JAKARTA, MENARA62.COM – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan mata pelajara coding dan kecerdasan buatan (AI) hanya akan diajarkan oleh guru tertentu yang ditugaskan khusus. Sebab pelatihan coding dan AI sampai saat ini belum menjangkau seluruh sekolah.
“Sehingga kami menerapkan bahwa coding dan AI masih menjadi mata pelajaran pilihan di sekolah-sekolah,” kata Mu’ti pada kegiatan buka puasa bersama Forum Wartawan Pendidikan, di Jakarta Sabtu (7/3/2026).
Diakui bahwa untuk menerapkan pelajaran coding dan AI di semua sekolah bukan masalah gampang. Karena masih banyak guru yang belum sepenuhnya meninggalkan metode pembelajaran konvensional.
Selain itu, berbagai konten di media sosial sering menafsirkan konsep pembelajaran mendalam atau Merdeka Belajar secara berbeda-beda sehingga menimbulkan persepsi yang tidak selalu tepat.
Sementara, pelatihan terhadsap guru belum sepenuhnya ditularkan ke guru yang lain. Artinya proses pengimbasan pelatihan dari guru peserta pelatihan ke guru yang lain masih belum berjalan optimal.
“Bahkan ada yang menjadi spesialis peserta kegiatan pusat, sehingga berbagai kegiatan selalu diikuti oleh orang yang sama,” tuturnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Kemendikdasmen kini menetapkan bahwa sertifikat pelatihan hanya akan diberikan jika peserta telah melakukan pengimbasan kepada guru lain dan memiliki bukti pelaksanaannya.
Sebagaimana diketahui, Mendikdasmen Mu’ti dalam kebijakan yang diambil pada bulan Juni menyatakan bahwa mata pelajaran Coding dan Artificial Intelligence (AI) akan dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah di Indonesia mulai tahun ajaran 2025/2026. Mata pelajaran ini akan diterapkan di tingkat SD (mulai kelas 5-6), SMP (7-9), dan SMA/SMK (kelas 10) dengan durasi 2 jam per minggu. Sekitar 59 ribu sekolah ditargetkan akan menerapkan pemebalaran coding dan AI.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan literasi digital, kemampuan berpikir komputasional (computational thinking), dan pemecahan masalah (problem solving) bagi siswa sejak dini.Untuk siswa level SD focus materi lebih kepada pengenalan dasar pemrograman dengan cara yang mudah, seperti menggunakan blok susun atau kepingan gambar (visual programming). Sedang untuk SMP-SMA lebih menekankan pada etika penggunaan kecerdasan buatan, bukan sekadar membuat produk AI.
