SEMARANG, MENARA62.COM – Bagaimana Gen Z memahami fikih Islam di tengah kehidupan yang serba cepat, praktis, dan lekat dengan media sosial? Pertanyaan inilah yang melatarbelakangi lahirnya buku Fikih Gen Z karya Ayi Yunus Rusyana yang diluncurkan sekaligus dibedah dalam rangkaian Muhammadiyah Zakat Summit (MZS) 2026.
Peluncuran dan bedah buku tersebut berlangsung di Masjid At-Taqwa Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Kamis (5/11/2026). Kegiatan ini diikuti mahasiswa dan pelajar yang antusias menggali persoalan fikih Islam dalam kehidupan generasi muda.
Selama sekitar dua jam, Ayi Yunus Rusyana mengungkapkan latar belakang penulisan buku tersebut. Menurutnya, Fikih Gen Z lahir dari pengamatan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi anak muda, terutama berkaitan dengan ibadah, pergaulan sosial, dan praktik keagamaan sehari-hari.
Sejumlah isu yang diangkat antara lain hukum mendengarkan musik, penggunaan jilbab dan cadar, lukisan serta video yang menampilkan makhluk bernyawa, hingga kepedulian sosial dan kebiasaan berbagi kepada sesama.
“Topik yang ditemukan banyak, lalu disaring ke dalam beberapa isu. Yang banyak dan ramai dibicarakan seperti soal mendengarkan musik halal atau haram, jilbab dan cadar, lukisan dan video yang berisi makhluk bernyawa, dan persoalan kepekaan sosial, khususnya berbagi terhadap sesama,” paparnya.
Sekretaris Dewan Pengawas Lazismu Pusat itu menilai, Gen Z memiliki karakter yang cenderung menyukai sesuatu yang praktis, sederhana, dan tidak berbelit-belit. Mereka juga tumbuh dalam ekosistem digital yang membentuk pola komunikasi dan cara memperoleh pengetahuan.
Karena itu, penyampaian fikih Islam perlu menyesuaikan karakter generasi tersebut tanpa mengurangi substansi ajarannya.
Jika generasi sebelumnya terbiasa mempelajari fikih melalui kitab-kitab tebal dan metode hafalan, pendekatan semacam itu perlu dilengkapi dengan cara yang lebih komunikatif bagi Gen Z.
“Perlu pendekatan dengan storytelling yang ringan disertai contoh-contoh nyata yang juga mereka rasakan dalam kesehariannya,” ujar dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung tersebut.
Dalam sesi bedah buku yang dipandu Eddy Aqdhiwijaya dari redaksi Gerakan Islam Cinta, Ayi Yunus mengulas sejumlah tema, termasuk bersuci (thaharah) dan filantropi Islam.
Filantropi Islam dalam Bahasa Gen Z
Salah satu pembahasan menarik muncul ketika diskusi memasuki tema filantropi Islam. Ayi Yunus menyoroti kreativitas generasi muda dalam mengemas kegiatan sosial dan penggalangan dana.
Istilah-istilah populer seperti giveaway, doorprize, hingga penggunaan influencer kerap mewarnai kegiatan filantropi yang digerakkan anak muda. Bahkan, istilah gaul seperti “orang have” mulai digunakan untuk menyebut orang kaya.
Menurut Ayi Yunus, kreativitas tersebut merupakan hal positif selama diarahkan untuk membangun kepedulian dan membantu sesama.
Ia mengapresiasi respons cepat Gen Z ketika muncul persoalan kemanusiaan. Melalui berbagai platform digital, mereka mampu menggerakkan solidaritas dan menghimpun bantuan dalam waktu relatif singkat.
Namun, kreativitas itu perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai tata kelola donasi yang amanah dan bertanggung jawab. Gen Z juga perlu membangun kolaborasi dengan lembaga filantropi terpercaya agar pengelolaan dana berjalan secara transparan.
“Gen Z harus bisa membedakan infak yang sukarela, sedekah yang tidak hanya uang, dan zakat yang memiliki ketentuan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengenali pihak yang mengorganisasi kegiatan penggalangan dana, termasuk individu, sponsor, maupun lembaga yang terlibat. Dengan demikian, masyarakat dapat memastikan bahwa dana yang disalurkan, baik zakat maupun bantuan sosial, dikelola sesuai peruntukannya.
Pertanyaan Kritis Seputar Wudu dan Salat
Suasana diskusi semakin hidup ketika peserta mulai mengajukan pertanyaan berdasarkan persoalan yang mereka temui sehari-hari.
Gavin, siswa SMA Muhammadiyah 1 Semarang, mempertanyakan kebiasaan sebagian anak muda yang berwudu sekadar membasahi anggota tubuh tanpa memperhatikan ketentuan dan tata caranya.
Sementara itu, Ratih, mahasiswa Keperawatan Unimus, mengangkat persoalan fikih bagi orang yang memiliki kesibukan tinggi hingga meninggalkan salat.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Ayi Yunus menjelaskan bahwa ibadah tidak semestinya dipandang sebagai beban di tengah aktivitas kehidupan. Justru, salat lima waktu dapat menjadi jeda spiritual yang membantu manusia melepaskan sejenak tekanan dan kesibukan duniawi.
“Jika tidak ada jeda dalam hidup, kapan punya waktu untuk mengosongkan hidup dari dunia sejenak. Kita harus bisa melepaskan beban itu dengan salat. Secara medis, hati dan otak kita tenang. Tetapi bila meninggalkannya tentu ada konsekuensi secara hukum Islam,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya melaksanakan wudu secara tertib sesuai tuntunan syariat. Baginya, pemahaman terhadap tata cara ibadah perlu dibangun agar generasi muda tidak sekadar menjalankan ritual, tetapi juga memahami makna dan ketentuannya.
Lazismu Dorong Budaya Literasi Fikih
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, turut menyampaikan pentingnya budaya membaca bagi generasi muda. Menurutnya, memperluas pengetahuan tentang fikih Islam merupakan salah satu jalan untuk membangun kesadaran dan pemahaman keagamaan.
“Memperbanyak pengetahuan tentang fikih Islam merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman melalui kebiasaan membaca,” katanya.
Wakil Rektor III Unimus, Eny Winaryati, juga menyambut positif peluncuran dan bedah buku tersebut. Ia menilai tema Fikih Gen Z relevan dengan kebutuhan generasi muda dalam memperkaya wawasan keislaman.
“Judulnya sangat bagus. Ada banyak khazanah pengetahuan yang perlu ditimba oleh Gen Z,” ujarnya seraya mengajak mahasiswa untuk membaca dan mendalami isi buku tersebut.
Peluncuran buku Fikih Gen Z menjadi bagian dari rangkaian agenda nasional Lazismu dalam Muhammadiyah Zakat Summit (MZS) 2026 di Semarang, Jawa Tengah.
Pembukaan Muhammadiyah Zakat Summit 2026 dijadwalkan berlangsung Jumat (6/11/2026). Agenda nasional ini menjadi salah satu ikhtiar Lazismu untuk terus menggelorakan gerakan zakat di Indonesia sekaligus memperkuat peran filantropi Islam dalam menjawab berbagai persoalan sosial.
Melalui buku Fikih Gen Z, Lazismu menghadirkan pendekatan literasi keislaman yang lebih dekat dengan dunia anak muda. Harapannya, generasi digital tidak hanya akrab dengan tren dan teknologi, tetapi juga memiliki pemahaman fikih yang kuat serta kepedulian sosial yang nyata. (*)

