JAKARTA, MENARA62.COM – Silaturrahmi merupakan wujud hubungan kasih sayang antarsesama manusia, baik dalam persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah), persaudaraan sesama umat beragama (ukhuwah Islamiyah), maupun persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah).
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal MUI, Buya Amirsyah Tambunan, dalam tausiyah pada acara Halal Bihalal Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DKI Jakarta yang digelar pada 29 Maret 2026 di Hotel Mercure Kemayoran, Jakarta.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa persaudaraan merupakan bagian dari fitrah kemanusiaan. Kata fitrah berasal dari akar kata (فطر) yang berarti membelah, menciptakan, atau memulai sesuatu untuk pertama kalinya. Fitrah menunjukkan potensi dasar manusia sejak lahir yang suci dan memiliki kecenderungan spiritual.
Ia juga menegaskan perbedaan antara fitrah dan fitri. Fitrah merujuk pada kondisi kesucian manusia, sedangkan fitri berasal dari kata afthara yang berarti berbuka puasa, yang kemudian menjadi penanda datangnya Idul Fitri. Dalam Al-Qur’an, khususnya QS. Ar-Rum ayat 30, fitrah Allah dimaknai sebagai penciptaan manusia dalam keadaan lurus dan suci.
Menurutnya, terdapat dua karakter dasar manusia, yaitu kebutuhan jasmani seperti makan, dan kecenderungan untuk kembali kepada kesucian (fitrah). Keduanya saling berkaitan dan menjadi bagian dari kehidupan manusia. Namun, pada bulan Syawal, kedua hal tersebut harus ditingkatkan melalui penguatan iman dan amal saleh, sehingga melahirkan kasih sayang antarsesama.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Maryam ayat 96:
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَيَجۡعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحۡمَٰنُ وُدّٗا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka).”
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa watak dasar manusia bukanlah permusuhan, dendam, atau dengki. Tindakan kekerasan dan peperangan merupakan bentuk penyimpangan dari nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, momentum Syawal hendaknya dijadikan sebagai sarana memperkuat persaudaraan dan semangat saling tolong-menolong.
“Kita patut bersyukur, para dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia mampu memperkuat silaturrahmi sekaligus menorehkan prestasi, tidak hanya untuk kehidupan dunia, tetapi juga sebagai bekal kebahagiaan di akhirat,” pungkasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua IDI Wilayah DKI Jakarta, Dr. Cecilia R. Padang, PhD, FACR, berharap kegiatan Halal Bihalal ini dapat menjadi perekat dan mempererat hubungan antarsesama anggota IDI.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2025–2028, DR. Dr. Slamet Budiarto, SH., MH.Kes, menyampaikan bahwa tausiyah yang disampaikan Sekjen MUI dapat menjadi bekal bagi para dokter dalam menjalankan profesinya secara profesional tanpa membedakan suku, agama, dan ras, sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
