SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memperkuat perannya dalam meningkatkan profesionalisme calon guru di kawasan Asia Tenggara melalui partisipasi dalam SEAMEO Executive Meeting 2026 di Hotel Seda Manila, Filipina, pada 20–21 Oktober 2026.
Forum yang diselenggarakan bersama The Philippine Normal University tersebut diikuti sekitar 245 peserta dari negara-negara anggota SEAMEO. Pertemuan ini menjadi ajang evaluasi program kerja sama pendidikan, terutama SEA Teacher, yang memfasilitasi praktik mengajar lintas negara bagi mahasiswa calon guru.
Delegasi UMS dipimpin Wakil Rektor I Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D. Delegasi juga melibatkan perwakilan Kepala Lembaga Inovasi Pembelajaran Koesoemo Ratih, S.Pd., M.Hum., Ph.D., serta Wakil Dekan IV Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Dr. Muhammad Khalid.
Dekan FKIP UMS, Prof. Dr. Anam Sutopo, S.Pd., M.Hum., menjelaskan bahwa pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi pelaksanaan program sekaligus merumuskan strategi peningkatan kualitas pendidikan guru di tingkat ASEAN.
“Pertemuan ini mengevaluasi program-program yang telah dilaksanakan, terutama SEA Teacher. Melalui program ini, perguruan tinggi saling mengirim dan menerima mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman praktik mengajar di negara lain,” kata Anam, Rabu (21/10/2026).
Menurut dia, program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan mengajar, tetapi juga memperluas wawasan calon guru mengenai budaya dan kehidupan masyarakat di kawasan Asia Tenggara.
SEA Teacher Bekali Calon Guru Pengalaman Internasional
Program SEA Teacher merupakan inisiatif SEAMEO yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa calon guru untuk menjalani praktik mengajar di negara mitra. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa dapat mengembangkan kompetensi pedagogis sekaligus mempelajari sistem pendidikan, karakteristik peserta didik, dan lingkungan sekolah yang berbeda dari negara asalnya.
Dalam program ini, mahasiswa terlibat dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), pemilihan metode dan media pembelajaran, hingga pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas.
Mereka juga berkesempatan memahami perbedaan bahasa, tradisi, makanan, pola komunikasi, serta kebiasaan masyarakat di negara tempat praktik mengajar berlangsung.
UMS sendiri telah mengirimkan mahasiswa untuk mengikuti praktik mengajar di sejumlah perguruan tinggi di Filipina, antara lain Aklan Catholic University, Cavite University, dan Aklan State University. Sebaliknya, mahasiswa dari negara mitra juga memperoleh kesempatan mengenal sistem pendidikan dan budaya Indonesia.
Anam menilai pengalaman lintas budaya tersebut menjadi bekal penting bagi calon guru untuk menghadapi tantangan pendidikan yang semakin terbuka dan beragam.
“Calon guru tidak cukup hanya memiliki kemampuan merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Mereka juga perlu mengenal, memahami, dan mampu beradaptasi dengan perbedaan bahasa maupun budaya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengalaman internasional dapat memperluas perspektif mahasiswa terhadap kawasan ASEAN sekaligus membentuk karakter warga dunia atau global citizen.
Kendala Bahasa Jadi Bahan Evaluasi
Meski memberikan manfaat bagi pengembangan kompetensi calon guru, pelaksanaan SEA Teacher masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kendala bahasa, terutama ketika mahasiswa berinteraksi dengan guru dan peserta didik yang belum memiliki kemampuan bahasa Inggris memadai.
Penggunaan bahasa lokal, perbedaan pola komunikasi, serta proses adaptasi terhadap budaya setempat turut memengaruhi pengalaman mahasiswa selama menjalani praktik mengajar di negara mitra.
Berbagai tantangan tersebut menjadi bahan evaluasi dalam SEAMEO Executive Meeting 2026. Hasil evaluasi diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan strategi untuk mempersiapkan mahasiswa sebelum mengikuti program mobilitas internasional.
Selain evaluasi program, forum tersebut menghadirkan konferensi dan sesi berbagi praktik baik (best practices) dari sejumlah negara. Para peserta bertukar pengalaman mengenai strategi perguruan tinggi dalam mengoptimalkan SEA Teacher untuk meningkatkan kompetensi calon guru.
Pertemuan itu juga membuka peluang pengembangan kerja sama antarlembaga pendidikan, termasuk melalui penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) sebagai landasan pertukaran mahasiswa dan pelaksanaan praktik mengajar lintas negara.
UMS Fokus Wujudkan Kerja Sama yang Berdampak
Bagi UMS, penguatan kerja sama internasional tidak cukup dilakukan dengan menambah jumlah dokumen kesepakatan. Universitas tersebut mendorong agar setiap kerja sama dapat diwujudkan dalam program nyata dan berkelanjutan.
“UMS sudah memiliki banyak MoU. Karena itu, sesuai arahan Rektor agar tidak ada sleeping MoU, kami lebih berfokus pada penguatan implementasi kerja sama,” kata Anam.
Implementasi tersebut, lanjut dia, dapat berupa program visiting professor, konferensi bersama, publikasi ilmiah kolaboratif, penelitian bersama, hingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Pendekatan ini sejalan dengan upaya UMS memperluas jejaring akademik internasional sekaligus mengintegrasikan kerja sama dengan pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Keterlibatan Wakil Rektor I dalam delegasi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi pengembangan kerja sama internasional yang terintegrasi dengan agenda akademik dan riset universitas.
Pada hari kedua, forum dilanjutkan dengan penyusunan rekomendasi sebagai acuan bagi anggota SEAMEO dalam meningkatkan pelaksanaan program-program kerja sama pendidikan, termasuk SEA Teacher.
Anam berharap partisipasi UMS dalam pertemuan tersebut dapat memperkuat ekosistem pendidikan guru yang kolaboratif, adaptif, dan berorientasi global.
“Melalui kerja sama lintas negara yang semakin implementatif, UMS terus mendorong lahirnya calon guru yang tidak hanya kompeten secara pedagogis, tetapi juga mampu memahami keberagaman dan berkontribusi dalam pengembangan pendidikan di kawasan ASEAN,” pungkasnya. (*)
