SOLO, MENARA62.COM — Festival literasi tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan buku dan aktivitas membaca. Di tengah gelaran Solo Literasi Festival 2026, komunitas TransId membawa gagasan untuk mempertemukan mahasiswa dengan anak-anak melalui perpustakaan kampung di Kota Surakarta.
Gagasan tersebut diperkenalkan TransId dalam Solo Literasi Festival 2026 yang berlangsung di Rumah Kabudayan Ndalem Djojokoesoeman, Gajahan, Kecamatan Pasarkliwon, Surakarta, Kamis-Sabtu (17-19/9/2026).
Salah satu pengisi stan TransId, Hassan, mengatakan komunitasnya mengajak mahasiswa untuk turun langsung ke perpustakaan kampung. Mahasiswa tidak hanya ditempatkan sebagai pembaca, tetapi juga sebagai teman belajar bagi anak-anak.
“Kita mengajak teman-teman mahasiswa untuk turun ke perpustakaan kampung yang ada di Kota Surakarta,” ujar Hassan.
Menurut Hassan, gagasan tersebut berangkat dari dua persoalan yang berbeda tetapi dapat dipertemukan melalui aktivitas literasi. Di satu sisi, banyak mahasiswa yang menghadapi kegelisahan mengenai masa depan, karier, dan kehidupan setelah kuliah.
Di sisi lain, anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap berbagai hal, tetapi tidak selalu mendapatkan lingkungan yang mampu mengembangkan rasa ingin tahu tersebut.
“Mahasiswa bisa menurunkan anxiety-nya dan anak-anak juga bisa menaikkan keinginan tahunya,” katanya.
Pertemuan antara mahasiswa dan anak-anak di perpustakaan kampung, lanjut Hassan, diharapkan menjadi ruang belajar dua arah. Mahasiswa dapat berbagi pengetahuan sekaligus memperoleh pengalaman berinteraksi dengan anak-anak.
Sementara itu, anak-anak didorong untuk lebih berani bertanya, mencoba, dan mengenal berbagai pengetahuan di luar lingkungan kesehariannya.
Bagi TransId, perpustakaan kampung memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan masyarakat. Ruang tersebut dapat dikembangkan bukan sekadar tempat menyimpan atau meminjam buku, melainkan menjadi ruang interaksi dan tumbuh bersama.
Kehadiran TransId di Solo Literasi Festival 2026 sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan gerakan tersebut kepada masyarakat dan komunitas literasi lainnya.
Hassan mengajak masyarakat untuk datang langsung ke festival yang berlangsung hingga Sabtu (19/9/2026) di Rumah Kabudayan Ndalem Djojokoesoeman.
Jangan Takut Bermimpi
Tidak hanya berbicara tentang gerakan komunitas, Hassan juga menyampaikan pesan khusus bagi anak-anak sekolah, terutama siswa sekolah dasar.
Ia mengingatkan anak-anak agar tidak takut memiliki mimpi. Menurutnya, salah satu cara memperluas wawasan adalah dengan memperbanyak membaca dan berdiskusi dengan teman.
“Pesannya untuk teman-teman SD, jangan takut bermimpi. Banyakin membaca dan mengobrol dengan teman supaya pengetahuanmu lebih luas,” tuturnya.
Hassan juga mengingatkan agar anak-anak tidak hanya terpaku pada gawai. Menurut dia, membaca buku, berbincang, dan berinteraksi dengan lingkungan dapat membantu anak mengenal dunia secara lebih luas.
“Jangan terkungkung dengan HP saja, sehingga kamu bisa tahu dunia lebih luas seperti apa,” katanya.
Solo Literasi Festival 2026 sendiri menjadi ruang pertemuan bagi berbagai komunitas di Surakarta yang bergerak di bidang literasi dan bidang terkait lainnya. Melalui pertemuan tersebut, literasi diharapkan tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi berkembang menjadi gerakan kolaboratif yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Bagi TransId, perpustakaan kampung menjadi salah satu pintu untuk mewujudkan gagasan tersebut: mempertemukan mahasiswa dan anak-anak dalam ruang belajar yang sederhana, terbuka, dan saling menguatkan. (*)
