27.4 C
Jakarta

Rembulan di Atas Bukit Pajangan ( bag-56 )

Baca Juga:

#Ukur Baju Badan Sendiri.

Mempunyai cita-cita tentu boleh dan sah-sah saja. Bahkan konon seharusnya demikianlah kita manusia. Tidak saja cita-cita di dunia namun jangka panjang. Long live. Akhirat. Kekal abadi selama-lamanya. Keinginan di dunia saja kita ini mempersiapkan dengan sungguh-sungguh. Rigit. Keluar bea tidak terasa, bahkan terkadang jor-joran. Untuk apa? Sementara tujuan, cita-cita jangka panjang dan itu pasti, kadang masih kita atau tepatnya aku abaikan.

Aku tidak ingin Rohman, terlalu berat atau dibebani dengan cita-cita dunia. Pertanyaan-pertanyaan dini yang mustinya tidak kami ajukan. Sebaiknya kami tahan. Orang tua tidak boleh egois. Dengan alasan sayang, namun sejatinya sedang memaksakan kehendaknya. Memang untuk pilihan pendidikan, hingga tingkat SMP atau Tsanawiyah, kami- aku dan istri masih sepakat, anak harus ikut kemauan orang tua. Harus? ya. Karena hingga usia SMP anak belum bisa memilih dan memilah. Kalau sudah tingkat SMA dan kuliah, kami berpikir, anak sudah dewasa. Mereka sudah bisa menilai mana yang cocok untuk dirinya. Di sini peran orang tua cukup mengarahkan. Tetapi sebelumnya anak sudah mempunyai dasar.

“Kenapa bapak, memaksa anak masuk ke pondok,” tanya teman suatu saat.
“Iya, saya setengah memaksa. Untungnya anak mau dan enjoy,” jawabku.
“Kenapa mau. Sementara yang lain memilih di umum,”
“Awalnya saya mengkondisikan. Itu saja. Biasanya anak kecil suka dengan sesuatu yang menyenangkan,”
“Pernah berontak?”
“Pernah. Tetapi tidak lama,”
“Caranya?”
“Kenali kesenangannya,”

Dalam hatiku, seandainya anak tidak nurut pilihan sekolah orang tuanya, saat usia SD-SMP, bapak gak mau biayai. Terkesan Kejam ?, Iya. Tapi ending-nya baik. Anak usia dini perlu pendidikan agama yang kokoh. Dan inti dari pendidikan agama adalah di-akhlak. Ini harus kita kuatkan, sebagai orang tua.

Aku masih ingat waktu sekolah dulu. Mengalir saja. SD hingga SMP, bahkan  ketika lulus SMA “plat merah” aku memilih 2 fakultas unggulan. Apa itu? Fakultas Kedokteran dan Pertanian. Pilihan ke-3, Psikologi. Memilih sendiri. Bebas. Beruntung semuanya tidak ada yang diterima. Sedih? Iya, waktu itu. Namun belakangan, paham. Seandainya bisa masuk di Fakultas Kedokteran, mungkin aku stres. Di samping biayanya juga pelajarannya-yang “berat”. Belakangan aku menyadari lemah di bahasa Inggris. Matematika.  Kok daftar waktu itu? Lebih kepada untuk gagah-gagahan. Aku sedang tidak mengukur baju badan sendiri. Kala itu. Itulah maka, kemudian aku baru bisa mengatakan beruntung tidak diterima di fakultas kedokteran. Karena aslinya tidak mampu. Aku mengukur baju, dengan ukuran badan milik teman. Kedodoran.
Pengalaman buruk masa silam, kalau bisa tidak terjadi pada Rohman. Aku ingin mengarahkan, sesuai dengan minat dan  kesenangannya. Dan tujuan jangka panjang.

“Mengarahkan atau memaksa?” masih kata temanku penuh selidik. Suatu saat, di sekolah.
“Ya mengarahkan, tapi kalau masih kecil ada unsur paksaan, hehe,” jawabku. Jujur aku gelagapan juga menerima pertanyaan yang menohok.
“Jangan-jangan Rohman di pondok dipaksa sama bapaknya?”
“Gak-lah. Kebetulan ada passion dia ke sana. Aku arahkan,”
“Aku juga gak target yang tinggi-tinggi. Yang penting dia bisa ngaji dan sholat gak berhenti,”
“Kenapa harus di pondok?”
“Yang kondusif,”
“Memang kalau di luar, di sekolah umum gak kondusif,”
“Kurang. Anak 2/3 di rumah bersama lingkungan dan keluarga. Kalau kita gak tegas, kita kalah dengan anak. Terlalu tegas dikira gak sayang, dilepas nanti kita akan kaget dengan perkembangan anak sendiri. Dilema kan?
“Kalau di pondok. Memang ada jaminan?”
“Gak ada jaminan 100 persen. Apalagi kita masih hidup di dunia. Yang bisa kita lakukan adalah usaha. Di pondok pengawasan anak relatif lebih serius. Tidak ngaji, tidak sholat diingatkan,” kataku berargumentasi.
“Apa ada pengalaman buruk selama anak di pondok,”
“Ya ada tapi kecil. Itu tertutup dengan kebaikannya,”
“Gak kangen. Rindu, anak segitu sudah dilepas,”
“Kangen tentu ada. Sangat. Tetapi demi menuntut ilmu, kita harus kalahkan ego. Masih bisa phone, masih bisa ketemu juga, kok”
“Aku sebenarnya pingin anak ke pondok. Tapi istri gak boleh, sempat bertengkar. Akhirnya aku yang mengalah,”

Masa pandemi ini tugas di sekolah memang agak longgar. Kalaupun masuk lebih pada tugas piket, 4-5 orang. Maka biasanya di sela-sela piket ada perbincangan keluarga di antara kami. Sharing. Hampir semua mengeluhkan sulitnya transfer knowladge lewat media daring di sekolah pinggiran. Beberapa kendala menghadang : kuota, jaringan tidak stabil, tidak bisa memantau anak dan semacamnya. Namun kami tidak patah arang. Beberapa langkah kami lakukan agar PJJ – Pembelajaran Jarak jauh atau daring ini dapat efektif. Toh pemerintah melalui kementrian sudah memberikan kuota gratis kepada siswa, guru dan dosen.

“Kenapa tidak punya target tinggi terhadap anak sendiri?” kata teman sekolah lagi. Saat istirahat tiba. Tidak di kantin. Hanya di selasar sekolah.
“Iya, saya mengukur diri sendiri, mas,”
“Maksudnya,?”
“Aku sendiri tidak terlalu pinter hal agama. Aku hanya ingin anak tahu lebih banyak dibanding ortu-nya, itu saja. Sehingga ketika ortu-nya tidak ada tahu apa yang harus dilakukan.Tidak lagi protes karena tidak diarahkan, tidak disekolahkan,”
“Hmm. Gak ada cita-cita misal nanti kalau lulus SMA, kuliah di Kairo atau Sudan atau Madinah sekalian,”
“Ya, ada tapi tidak aku bilangkan sekarang. Khawatir membebani. Bertahaplah mas,”
Tidak terasa jarum pendek jam kantor sudah menyentuh angka 11, jarum panjang angka 6. Jam 11.30 kami kemas-kemas. Karena diminta sholat Dhuhur di rumah..Menghindari kerumuman..
(bersambung)

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!