32.9 C
Jakarta

Tanwir I HW, Agung Danarto Serukan Revolusi Organisasi

Baca Juga:

METRO LAMPUNG, MENARA62.COM — Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) didorong meninggalkan pola pembinaan lama dan melakukan revitalisasi organisasi agar lebih relevan dengan perkembangan zaman. Digitalisasi, kreativitas program, hingga percepatan regenerasi kader dinilai menjadi kunci menarik minat generasi muda.

 

Dorongan tersebut disampaikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto dalam Tanwir I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan 2026 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro), Lampung, Kamis (8/10/2026).

 

Agung mengatakan, Tanwir I harus menjadi momentum bagi HW untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus merumuskan strategi baru menghadapi tantangan generasi muda.

 

Menurut dia, HW memiliki sejarah panjang yang tidak boleh sekadar menjadi catatan masa lalu. Gerakan kepanduan yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada 1918 itu sempat bergabung dengan gerakan kepanduan nasional pada 1961, sebelum kembali dihidupkan pada 1999.

 

“Kalau Hizbul Wathan hanya berputar kepada pembinaan-pembinaan yang sifatnya klasik, terbatas kepada pelatihan baris-berbaris, tali-temali, semaphore, mendirikan tenda, kalau sebatas hanya itu mungkin minat anak muda akan semakin menurun,” ujar Agung.

 

Digitalisasi Jadi Keharusan

 

Agung menilai, perubahan karakter generasi muda menuntut HW menghadirkan pendekatan pembinaan yang lebih kreatif dan kontekstual.

 

Karena itu, digitalisasi, teknologi informasi, dan media sosial perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi pengembangan organisasi.

 

Menurutnya, teknologi tidak semestinya dipandang sebagai ancaman terhadap tradisi kepanduan. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan dakwah kepanduan, memperkuat komunikasi kader, sekaligus memperkenalkan HW kepada generasi muda dengan cara yang lebih sesuai dengan kehidupan mereka.

 

Transformasi program juga dinilai penting agar aktivitas HW tidak berhenti pada keterampilan kepanduan konvensional, tetapi berkembang menjadi ruang pembelajaran yang membekali kader dengan kreativitas, kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, dan kecakapan menghadapi perubahan zaman.

 

Regenerasi Kader Harus Dipercepat

 

Selain digitalisasi, Agung menekankan pentingnya percepatan regenerasi kepemimpinan di tubuh HW.

 

Kader muda, kata dia, perlu diberikan ruang lebih luas untuk terlibat dalam kepemimpinan maupun proses pengambilan keputusan organisasi.

 

Regenerasi bukan sekadar pergantian figur, tetapi bagian dari upaya memastikan HW memiliki energi baru dan mampu memahami kebutuhan generasi yang terus berubah.

 

Di sisi lain, Agung mengingatkan agar pembaruan HW tidak menghilangkan nilai dasar yang menjadi identitas organisasi. Semangat membela tanah air harus tetap menjadi bagian penting dari gerakan kepanduan.

 

Namun, semangat tersebut harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan berhenti sebagai slogan.

 

Tanwir I HW 2026 diharapkan mampu menghasilkan gagasan strategis yang dapat diterjemahkan menjadi program konkret. Dengan demikian, HW tidak hanya mempertahankan warisan sejarahnya, tetapi juga mampu tampil sebagai organisasi kepanduan yang modern, kuat, adaptif, dan dekat dengan generasi muda. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!