk menceritakan kondisi negara tersebut sejak kaum zionis Israel menjajahnya. Kali ini Husammuddin...

Untuk Pertama Kalinya Politeknik Negeri Kupang Kukuhkan Guru Besar

KUPANG, MENARA62.COM – Dr Adrianus Amheka, ST, M.Eng dikukuhkan menjadi guru besar pertama di Politeknik Negeri Kupang (PNK) bidang tehnik mesin sistem energy lingkungan....

TNI-Polri, Tokoh Masyarakat, dan FPI Mataram Kerja Bakti di Lokasi Baliho Habib Rizieq

MATARAM, MENARA62.COM – TNI-Polri bergandengan tangan dengan tokoh masyarakat dan Front Pembela Islam (FPI) Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar kerja bakti di bekas...

Jauhi Prasangka

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…” (Q.S. Al-Hujurat: 12) Di antara sebab kegalauan hati setiap orang adalah munculnya...

Calling Visa dan Krisis Orientasi

Saya tidak mengerti mengapa pemerintah akan mengeluarkan kebijakan tentang Calling Visa untuk warga negara Israel. Kalau untuk warga negara Afghanistan, Guinea, Korea Utara, Kamerun, Liberia,...