27.4 C
Jakarta

Siswa SD Muhammadiyah 14 Surakarta Belajar Tauhid dari Keris

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Keceriaan dan rasa ingin tahu terlihat dari wajah siswa-siswi kelas 3 SD Muhammadiyah 14 Surakarta (SD Maheska) saat menyusuri lorong Museum Keris Nusantara, Surakarta, Selasa (6/10/2026).

 

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari kegiatan study outdoor atau pembelajaran kokurikuler. Para siswa tidak sekadar diajak mengenal keris sebagai senjata tradisional, tetapi juga memahami keris sebagai warisan budaya yang sarat dengan nilai filosofi dan pesan keimanan.

 

Di bawah pendampingan edukator museum, para siswa menyaksikan beragam koleksi keris sekaligus mendengarkan perjalanan sejarah keris Nusantara. Materi disampaikan dengan pendekatan ringan dan dekat dengan dunia anak.

 

Salah satu hal yang menarik perhatian siswa adalah penjelasan mengenai hubungan antara filosofi keris dan nilai tauhid. Para siswa diperkenalkan pada bagaimana leluhur dan ulama di tanah Jawa, termasuk pada era Wali Songo, memanfaatkan simbol-simbol budaya sebagai media dakwah dan pengingat kepada Sang Pencipta.

 

Lekuk Keris dan Pesan Tauhid

 

Dalam kegiatan tersebut, siswa mempelajari sejumlah bagian keris beserta filosofi yang terkandung di dalamnya.

 

Pucuk keris yang mengarah ke atas, misalnya, dimaknai sebagai simbol arah kehidupan manusia yang pada akhirnya tertuju kepada Allah SWT. Ketika keris ditegakkan, ujungnya menunjuk pada satu arah, yakni ke atas.

 

Siswa juga diperkenalkan dengan keris berbilah lurus dan keris luk atau berlekuk. Bilah lurus dikaitkan dengan konsep Siratal Mustaqim, yakni jalan lurus dalam menjalankan perintah agama.

 

Sementara itu, lekuk pada keris dipahami sebagai gambaran dinamika dan ujian kehidupan manusia. Meski perjalanan kehidupan memiliki banyak kelokan, semuanya tetap menuju satu tujuan, yakni Tuhan.

 

Bagian lain yang dikenalkan adalah pesi dan ukiran atau gagang keris. Pesi merupakan bagian yang masuk dan tersembunyi di dalam gagang. Dalam pemaknaan filosofis yang disampaikan kepada siswa, bagian ini diibaratkan sebagai iman atau ruh yang tidak terlihat, tetapi menjadi fondasi kehidupan.

 

Adapun gagang dimaknai sebagai raga. Keduanya harus menyatu agar keris dapat berfungsi, sebagaimana kehidupan manusia yang idealnya menjadikan iman sebagai landasan bagi setiap tindakan.

 

Filosofi curiga manjing warangka atau keris yang masuk ke dalam sarung juga menjadi bagian pembelajaran. Filosofi tersebut dikenalkan sebagai simbol harmoni, kepatuhan, dan sikap berserah diri terhadap ketetapan Allah SWT.

 

Mengubah Cara Pandang terhadap Keris

 

Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan memiliki perspektif yang lebih utuh tentang keris. Keris tidak hanya dipahami sebagai benda peninggalan masa lalu atau dikaitkan dengan kepercayaan mengenai kekayaan, kecantikan, maupun keberuntungan.

 

Sebaliknya, keris diperkenalkan sebagai warisan budaya yang dapat menjadi sarana memahami nilai-nilai luhur yang berkembang di masyarakat Nusantara.

 

Pembelajaran tersebut juga menjadi upaya mempertemukan pendidikan budaya dengan pendidikan karakter dan keimanan. Dengan metode belajar langsung di museum, siswa memperoleh pengalaman yang tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga reflektif.

 

Sepulang dari Museum Keris Nusantara, para siswa membawa lebih dari sekadar ingatan tentang bentuk bilah dan keindahan pamor keris. Mereka juga mendapatkan pemahaman bahwa merawat warisan budaya berarti turut menjaga nilai-nilai keluhuran yang diwariskan para pendahulu.

 

Kegiatan kokurikuler SD Maheska itu pun menjadi contoh pembelajaran di luar kelas yang ringan dan menyenangkan, tetapi tetap memberikan ruang bagi siswa untuk mengenal budaya sekaligus merefleksikan nilai ketauhidan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!