SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Pengajian Ramadan yang dirangkai dengan buka puasa bersama pada Kamis (12/3) di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah UMS. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan UMS, civitas academica, serta Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.
Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mempererat silaturahmi sekaligus mengisi waktu menjelang berbuka puasa dengan kegiatan yang bermanfaat.
Ia menjelaskan bahwa pengajian Ramadan menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai spiritual di lingkungan kampus.
“Acara ini adalah ajang silaturahmi sekaligus menunggu waktu berbuka puasa yang diisi dengan pengajian,” ujarnya.
Harun juga menegaskan bahwa rasa syukur atas berbagai nikmat yang diberikan Allah Swt. harus diwujudkan melalui kerja yang sungguh-sungguh.
“Salah satu wujud syukur kita atas nikmat dari Allah adalah bekerja dengan bersungguh-sungguh,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Harun turut memaparkan secara singkat perkembangan dan berbagai capaian UMS di hadapan pimpinan pusat Muhammadiyah yang hadir.
Sementara itu, tausyiah disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., ia mengawali ceramahnya dengan mengungkapkan rasa syukur karena masih dapat dipertemukan dalam suasana Ramadan melalui kegiatan pengajian yang rutin diselenggarakan oleh UMS.
“Alhamdulillah di sore hari Ramadan ini kita masih dipertemukan dalam agenda rutin yang diadakan UMS, pengajian Ramadhan,” katanya.
Haedar menekankan bahwa salah satu karakter ibadurrahman atau hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih adalah memiliki sikap seimbang dalam kehidupan, termasuk dalam mengelola harta.
Menurutnya, sikap tidak boros dan tidak kikir harus menjadi prinsip yang diterapkan dalam pengelolaan organisasi maupun amal usaha Muhammadiyah.
“Ciri ibadurrahman adalah tidak boros dan tidak kikir. Ini harus kita terapkan dalam organisasi dan amal usaha Muhammadiyah,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan doa sebagai bagian dari perjuangan hidup sehari-hari. Doa, menurutnya, tidak seharusnya hanya dipanjatkan ketika menghadapi kesulitan.
“Doa itu sebenarnya harus include di dalam perjuangan hidup kita, bukan ketika susah baru berdoa agar dipermudah,” tuturnya.
Dalam pengelolaan organisasi, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah harus terus bergerak menjadi organisasi yang modern, profesional, dan berkemajuan. Hal tersebut penting agar Muhammadiyah mampu menjawab berbagai tantangan zaman.
Ia juga menyebut bahwa Muhammadiyah memiliki jaringan luas dalam kehidupan umat yang bergerak dalam berbagai bidang sosial kemasyarakatan. Karena itu, penguatan dakwah membutuhkan dukungan dari kalangan intelektual, terutama ijtihad Muhammadiyah di Kalender Hijriyah Global Tinggal (KHGT).
“Saya berharap Muhammadiyah ini di backup oleh para ilmuwan untuk mendukung dakwah kita, terutama ijtihad kita di KHGT,” katanya.
Di akhir tausyiahnya, Haedar menyinggung tentang adanya sikap moderat dalam berbagai ijtihad yang dilakukan Muhammadiyah, termasuk dalam konteks pemikiran keagamaan.
“Segala apapun itu pasti ada sisi moderatnya, begitupun dalam khittah kita ini. Karena itu juga merupakan bentuk ijtihad Muhammadiyah,” pungkasnya.
Kegiatan pengajian Ramadan tersebut berlangsung khidmat dan diakhiri dengan buka puasa bersama seluruh peserta yang hadir. (*)
