SOLO, MENARA62.COM – Limbah pangan yang selama ini menjadi persoalan lingkungan berpotensi diubah menjadi sumber ekonomi baru. Melihat peluang tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mengembangkan REVIVEE, platform digital berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan blockchain untuk mengintegrasikan distribusi makanan surplus dengan pengelolaan limbah melalui konsep ekonomi sirkular.
Inovasi yang digagas Tim Dahlan Muda UMS ini dirancang untuk menghubungkan industri hotel, restoran, dan kafe (HOREKA) dengan konsumen serta mitra pengolah limbah. Melalui platform tersebut, makanan berlebih yang masih layak konsumsi dapat disalurkan kembali kepada masyarakat, sedangkan limbah organik dan anorganik diarahkan kepada pihak yang mampu mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi.
Ketua Tim REVIVEE, Bintang Permana, mengatakan Solo Raya memiliki potensi besar untuk pengembangan platform tersebut. Pasalnya, kawasan ini memiliki lebih dari 6.000 pelaku industri HOREKA yang berpotensi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi sirkular.
“Persoalan yang ingin kami selesaikan bukan hanya mengenai makanan berlebih yang masih layak konsumsi, tetapi juga limbah organik dan anorganik yang belum dikelola secara optimal. REVIVEE hadir untuk mempertemukan penghasil limbah dengan pihak yang membutuhkan bahan baku tersebut,” ujarnya, Selasa (3/11/2026).
Tim pengembang REVIVEE terdiri atas Bintang Permana sebagai ketua, bersama Dandi Bagus Nur Afiyanto, Elgiva Rasyad Aditya Putra, dan Mukhamad Nafis Arjunnajah. Inovasi tersebut dikembangkan di bawah bimbingan Liana Mangifera, S.E., M.M., CFRM.
Dua Skema, dari Distribusi Pangan hingga Pengolahan Limbah
REVIVEE mengusung dua skema operasional untuk membangun rantai pemanfaatan limbah yang terintegrasi.
Pertama, skema Business to Consumer (B2C), yakni mendistribusikan makanan surplus dari industri HOREKA kepada masyarakat dengan harga lebih terjangkau. Sasaran utamanya adalah mahasiswa dan karyawan muda yang membutuhkan akses makanan ekonomis.
Kedua, skema Business to Business (B2B), yang mempertemukan pelaku HOREKA dengan mitra pengolah limbah. Mitra tersebut meliputi peternak maggot Black Soldier Fly (BSF), peternakan unggas, produsen pupuk organik, hingga kelompok tani.
Melalui skema ini, limbah yang telah dipilah dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku pakan ternak maupun pupuk organik. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya berpotensi terbuang dapat masuk kembali ke dalam rantai produksi.
Keunggulan REVIVEE terletak pada integrasi teknologi AI dan blockchain. AI Matching Engine dirancang untuk mencocokkan penghasil limbah dengan penerima berdasarkan jenis limbah, lokasi, kapasitas, dan waktu.
Sementara itu, teknologi blockchain digunakan untuk mencatat transaksi agar proses pemanfaatan limbah berlangsung lebih transparan dan dapat ditelusuri.
REVIVEE juga dilengkapi Sustainability Analytics Dashboard. Fitur ini memungkinkan mitra HOREKA dan pemerintah memantau jumlah makanan yang berhasil diselamatkan, volume limbah yang diolah, hingga estimasi pengurangan emisi gas rumah kaca.
Survei Ungkap 93 Persen Konsumen Tertarik
Potensi pengembangan REVIVEE turut didukung hasil survei yang dilakukan tim terhadap 69 responden di wilayah Solo Raya.
Anggota tim, Dandi Bagus Nur Afiyanto, mengungkapkan sebanyak 93 persen konsumen menyatakan tertarik membeli makanan surplus dengan harga terjangkau. Sementara itu, 60 persen pelaku HOREKA menghadapi persoalan surplus makanan setiap hari.
Menariknya, seluruh responden dari kalangan pelaku HOREKA menyatakan membutuhkan laporan lingkungan secara otomatis.
