SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ memberikan penghargaan kepada pimpinan daerah, cabang, ranting, serta dosen dan tenaga kependidikan yang berkontribusi dalam mengembangkan Persyarikatan Muhammadiyah di wilayah Solo Raya. Apresiasi tersebut diberikan melalui Muhammadiyah Organizational Excellence Award (MOEA) 2026 dalam rangka Hari Jadi ke-68 UMS.
Penghargaan diserahkan di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Minggu (18/10/2026), sebelum pelaksanaan Tabligh Akbar yang menghadirkan pendakwah Ustadz Dr. H. Das’ad Latif, M.Si.
Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Ketua Lembaga Pengembangan Persyarikatan, Pengkaderan, dan Alumni (LP3A) UMS, Dr. Bambang Sukoco, S.H., M.H., bersama Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., beserta jajaran universitas.
Ketua LP3A UMS Bambang Sukoco mengatakan, MOEA menjadi bentuk apresiasi universitas terhadap kontribusi berbagai unsur Muhammadiyah, mulai dari tingkat daerah, cabang, hingga ranting, termasuk peran dosen dan tenaga kependidikan UMS dalam memajukan organisasi.
“Jadi dalam rangka Hari Jadi UMS ke-68, UMS menyelenggarakan MOEA untuk perkembangan Persyarikatan, mulai dari pimpinan daerah, pimpinan cabang, hingga pimpinan ranting se-Solo Raya,” jelas Bambang, Senin (19/10/2026).
MOEA 2026 Jangkau Lebih Banyak Peserta
Bambang menjelaskan, MOEA 2026 merupakan penyelenggaraan kedua setelah program serupa dilaksanakan pada tahun sebelumnya. Pada tahun ini, cakupan peserta diperluas dengan tahapan penilaian yang lebih terstruktur.
Penghargaan tersebut mencakup empat kategori, yakni Pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Program Inspiratif Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pertumbuhan Organisasi Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), serta Kontribusi Dosen dan Tenaga Kependidikan UMS dalam Pengembangan Persyarikatan dan AUM.
Menurut Bambang, setiap kategori memiliki peran strategis dalam memperkuat organisasi. Salah satu perhatian utama ialah mendorong dosen dan tenaga kependidikan UMS agar tidak hanya berkiprah di lingkungan kampus, tetapi juga berkontribusi aktif dalam kegiatan Muhammadiyah di wilayah tempat tinggal masing-masing.
“Dorongannya adalah setiap dosen dan tenaga kependidikan UMS itu berkontribusi di Persyarikatan di mana mereka tinggal. Di cabang, di ranting, di amal usaha,” ungkapnya.
Salah satu praktik inspiratif yang mendapat perhatian dalam kategori pertumbuhan organisasi ialah kegiatan rutin PRM Mranggen, Klaten. Organisasi tingkat ranting tersebut menggerakkan warga untuk melaksanakan salat tahajud dan salat Subuh berjamaah secara bergiliran di masjid-masjid.
Kegiatan yang dilaksanakan setiap selapan atau 35 hari sekali itu disebut mampu menghimpun lebih dari 800 peserta. Program tersebut menjadi contoh upaya menghidupkan kegiatan keagamaan sekaligus memperkuat kebersamaan warga Muhammadiyah.
Ini Daftar Penerima Penghargaan MOEA 2026
Dalam MOEA 2026, sejumlah pimpinan Muhammadiyah dan sivitas akademika UMS mendapatkan pengakuan atas kontribusi mereka dalam mengembangkan organisasi.
Berikut penerima penghargaan dan nominasi dalam empat kategori MOEA 2026:
1. Kategori Pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah
* PDM Surakarta: nominator Pengelolaan AUM Terbaik.
2. Kategori Persentase Dosen dan Tenaga Kependidikan Berdampak Terbanyak
* PDM Sukoharjo.
3. Kategori Program Inspiratif Pimpinan Cabang Muhammadiyah
* Terbaik pertama: PCM Weru, Sukoharjo.
* Terbaik kedua: PCM Kebakkramat, Karanganyar.
* Terbaik ketiga: PCM Gemolong, Sragen.
4. Kategori Pertumbuhan Organisasi Pimpinan Ranting Muhammadiyah
* Terbaik pertama: PRM Mranggen, Klaten.
* Terbaik kedua: PRM Potronayan, Boyolali.
* Terbaik ketiga: PRM Bancak, Karanganyar.
5. Kategori Kontribusi Dosen dan Tenaga Kependidikan UMS dalam Pengembangan Persyarikatan dan AUM
* Terbaik pertama: Sapto Hary Surya Wibowo, S.T., M.Kom.
* Terbaik kedua: Muhammad Halim Kusuma, S.Pd., M.Pd.
* Terbaik ketiga: Muhammad Ardian Nursetyawan, S.P.
Penerima Penghargaan Sebut Kerja Kolektif Kunci Kemajuan
Salah satu penerima penghargaan, Muhammad Halim Kusuma, S.Pd., M.Pd., yang meraih posisi terbaik kedua dalam kategori kontribusi dosen dan tenaga kependidikan UMS, menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan semata-mata pencapaian pribadi.
Menurutnya, kontribusi dalam Persyarikatan merupakan hasil kerja bersama yang sejalan dengan prinsip kepemimpinan kolektif kolegial di Muhammadiyah.
“Ini bukan prestasi individu, tetapi kerja keras bersama. Sesuai dengan prinsip kepemimpinan di Persyarikatan Muhammadiyah yang kolektif kolegial,” ungkap Halim.
Halim saat ini mengemban sejumlah amanah organisasi. Di tingkat ranting, ia menjabat Wakil Ketua PRM Dukuh Sentono, Ceper, Klaten, yang membidangi Majelis Pustaka dan Informasi (MPI). Di tingkat cabang, ia dipercaya sebagai Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PCM Ceper.
Ia juga menjadi anggota Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) di tingkat daerah dan wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah.
Selain itu, Halim aktif dalam Kepanduan Hizbul Wathan sebagai Wakil Ketua Qabilah bidang pendidikan dan pelatihan, sekaligus pembina Kafilah Hizbul Wathan Penuntun Moh. Djazman UMS.
Pengabdiannya juga mencakup Pemuda Muhammadiyah. Ia turut mengemban amanah dalam Badan Pembina Operasional (BPO) KOKAM Jawa Tengah, khususnya pada bidang kedisiplinan anggota.
Halim menuturkan, keterlibatannya dalam Muhammadiyah telah dimulai sejak kecil melalui lingkungan keluarga dan proses kaderisasi di organisasi otonom. Pengalaman tersebut membentuk komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan Persyarikatan.
Ia berharap penghargaan MOEA 2026 tidak berhenti sebagai bentuk pengakuan, tetapi menjadi dorongan bagi seluruh penerima dan kader Muhammadiyah untuk meningkatkan pengabdian.
“Apresiasi ini hendaknya menjadi motivasi dan tidak berhenti sampai di sini. Ke depannya, semoga kita bisa meningkatkan peran bersama untuk kerja-kerja kolektif Persyarikatan. Mari bersama-sama membangun Persyarikatan yang kita cintai ini,” tuturnya.
Melalui MOEA 2026, UMS berharap kontribusi pimpinan daerah, cabang, ranting, serta sivitas akademika dapat terus berkembang. Penghargaan ini sekaligus menjadi upaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan Persyarikatan Muhammadiyah dalam menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. (*)
