SOLO, MENARA62.COM — Sejarah tidak cukup hanya dihafalkan sebagai rangkaian peristiwa masa lalu. Di tangan generasi muda, sejarah semestinya menjadi cermin untuk membaca akar perpecahan, memahami keadilan, dan membangun masa depan yang lebih baik.
Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional dan Kajian Akbar IQT Fair XII 2026 yang digelar di Gedung Graha 58 Serbaguna Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Sabtu (26/9/2026).
Mengusung tema “Membaca Sejarah, Membentuk Generasi Berakal: Kuasa, Keadilan, dan Akar Perpecahan”, kegiatan tersebut menjadi bagian puncak IQT Fair XII 2026, ajang kompetisi Al-Qur’an dan keislaman tingkat nasional yang menyasar pelajar SMA/SMK/MA, santri pondok pesantren, mahasiswa, hingga masyarakat umum berusia 15–24 tahun.
Ketua Panitia IQT Fair XII 2026, Muhammad Hidayat Yunus, mengatakan sejarah perlu dibaca secara objektif agar tidak berhenti sebagai pengetahuan tentang masa lampau.
Menurut dia, pemahaman sejarah harus mampu menjadi bekal bagi generasi muda dalam menghadapi persoalan kehidupan, termasuk menjaga keadilan dan mencegah perpecahan di tengah masyarakat.
“Sejarah tidak hanya menjadi pengetahuan tentang masa lalu, tetapi juga harus menjadi bekal dalam membentuk generasi berakal yang mampu menegakkan keadilan serta mengatasi berbagai bentuk perpecahan di tengah masyarakat,” ujarnya, Selasa (29/9/2026).
Menghubungkan akal dan kesadaran spiritual
Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) UMS, Dr. Kharis Nugroho, Lc., M.Ud., menekankan pentingnya membentuk generasi ulul albab, yakni generasi yang menggunakan akal sekaligus memiliki kesadaran spiritual.
Dalam sambutannya, Kharis membacakan Surah Ali Imran ayat 190–191 yang menggambarkan karakter orang-orang berakal. Mereka tidak hanya menggunakan kemampuan berpikir, tetapi juga senantiasa mengingat Allah dan merenungkan penciptaan langit serta bumi.
Menurut Kharis, pesan tersebut relevan dengan tema IQT Fair XII 2026 yang mendorong peserta tidak sekadar membaca sejarah, tetapi mampu mengambil hikmah dari berbagai peristiwa.
Ia juga mengutip pesan gurunya, K.H. Hasan Abdullah Sahal, yang menekankan pentingnya mengambil peran dalam perjalanan sejarah.
“Kita jangan hanya membaca sejarah, tetapi juga harus bisa menciptakan sejarah,” kata Kharis mengutip pesan tersebut.
Pesan itu kemudian dikaitkan dengan kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang memuat pelajaran bagi kehidupan manusia. Berbagai kisah umat terdahulu dan perjalanan peradaban Islam, kata dia, dapat menjadi bahan refleksi untuk memahami dinamika kehidupan dan membangun masa depan.
Sejarah seperti foto
Seminar menghadirkan dua narasumber, yakni seniman dan budayawan Ustadz Doni Riw serta pengajar Qiraat Asyrah, Ustadz Tholhah.
Doni Riw mengajak peserta melihat sejarah dari perspektif yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengibaratkan sejarah seperti sebuah foto yang merekam suatu peristiwa sehingga dapat dilihat kembali pada waktu berbeda.
Menurutnya, sejarah menjadi lebih bermakna ketika manusia menyadari bahwa dirinya juga memiliki keterlibatan dalam rangkaian peristiwa yang terus berlangsung.
“Sejarah itu sama halnya dengan foto, keduanya sama-sama merekam suatu peristiwa yang dapat dilihat kembali pada waktu yang berbeda,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, jika foto mengabadikan peristiwa dalam bentuk gambar, sejarah merekam kejadian masa lalu yang kemudian dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Dengan cara pandang tersebut, sejarah tidak hanya ditempatkan sebagai arsip masa lalu, tetapi sebagai sumber pembelajaran untuk memahami kondisi hari ini.
Belajar sepanjang hayat
Sementara itu, Ustadz Tholhah menyoroti aspek lain yang tidak kalah penting dalam membentuk generasi berakal, yakni tradisi menuntut ilmu.
Ia menyampaikan bahwa belajar merupakan bagian dari ibadah yang berlangsung panjang dalam kehidupan manusia. Proses tersebut dimulai sejak seseorang memasuki fase tamyiz, ketika mulai mampu membedakan hal yang baik dan buruk, hingga akhir hayat.
“Menuntut ilmu itu merupakan salah satu ibadah terpanjang dalam kehidupan manusia, yang dimulai sejak seseorang memasuki fase tamyiz, yakni ketika mulai mampu membedakan hal yang baik dan buruk, hingga akhir hayat,” ujarnya.
Menurut Tholhah, belajar tidak semata-mata berlangsung di ruang kelas atau lembaga pendidikan formal. Kehidupan juga menjadi ruang belajar yang menuntut seseorang untuk terus mengembangkan pengetahuan dan menjaga proses tersebut secara istiqamah.
Empat cabang kompetisi
IQT Fair XII 2026 sebelumnya menggelar kompetisi Al-Qur’an dan keislaman secara daring melalui Zoom pada Ahad (20/9/2026), kemudian dilanjutkan dengan babak final pada Sabtu (26/9/2026).
Kompetisi tersebut mempertandingkan empat cabang, yakni Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), Musabaqah Tilawah Qur’an (MTQ), Pidato Bahasa Indonesia, dan Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (MKTIQ).
Setelah babak final, rangkaian kegiatan berlanjut dengan seminar nasional, kajian akbar, serta pengumuman dan penyerahan penghargaan kepada para pemenang.
Melalui perpaduan kompetisi dan kajian, IQT Fair XII 2026 diarahkan tidak hanya menjadi arena adu kemampuan peserta dalam bidang Al-Qur’an, tetapi juga ruang untuk mengembangkan potensi, wawasan, dan karakter generasi muda.
Kegiatan tersebut diharapkan melahirkan generasi yang berkarakter Qur’ani, berpikir kritis, berwawasan luas, serta mampu menjadikan sejarah dan ilmu sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan. (*)
