YOGYAKARTA,MENARA62.COM — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat terus memperkuat sinergi kelembagaan dengan jajaran MUI di daerah. Upaya tersebut diwujudkan melalui agenda Konsolidasi Organisasi dan Monitoring dan Evaluasi (Monev) bersama MUI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang berlangsung selama dua hari, 17–18 September 2026, di Yogyakarta.
Kegiatan ini menjadi momentum untuk menyelaraskan visi dan program kerja sekaligus mengevaluasi pelaksanaan berbagai agenda kelembagaan MUI di tingkat daerah. Melalui konsolidasi tersebut, MUI Pusat dan MUI DIY juga membahas penguatan peran MUI agar semakin responsif terhadap dinamika kehidupan keumatan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Delegasi MUI Pusat yang hadir dalam agenda tersebut antara lain Koordinator Wilayah (Korwil) MUI Pusat sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Hukum MUI Pusat, Dr. M. Ihsan Tanjung; Bendahara MUI, Hj. Diana Dewi, SE.; serta Tim Monev MUI Pusat sekaligus Wakil Sekretaris Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) MUI Pusat, Muhammad Abdullah Darraz, MA., M.Ud.
Rombongan MUI Pusat disambut jajaran pimpinan MUI DIY, di antaranya Ketua Umum MUI DIY Prof. Dr. Machasin dan Sekretaris Umum Drs. Wijdan al-Arifi, beserta jajaran pengurus komisi, badan, dan lembaga di lingkungan MUI DIY.
Dalam arahannya, Dr. M. Ihsan Tanjung menegaskan bahwa konsolidasi dan monev merupakan bagian penting dari upaya memperkuat sinergi antara MUI Pusat dan MUI di daerah.
“Konsolidasi dan Monev ini bukan sekadar agenda administratif tahunan, melainkan bentuk ikhtiar bersama untuk memastikan bahwa denyut nadi perjuangan MUI Pusat selaras dengan apa yang dikerjakan oleh kawan-kawan di daerah. DIY dengan dinamika keagamaannya yang khas membutuhkan pendekatan dakwah yang kolaboratif, dan MUI siap hadir sebagai tenda besar umat Islam.”
Menurutnya, karakteristik Yogyakarta yang dinamis dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan kebudayaan membutuhkan penguatan kolaborasi berbagai elemen umat. Karena itu, konsolidasi antara MUI Pusat dan MUI DIY dinilai penting untuk memastikan program dan gerakan keumatan dapat berjalan secara sinergis.
Monev sebagai Instrumen Penguatan Kelembagaan
Sementara itu, Tim Monev MUI Pusat, Muhammad Abdullah Darraz, menekankan pentingnya monitoring dan evaluasi sebagai instrumen untuk melihat perkembangan organisasi sekaligus memetakan berbagai tantangan yang dihadapi MUI di daerah.
“Monitoring dan evaluasi ini merupakan instrumen fundamental untuk memetakan kekuatan sekaligus tantangan yang dihadapi oleh kepengurusan di tingkat daerah. Kami ingin memastikan bahwa roda pergerakan organisasi MUI, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, semakin terukur, kokoh, dan berdampak luas bagi umat dan masyarakat.”
Darraz juga menyoroti posisi strategis Yogyakarta sebagai salah satu pusat pendidikan dan ruang perjumpaan berbagai tradisi serta budaya.
“Yogyakarta memiliki karakteristik istimewa sebagai episentrum pendidikan dan simpul perjumpaan berbagai budaya. Oleh karena itu, penguatan struktur dan sinkronisasi program melalui monev ini sangat krusial. Harapannya, mesin pergerakan MUI DIY bisa berputar lebih cepat dan efektif, sehingga kehadirannya semakin relevan dan memberikan dampak nyata dalam memandu umat di tengah tantangan zaman.”
Ketua Umum MUI DIY Prof. Dr. Machasin menyambut baik pelaksanaan konsolidasi dan monev tersebut. Ia menegaskan kesiapan MUI DIY untuk terus melakukan pembenahan dan meningkatkan kapasitas kelembagaan dalam menjalankan tugas pelayanan kepada umat.
Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ruang dialog antara MUI Pusat dan MUI DIY untuk mengidentifikasi berbagai perkembangan, kebutuhan, serta tantangan dalam pelaksanaan program keumatan di Yogyakarta.
Kunjungi Pesantren al-Munawwir dan Masjid Jogokariyan
Selain konsolidasi internal, delegasi MUI Pusat juga melakukan kunjungan silaturahmi dan dialog ke sejumlah pusat kegiatan keumatan di Yogyakarta. Dua lokasi yang dikunjungi adalah Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak dan Masjid Jogokariyan.
Di Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak, rombongan MUI Pusat berdialog dengan para pengasuh pesantren untuk menyerap aspirasi dan melihat secara langsung dinamika kehidupan pesantren. Dialog antara lain membahas pentingnya pesantren dalam menjaga tradisi keilmuan Islam (tafaqquh fiddin) serta menyiapkan kader ulama yang memiliki wawasan kebangsaan.
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Masjid Jogokariyan. Rombongan MUI berdialog dengan Badan Takmir Masjid mengenai pengelolaan dan pemberdayaan masjid, khususnya dalam aspek idarah, imarah, dan ri’ayah.
Dialog tersebut juga menjadi kesempatan untuk bertukar pengalaman mengenai penguatan fungsi masjid sebagai pusat ibadah sekaligus ruang pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan solidaritas jamaah.
Rangkaian kegiatan Konsolidasi Organisasi dan Monev MUI Pusat bersama MUI DIY diharapkan semakin memperkuat koordinasi dan sinergi kelembagaan dari tingkat pusat hingga daerah.
Dengan konsolidasi yang berkelanjutan, MUI diharapkan mampu meningkatkan kapasitas organisasi, merespons berbagai persoalan keumatan secara lebih efektif, serta memperkuat peran ulama sebagai khadimul ummah (pelayan umat) dan shadiqul hukumah (mitra pemerintah) dalam membangun kehidupan masyarakat yang religius, harmonis, dan berkemajuan.
