SOLO, MENARA62.COM – Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PPMI) Dzulfikar Ahmad Tawalla mengingatkan aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (BEM PTMA) agar tidak berhenti pada pencapaian sebagai pemimpin organisasi. Ia mendorong mahasiswa mulai merancang masa depan, memperkuat kompetensi, dan membangun jaringan untuk menghadapi dunia profesional.
Pesan tersebut disampaikan Dzulfikar dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) BEM PTMA se-Indonesia 2026 di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kamis (29/10/2026).
Menurut Dzulfikar, pengalaman menjadi ketua BEM atau presiden mahasiswa merupakan modal sosial yang berharga. Namun, pengalaman organisasi harus diikuti perencanaan karier yang matang agar dapat menjadi bekal untuk berkarya dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.
“Pertanyaannya sekarang, setelah Anda jadi Presma ataupun Ketua BEM, what’s next? Mau jadi apa setelah ini?” ujarnya.
Ia menegaskan, masa kepemimpinan di kampus pada akhirnya akan berlalu. Karena itu, aktivis mahasiswa perlu memikirkan langkah selanjutnya, mulai dari menentukan tujuan hidup hingga mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Tiga Bekal Penting bagi Masa Depan Aktivis
Dzulfikar menyebut ada tiga faktor yang berpengaruh terhadap masa depan seseorang, yakni bahan bacaan, lingkungan pergaulan, dan mentor. Ketiganya dinilai penting untuk memperluas wawasan, membuka peluang, serta membentuk kompetensi yang tidak selalu diperoleh melalui pendidikan formal.
“Yang pertama, masa depan Anda itu akan ditentukan bahan bacaan Anda. Buku-buku apa yang Anda konsumsi?” tuturnya.
Menurutnya, aktivis mahasiswa perlu membiasakan diri membaca beragam sumber, bukan hanya buku yang berkaitan dengan perkuliahan. Kebiasaan tersebut dapat membantu mahasiswa memahami persoalan secara lebih luas, mengembangkan pemikiran kritis, dan menentukan arah pengembangan diri.
Selain membaca, mahasiswa perlu selektif dalam membangun lingkungan pergaulan. Jaringan yang tepat dapat membuka akses terhadap pengalaman, pengetahuan, dan kesempatan profesional sesuai bidang yang ingin ditekuni.
Aktivis yang ingin berkarier di dunia politik, misalnya, perlu memahami dinamika politik dan membangun relasi yang relevan. Sementara itu, mereka yang ingin mengembangkan usaha perlu memperluas jaringan dengan orang-orang yang memiliki pengalaman di bidang bisnis.
Faktor ketiga adalah mentor atau pembimbing. Dzulfikar menilai, keberadaan mentor dapat membantu mahasiswa mengenali potensi diri, mengasah keterampilan, serta memahami tantangan yang akan dihadapi dalam perjalanan karier.
“Seorang aktivis itu harus punya talent maker, harus punya mentor,” ungkapnya.
Pernah Jadi Sopir hingga Tiga Kali Bangkrut
Dalam kesempatan tersebut, Dzulfikar membagikan pengalaman pribadinya ketika memulai perjalanan profesional di Jakarta. Ia mengaku pernah bekerja sebagai sopir selama dua tahun untuk mempelajari lingkungan, membangun relasi, dan memahami cara berkomunikasi dengan berbagai kalangan.
Pengalaman itu mengajarkannya untuk menerima gagasan, memahami persoalan orang lain, serta mencari cara menyelesaikan masalah. Baginya, pembelajaran penting tidak hanya diperoleh melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pengalaman langsung.
Ia juga menceritakan perjalanan karier dan bisnisnya yang sempat mengalami kebangkrutan hingga tiga kali. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membentuk keterampilan praktis dan kemampuannya menghadapi berbagai situasi.
Dari pengalaman itu, Dzulfikar mengingatkan mahasiswa agar tidak merasa cukup hanya dengan prestasi organisasi. Mereka perlu menemukan keunggulan diri dan mengembangkannya menjadi kompetensi yang memiliki nilai di dunia profesional.
Ia turut menjelaskan tiga jalur yang dapat dipertimbangkan untuk membangun masa depan, yakni memanfaatkan jaringan untuk membuka peluang ekonomi, memahami peran kekuasaan dalam menciptakan akses terhadap peluang, serta membangun usaha dan aset secara konsisten.
Dzulfikar juga mendorong mahasiswa menyusun perencanaan hidup untuk lima tahun ke depan. Rencana tersebut perlu memuat tujuan yang ingin dicapai, kompetensi yang harus dikuasai, lingkungan yang mendukung, serta mentor yang dapat membantu proses pengembangan diri.
“Jadi kesimpulannya, adik-adik sekalian, Anda sudah Korpus, Anda sudah Presma sekarang, itu sudah masa lalu. Segera putuskan Anda mau jadi apa,” tegasnya.
SMK Go Global Buka Peluang Kerja Internasional
Selain membahas pengembangan diri aktivis mahasiswa, Dzulfikar memperkenalkan program SMK Go Global sebagai bagian dari upaya pemerintah memperluas kesempatan kerja bagi tenaga kerja Indonesia di luar negeri.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan pengiriman 500.000 tenaga kerja dalam lima tahun melalui program tersebut. Persiapan dilakukan melalui pembekalan keterampilan teknis dan kemampuan bahasa asing agar calon pekerja dapat memenuhi kebutuhan pasar kerja internasional.
Salah satu keterampilan yang disiapkan adalah pengelasan atau welder. Selain itu, calon pekerja didorong mempelajari bahasa asing, seperti Jerman, Korea, Jepang, dan Inggris, sesuai kebutuhan negara tujuan.
Menurut Dzulfikar, bekerja di luar negeri bukan hanya membuka kesempatan memperoleh penghasilan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk meningkatkan keterampilan dan memperluas pengalaman. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan ekonomi Indonesia.
Ia berharap perguruan tinggi turut berperan dalam menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja. Kolaborasi antara pendidikan, pelatihan keterampilan, dan pengembangan jaringan dinilai penting agar generasi muda mampu memanfaatkan peluang di tingkat global.
Aktivis Mahasiswa Diminta Optimistis Menatap Indonesia
Menutup materinya, Dzulfikar mengajak aktivis BEM PTMA untuk tetap optimistis terhadap masa depan Indonesia. Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan arah pembangunan bangsa melalui kompetensi, pengalaman, dan kontribusi nyata.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kepemimpinan mahasiswa bukanlah garis akhir perjalanan. Pengalaman berorganisasi harus menjadi titik awal untuk membangun kapasitas diri, memperluas manfaat, dan mengambil peran yang lebih besar di tengah masyarakat.
“Dan selalulah optimistis terhadap masa depan bangsa Indonesia. Kalau ditanya kenapa Anda optimistis terhadap masa depan bangsa Indonesia, karena ada: kami, kami, kami!” pungkasnya.
Melalui Silatnas BEM PTMA se-Indonesia 2026, para aktivis mahasiswa diharapkan mampu menerjemahkan pengalaman kepemimpinan menjadi langkah konkret setelah lulus. Dengan perencanaan yang jelas, kompetensi yang terus berkembang, serta jaringan yang tepat, mereka diharapkan siap menghadapi tantangan dunia kerja sekaligus berkontribusi bagi kemajuan bangsa. (*)

