SRAGEN, MENARA62.COM – Inovasi teknologi untuk membantu petani cabai mengantarkan Dionisian Viva Manuskripta, siswa kelas 9H Saintek SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta, meraih juara 1 kategori SMP tingkat nasional dalam Indonesia STEM Project Olympiad (ISPO) 2026.
Dionisian berhasil meraih prestasi tersebut melalui penelitian berjudul Sistem Monitoring Kelembaban Tanah dan Penyiraman Tanaman Cabai Berbasis IoT. Kompetisi ini digelar dalam rangka Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Festival oleh SMA Trensains Muhammadiyah Sragen, Sabtu (10/10/2026).
Ajang tersebut diikuti puluhan tim dari berbagai daerah di Indonesia. Di tengah persaingan itu, Dionisian menunjukkan bahwa teknologi yang dipelajari di bangku sekolah dapat dikembangkan menjadi solusi nyata bagi persoalan pertanian.
Bagi Dionisian, pencapaian tersebut bukan sekadar kemenangan dalam kompetisi. Ia ingin menghasilkan teknologi yang memberikan manfaat langsung bagi petani, khususnya petani cabai yang menghadapi tantangan dalam menjaga kelembapan tanah dan mengatur penyiraman tanaman.
“Saya ingin membuat sesuatu yang berguna bagi petani, terutama yang menanam cabai,” ujarnya.
Menurut Dionisian, penyiraman yang tidak tepat menjadi salah satu persoalan yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman cabai dan meningkatkan risiko gagal panen. Karena itu, ia mengembangkan sistem pemantauan kelembapan tanah berbasis Internet of Things (IoT) yang dapat bekerja secara otomatis.
“Cabai sering kali gagal panen karena penyiraman yang tidak tepat. Sistem yang saya buat bisa memantau kelembapan tanah secara real-time lewat sensor IoT, lalu otomatis menyiram tanaman ketika tanah terlalu kering. Dengan begitu, petani tidak perlu khawatir dan bisa menghemat air,” jelasnya.
Sensor IoT Pantau Kelembapan Tanah secara Real-Time
Sistem rancangan Dionisian mengandalkan sensor kelembapan tanah yang terhubung dengan mikrokontroler dan platform IoT. Sensor tersebut membaca kondisi tanah, kemudian mengirimkan data yang dapat dipantau melalui aplikasi.
Ketika kelembapan tanah berada di bawah ambang batas yang telah ditentukan, sistem akan mengaktifkan pompa air secara otomatis. Sebaliknya, penyiraman dapat dihentikan ketika kondisi tanah telah memenuhi parameter yang ditetapkan.
Melalui mekanisme tersebut, petani berpeluang mengatur kebutuhan air tanaman secara lebih terukur. Sistem ini juga dapat membantu mengurangi penyiraman berlebihan maupun keterlambatan penyiraman akibat pemantauan yang masih dilakukan secara manual.
Inovasi ini sekaligus menunjukkan penerapan pembelajaran sains, teknologi, dan matematika dalam sebuah proyek yang berorientasi pada pemecahan masalah. Pengetahuan yang diperoleh di kelas diterjemahkan menjadi perangkat teknologi dengan potensi penggunaan di sektor pertanian.
Meski telah meraih juara nasional, Dionisian masih ingin menyempurnakan karyanya. Ia berharap sistem tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut hingga bisa diterapkan langsung di lahan pertanian dan memberikan manfaat bagi petani.
“Saya masih ingin belajar lebih banyak tentang IoT dan pertanian cerdas. Juara 1 ini menjadi motivasi agar saya tidak berhenti berkarya,” tuturnya.
Bukti Pelajar Mampu Hadirkan Inovasi Pertanian
Prestasi Dionisian menambah daftar capaian SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta di bidang STEM. Keberhasilannya juga memperlihatkan bahwa pelajar dapat mengambil peran dalam menghadirkan inovasi teknologi yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.
Melalui proyek pemantauan kelembapan tanah dan penyiraman otomatis, Dionisian tidak hanya mengembangkan kemampuan teknis, tetapi juga mengasah kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi petani.
Ke depan, pengembangan teknologi serupa berpotensi mendukung pertanian cerdas yang lebih efisien dalam penggunaan air dan memanfaatkan data untuk membantu pengambilan keputusan.
Bagi Dionisian, gelar juara 1 nasional ISPO 2026 menjadi langkah awal untuk terus belajar, berinovasi, dan membuktikan bahwa karya pelajar dapat berkontribusi bagi kemajuan pertanian Indonesia. (*)
