SOLO, MENARA62.COM – Perkembangan kecerdasan buatan (AI), gejolak geopolitik global, hingga penggunaan nanomaterial mulai mengubah wajah industri manufaktur. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ untuk memahami bagaimana kapasitas dan sistem manufaktur dirancang agar tetap adaptif terhadap perubahan.
Hal itu dibahas dalam Kuliah Umum Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik (FT) UMS bertema “Perencanaan Kapasitas dan Sistem Manufaktur untuk Inovasi Desain Produk Berbasis Nanomaterial” di Ruang Meeting Lantai 2 Gedung Edutorium K.H. Ahmad Dahlan UMS, Rabu (16/9/2026).
Kuliah umum tersebut menghadirkan dua akademisi yang memiliki kepakaran di bidang perencanaan kapasitas dan sistem manufaktur, yakni Prof. Ir. Alva Edy Tontowi, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, serta Prof. Dr. Ir. Cucuk Nur Rosyidi, S.T., M.T., Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Kepala Program Studi Teknik Industri UMS Siti Nandiroh, S.T., M.Eng., mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas pemahaman tentang perencanaan manufaktur melalui pengalaman dan hasil riset para narasumber.
“Kami ucapkan terima kasih kepada dua narasumber yang telah menyempatkan waktu untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan teman-teman mahasiswa teknik UMS, meskipun di tengah agenda kesibukannya yang sangat padat,” ujar Siti.
Ia mendorong mahasiswa aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan agar dapat menggali lebih dalam pengalaman serta wawasan yang dimiliki para pemateri.
Menurut Siti, kuliah umum tersebut menjadi bagian dari upaya Prodi Teknik Industri UMS memperkuat kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja. Wawasan mengenai sistem manufaktur dan manajemen kapasitas dinilai penting karena industri terus menghadapi perubahan teknologi dan kebutuhan pasar.
AI hingga Geopolitik Ubah Industri Manufaktur
Sesi pertama disampaikan Prof. Alva Edy Tontowi dan dipandu moderator Noor Fitriyani Ramadhani. Alva mengawali pemaparannya dengan membahas perubahan dunia industri manufaktur yang dipengaruhi perkembangan teknologi, termasuk kemunculan AI.
“Perkembangan teknologi yang kemudian memunculkan AI, menjadi faktor utama yang mengubah tatanan dunia. Bahkan diprediksikan pada tahun 2030 nanti, taraf kinerja otak AI setara dengan taraf kinerja otak manusia,” tutur Alva.
Ia mengatakan prediksi tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi, terutama karena perkembangan AI berpotensi memengaruhi pembagian peran antara manusia dan teknologi dalam dunia kerja.
Selain teknologi, dinamika geopolitik global juga disebut turut memberikan dampak terhadap industri manufaktur. Menurut Alva, sejumlah negara berupaya mengamankan aset dan produk strategis untuk memenuhi kebutuhan domestiknya.
“Industri manufaktur terganggu dengan pergulatan geopolitik dunia, kebanyakan negara menahan produk negaranya untuk dikirimkan ke negara lain, agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya,” ujarnya.
Nanomaterial Butuh Desain dan Perencanaan Matang
Dalam konteks desain produk berbasis nanomaterial, Alva menjelaskan pentingnya memahami ukuran material yang digunakan. Nanomaterial umumnya berada pada rentang ukuran sekitar 1 hingga 100 nanometer.
Salah satu contoh penerapannya dapat ditemukan pada chipset telepon seluler yang tersusun dari berbagai material berukuran sangat kecil.
Menurut Alva, perancangan produk juga harus diawali dengan penentuan orientasi dan tujuan produk secara jelas. Hal tersebut diperlukan agar pengembangan produk dapat dilakukan secara berkelanjutan dan menghasilkan berbagai pilihan spesifikasi sesuai kebutuhan.
“Berawal dari desain, pembuatan model atau prototyping yang kemudian diuji coba, hingga dapat dianalisis kekurangan dari suatu produk yang diinginkan sebuah perusahaan tersebut,” jelasnya.
Tak hanya aspek desain dan efisiensi produksi, Alva turut menyoroti persoalan pengelolaan limbah industri. Menurut dia, perusahaan perlu bertanggung jawab terhadap limbah yang dihasilkan dari aktivitas produksinya.
“Sampah seharusnya ditanggung oleh perusahaannya sendiri. Karena penggunaan teknologi yang bersih menjadi kunci utama untuk meningkatkan value sebuah perusahaan,” paparnya.
Tiga Jenis Kapasitas dalam Industri
Sementara itu, Prof. Cucuk Nur Rosyidi membahas pentingnya manajemen kapasitas dalam proses perencanaan produk dan sistem produksi.
Mengawali pemaparannya, Cucuk mengutip QS Yunus ayat 61 untuk menggambarkan bahwa terdapat berbagai hal di alam yang berada pada ukuran sangat kecil dan tidak seluruhnya dapat ditangkap oleh keterbatasan penglihatan manusia.
“Perlu kita syukuri bersama bahwa kita diberi batasan penglihatan oleh Allah, karena dengan kemampuan melihat objek material kecil bisa jadi membuat manusia rumit dalam hidup,” jelasnya.
Dalam perspektif industri, Cucuk kemudian mengaitkan keterbatasan tersebut dengan pentingnya memahami kapasitas sistem produksi.
“Kapasitas merepresentasikan kapabilitas suatu sistem untuk menghasilkan barang di pabrik, lini produksi, atau seluruh fasilitas manufaktur. Maka, sangat penting sekali untuk memanajemen kapasitas,” tambahnya.
Ia menjelaskan terdapat tiga tipe kapasitas yang perlu dipahami dalam industri.
Pertama, kapasitas desain, yakni jumlah output maksimal yang dapat dihasilkan mesin dalam kondisi ideal. Kedua, kapasitas efektif, yaitu kapasitas yang telah memperhitungkan berbagai kendala dalam operasional perusahaan.
Ketiga, kapasitas aktual, yakni kemampuan produksi yang benar-benar dapat dicapai oleh suatu sistem produksi.
Melalui kuliah umum tersebut, mahasiswa Teknik Industri UMS mendapatkan perspektif mengenai keterkaitan antara desain produk, teknologi nanomaterial, kapasitas produksi, efisiensi energi, pengelolaan limbah, hingga dinamika industri manufaktur global.
Materi tersebut sekaligus memperluas pemahaman mahasiswa bahwa perencanaan sistem manufaktur tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana sistem tersebut dirancang agar mampu merespons perkembangan teknologi, kebutuhan konsumen, dan tantangan keberlanjutan. (*)
