32.2 C
Jakarta

Novel 2 : Bintang di Atas Al-Azhar Kairo (BAAK – 1. Awal yang berat ).

Baca Juga:

PENGANTAR : —————————————————————————-
Assalamualaikum wr.wb, Dengan selesainya sekuel Novel pertama : Trilogi Novel Islami yang direncanakan. Rembulan di Atas Bukit Khayangan (RABK). Dibuat dalam bentuk paper, setebal 326 halaman. Dilounching oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, pada awal Januari 2024. RABK kini masuk cetak ke-3. Mohon ijin, melanjutkan sekuel ke-2 dari Trilogi Novel Islami. Kini Berjudul : Bintang di Atas Al-Azhar Kairo. Semoga bermanfaat. Wassalamualaikum wr.wb.
———————————————————————————————–
BEGITU anak. Tidak selalu sama dan sebangun dengan cita-cita atau keinginan orag tuanya. Anaknya 5, maka keinginannya juga 5. Maka ada nasehat baik, menjadi orang tua harus bisa berbagi hati dengan anak-anaknya. Sikap, perangai, perilaku yang berbeda, membuat orang tua terus belajar sabar. Tanpa tepi. Memang ada juga pepatah yang mengatakan buah mangga jatuh tak jauh dari pohonnya. Namun kalau jatuhnya di sungai, kemudian terbawa arus deras, berkelok, menabrak bebatuan, buah tersebut akhirnya jatuh dan muaranya tidak lagi di dekat pohon utamanya. Orang tuanya. Mereka akan mengalami pergulatan sosial sendiri. Bergesekan dengan lingkungan yang kadang tidak diketahui orang tuanya.
“Aku tidak mau kuliah,” kata Rohman. Satu malam membuka percakapan usai makan malam di ruangan tengah yang tidak begitu jembar.
“Mengapa?” tanyaku menyelidik. Aku sengaja geser pantatku lebih dekat dengannya. Aku elus pundaknya. Sementara kakaknya, asyik dengan permainannya. Baju atau kaos yang dilipat-lipat. Berulang-ulang. Itu saja aku lihat ia sudah nampak bahagia. Terlihat dari raut wajahnya. Senyum-senyum. Ibunya membereskan meja makan. Sambil sesekali usul. Menyahut percakapan kami.
“Pokoknya tidak mau. Sekolah terus pusing” jawabnya. Masih asyik dengan HP-nya.
Makan sambil main HP. Hmm.
“Itukah sebabnya kamu gak mau melanjutkan ke pondok? kemudian sekolah di luaran, agar lebih bebas?” tanyaku. Masih dengan menahan hati dan perasaan.
Rohman tidak menjawab.
“Kamu tidak merasa sia-sia sudah bisa hafal 15 juz, kemudian tidak lanjut?”
“Di sekolah umum, masih bisa ngaji kok pak,?”
“Tapi godaannya lebih banyak, lho mas?”
“Tergantunglah pak?”
“Tergantung apa? Rohman gak merasakan, di rumah berapa minggu atau belum genap sebulan, sudah beberapa kebiasaan baik di pondok sudah mulai pudar. Hilang. Berganti,”
“Tetapi tetap ngaji kok, aku,” Rohman tetap membela diri.
“Tetapi kan tidak bisa intens, mas,”
“Penting, ngaji, pak,”
Itulah beberapa penggalan percakapan kami, awal ketika Rohman memutuskan untuk tidak lagi lanjutkan mondok. Kami sudah nurut. Karena kalau dipaksakan, khawatir patah ditengah jalan, meski awalnya kami daftarkan ke pondok juga.
“Aku gak mau pak,” kata Rohman waktu itu. Kami ikuti sekolah di umum. Meski masih degan ruh agama kental. Tapi tidak ikut program boarding school. Sore pulang.
Kadang habis dhuhur sudah di rumah. Bergaulnya begitu heterogen. Awal yang berat untuk menggapai asa. Tetapi tetap kami jalani. Bak bermain layang-layang. Kadang kami bicara tegas. Terkesan memarahinya. Kadang juga ngikut kemauan anak. Sakit hati, sakit perut terus kami jalani.
Kalau sudah begini kami menggunakan jurus : Peta Kendali. Disaat anak ada di dekat kita, dalam kendali kita, maka sudah sepantas dan seharusnya kita kendalikan, Tapi ketika saat yang berlainan, ada diluar kendali. Tidak bisa memaksakan. Beda pendapat, maka yang bisa kita lakukan adalah  berdoa. Kita punya Dzat yang Maha membolak-balikkan hati. Hati anak kita, bukan milik kita. Kalau udah kearah sana maka hati ini sedikit lebih tenang…(bersambung )

 

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!