“Bagi industri HOREKA, REVIVEE menawarkan solusi pengelolaan limbah dari hulu hingga hilir. Makanan yang masih layak konsumsi dapat didistribusikan kembali kepada masyarakat, sedangkan limbah yang tidak dapat dikonsumsi diarahkan kepada mitra pengolah,” ungkap Dandi.
Untuk mendukung efektivitas operasional, REVIVEE juga merancang layanan penjemputan limbah dengan target waktu kurang dari 24 jam.
Dari sisi pemasaran, tim mengembangkan strategi digital dengan menyasar pelaku industri HOREKA dan generasi muda. Selain itu, tersedia fitur Gamification & Community yang mencakup sistem poin, badge, voucher, serta forum edukasi.
Fitur tersebut diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat sekaligus membangun kebiasaan memilah dan memanfaatkan limbah secara bertanggung jawab.
Proyeksi Laba Bersih Rp5,6 Juta per Bulan
Tidak hanya menawarkan solusi lingkungan, REVIVEE juga dirancang sebagai model bisnis yang memiliki prospek ekonomi.
Dari sisi permodalan, tim memproyeksikan kebutuhan investasi awal sebesar Rp25 juta. Pendanaan direncanakan berasal dari dukungan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan sebesar Rp15 juta dan kontribusi modal empat anggota tim sebesar Rp10 juta.
Anggota tim, Elgiva Rasyad Aditya Putra, menjelaskan bahwa REVIVEE menargetkan 3.150 transaksi setiap bulan atau sekitar 105 transaksi per hari.
Berdasarkan proyeksi keuangan yang disusun, platform ini berpotensi menghasilkan pendapatan Rp31.648.500 per bulan dengan beban operasional sekitar Rp26 juta. Dengan demikian, laba bersih yang diproyeksikan mencapai Rp5.648.500 setiap bulan.
“Berdasarkan perhitungan kelayakan bisnis, REVIVEE memiliki proyeksi Return on Investment (ROI) tahunan sebesar 271,13 persen, dengan periode pengembalian modal (Payback Period) sekitar 4,43 bulan atau 133 hari. Sementara itu, titik impas (Break Even Point/BEP) diproyeksikan tercapai pada 2.588 transaksi per bulan,” jelas Elgiva.
Angka tersebut merupakan proyeksi berdasarkan perhitungan kelayakan bisnis yang disusun tim, bukan hasil operasional aktual.
Target Selamatkan 378 Ton Limbah per Tahun
Ke depan, REVIVEE menargetkan perluasan ekosistem ekonomi sirkular dari Solo Raya menuju Semarang dan Yogyakarta. Pengembangan selanjutnya diarahkan ke seluruh wilayah Jawa Tengah hingga menjajaki pasar Jawa Timur.
Pada tahun pertama, tim menargetkan kemitraan dengan 50 pelaku HOREKA dan 100 penerima manfaat. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 200 mitra HOREKA dan 500 penerima manfaat pada tahun kedua.
Dari sisi dampak lingkungan, target 3.150 transaksi setiap bulan diproyeksikan mampu mengurangi limbah hingga 31,5 ton per bulan atau sekitar 378 ton dalam setahun.
Target tersebut diharapkan dapat berkontribusi terhadap pengurangan limbah pangan, peningkatan akses masyarakat terhadap makanan terjangkau, serta penciptaan peluang ekonomi baru bagi para pelaku pengolahan limbah.
Melalui REVIVEE, Tim Dahlan Muda UMS ingin menunjukkan bahwa limbah tidak selalu menjadi akhir dari sebuah proses produksi. Dengan pemanfaatan teknologi AI dan blockchain serta kolaborasi antara industri, masyarakat, dan mitra pengolah, limbah justru dapat menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
Inovasi ini sekaligus menawarkan pendekatan bahwa persoalan lingkungan tidak cukup diselesaikan melalui pengurangan sampah, tetapi juga membutuhkan sistem yang mampu mengubah pola produksi dan konsumsi menjadi lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. (*)

