SOLO, MENARA62.COM – Pemanfaatan teknologi digital dalam pendidikan jasmani tidak cukup hanya berorientasi pada kecanggihan perangkat. Teknologi harus mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran, menjamin aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, serta membantu guru mencapai tujuan pembelajaran secara terukur.
Pesan tersebut mengemuka dalam perkuliahan Mata Kuliah Teknologi Pembelajaran pada Program Magister Pendidikan Jasmani UMS, Jumat (30/10/2026). Perkuliahan yang diampu Dr. Nur Subekti dan Prof. Dr. Anam Sutopo tersebut diisi presentasi dua kelompok mahasiswa dengan fokus pada teori belajar digital, asesmen berbasis teknologi, dan pendidikan jasmani inklusif.
Presentasi pertama disampaikan Kelompok 1 yang beranggotakan Arief Samudiyanto dan Muhammad Fadlil Azhim. Keduanya mengangkat materi Landasan Konseptual dan Teori Belajar Digital, Sintesis Teori Belajar Digital dan Analisis Kesiapan Guru Olahraga dalam Kurikulum Nasional.
Materi tersebut membahas landasan teori pembelajaran digital sekaligus tantangan kesiapan guru olahraga dalam menghadapi transformasi teknologi di dunia pendidikan. Kompetensi guru tidak lagi cukup bertumpu pada kemampuan pedagogis konvensional, tetapi perlu diperkuat dengan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta pemahaman etika akademik.
Sementara itu, Kelompok 4 yang terdiri atas Wisnu Cahyo Dewo, Aditya Bagas Pratama, dan Miranda Aglaya Aulia mempresentasikan materi Asesmen Berbasis Teknologi dan PJOK Inklusif: Rancangan Instrumen Asesmen Gerak Berbasis Sensor/AI dan Strategi Aksesibilitas Siswa Disabilitas.
Pembahasan kelompok ini menyoroti pemanfaatan teknologi sensor dan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung asesmen gerak sekaligus menciptakan pembelajaran pendidikan jasmani yang lebih ramah bagi peserta didik penyandang disabilitas.
Salah satu poin penting yang disampaikan adalah pemanfaatan perangkat pintar, aplikasi kebugaran, dan video latihan untuk membantu individu dengan gangguan mobilitas melakukan aktivitas fisik secara lebih aman, fleksibel, dan sesuai kemampuan masing-masing.
Namun, penggunaan teknologi tersebut harus disertai desain yang mudah diakses, pendampingan tenaga profesional, serta penyesuaian program berdasarkan kondisi dan kebutuhan individu.
Teknologi Bukan Sekadar Alat Pembelajaran
Menanggapi kedua presentasi, Dr. Nur Subekti menekankan pentingnya perubahan cara pandang terhadap teknologi. Menurutnya, teknologi saat ini tidak lagi dapat dipahami sebatas mesin atau perangkat fisik, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari proses digitalisasi yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan olahraga.
Ia mengingatkan bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran harus memiliki tujuan yang jelas. Teknologi tidak semestinya hanya digunakan untuk membuat kegiatan belajar terlihat lebih menarik atau menjadi sarana hiburan, tetapi harus memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian kompetensi peserta didik.
Efektivitas, efisiensi, dan aspek ekonomis menjadi tiga pertimbangan penting dalam menentukan kemanfaatan suatu teknologi. Penggunaan teknologi perlu mampu menyederhanakan pekerjaan, menghemat tenaga, serta memberikan hasil pembelajaran yang lebih optimal.
Selain itu, literasi digital dan etika akademik menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki guru. Kemudahan memperoleh informasi melalui internet maupun AI harus diimbangi kemampuan memeriksa validitas informasi, memilah sumber yang kredibel, dan mempertanggungjawabkan penggunaannya secara akademik.
Dr. Nur Subekti juga mendorong guru pendidikan jasmani dan pelatih olahraga agar tidak berhenti sebagai pengguna teknologi. Mereka perlu mulai mengembangkan atau memodifikasi teknologi berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.
Dengan demikian, inovasi yang dihasilkan tidak sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar menjawab persoalan pembelajaran dan pelatihan olahraga.
Inklusi Digital Perlu Menjamin Kesetaraan Akses
Aspek lain yang mendapat perhatian dalam perkuliahan tersebut adalah penerapan teknologi untuk mendukung pendidikan jasmani inklusif. Teknologi harus dirancang agar dapat dimanfaatkan seluruh peserta didik, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik atau gangguan mobilitas.
Dalam kesimpulan presentasi Kelompok 4, Miranda Aglaya Aulia menegaskan bahwa teknologi memiliki peran penting dalam memperluas kesempatan aktivitas fisik bagi penyandang gangguan mobilitas.
Perangkat digital, aplikasi kebugaran, video latihan, dan teknologi pendukung lainnya dapat membantu mereka memperoleh akses aktivitas fisik yang lebih aman dan fleksibel.
Namun, keberhasilan penerapannya membutuhkan pendekatan inklusif melalui desain teknologi yang aksesibel, pendampingan profesional, serta penyesuaian aktivitas berdasarkan kebutuhan dan kemampuan setiap individu.
Menurut Miranda, teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi juga dapat mendorong peningkatan kesehatan, kemandirian, partisipasi sosial, dan kualitas hidup penyandang disabilitas.
Penerapan inklusi digital dalam pendidikan jasmani diharapkan mampu menciptakan kesempatan beraktivitas fisik yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat.
Melalui diskusi dan presentasi tersebut, mahasiswa Magister Pendidikan Jasmani tidak hanya didorong memahami perkembangan teknologi, tetapi juga mengembangkan perspektif kritis dalam penerapannya.
Perkuliahan ini menegaskan bahwa masa depan pendidikan jasmani membutuhkan guru dan tenaga profesional yang adaptif, memiliki literasi digital, menjunjung etika akademik, serta mampu menghadirkan inovasi teknologi yang efektif, ekonomis, dan inklusif. (*)

