JAKARTA, MENARA62,COM – Hamka Circle menggelar diskusi perdana bertajuk “Dakwah Multikultural Buya HAMKA terhadap Etnis Tionghoa” pada Jumat (29/5/2026). Kegiatan yang diselenggarakan secara daring ini bertujuan mengangkat kembali relevansi pemikiran dan strategi dakwah Buya HAMKA dalam membangun harmoni sosial di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Diskusi dibuka oleh Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Uhamka, Prof. Dr. Ai Fatimah Nur Fuad, M.A., Ph.D. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya membangun budaya akademik (academic milieu) di lingkungan perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan pemikiran keislaman yang responsif terhadap tantangan zaman.
Menurutnya, Fakultas Agama Islam Uhamka telah mendirikan Center for Islam and Civilization Studies (CIVIC) sebagai wadah pengembangan kajian dan penelitian bagi para akademisi.
“FAI Uhamka mendirikan Center for Islam and Civilization Studies (CIVIC) untuk mempercepat pengembangan kajian dan penelitian para akademisi, sehingga dapat meningkatkan profesionalitas mereka sebagai dosen sekaligus peneliti,” ujar Prof. Ai Fatimah yang juga merupakan pengurus LHKI PP Muhammadiyah.
Selanjutnya, Direktur CIVIC FAI Uhamka, Muhammad Abdullah Darraz, menjelaskan bahwa Hamka Circle merupakan salah satu program rutin CIVIC yang dirancang sebagai ruang dialog ilmiah dan kajian kritis terhadap pemikiran Buya HAMKA dengan pendekatan interdisipliner.
“Sebagai diskusi perdana, kami mengangkat tema Dakwah Multikultural Buya HAMKA untuk memastikan gagasan beliau tentang inklusivitas, dialog antarbudaya, dan keadilan sosial tetap dapat diakses generasi muda serta relevan dalam menjawab tantangan masyarakat modern,” jelas Darraz.
Pada sesi utama, Dr. Jaja Nurjannah, dosen FAI Uhamka, hadir sebagai narasumber dengan paparan mengenai pendekatan dakwah Buya HAMKA terhadap komunitas Tionghoa di Indonesia. Diskusi dipandu oleh Dwi Setyowati sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Dr. Jaja menjelaskan bahwa Buya HAMKA menerapkan strategi dakwah yang humanis, dialogis, dan menghargai identitas budaya masyarakat yang menjadi sasaran dakwahnya. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa dakwah tidak harus dilakukan dengan cara yang eksklusif, tetapi dapat dibangun melalui penghormatan terhadap keragaman dan keterbukaan dalam berinteraksi.
“Dakwah Buya HAMKA terhadap etnis Tionghoa merupakan contoh nyata dakwah multikultural yang bertumpu pada pemahaman psikologi sosial dan penghormatan terhadap budaya. Beliau tidak mendekati masyarakat dengan sikap menghakimi, melainkan membuka ruang dialog yang luas, penuh empati, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan,” ungkap Dr. Jaja.
Diskusi berlangsung interaktif dan mendapat sambutan antusias dari akademisi, peneliti, mahasiswa, serta praktisi sosial dari berbagai daerah. Beragam pertanyaan dan tanggapan yang muncul menunjukkan tingginya minat peserta terhadap model dakwah yang inklusif dan relevan bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang plural.
Melalui forum ini, Hamka Circle diharapkan menjadi ruang intelektual yang terus menghidupkan pemikiran Buya HAMKA dari berbagai perspektif, mulai dari dakwah, sastra, pendidikan, politik, hingga teologi kemanusiaan. Kajian-kajian tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi penguatan nilai-nilai keislaman yang moderat, inklusif, dan berkeadaban.
Tentang Hamka Circle dan CIVIC FAI Uhamka
Hamka Circle merupakan forum kajian strategis yang berada di bawah naungan Center for Islam and Civilization Studies (CIVIC) Fakultas Agama Islam Uhamka. Forum ini menjadi wadah diskusi, penelitian, dan diseminasi pemikiran Buya HAMKA dengan fokus pada integrasi nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, dan kebangsaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Kontak Media:
Muhammad Abdullah Darraz
Direktur CIVIC FAI Uhamka
WA: 0812-6697-3267
Email: civicfaiuhamka@gmail.com
Media Sosial:
Instagram: @faiuhamka
TikTok: @faiuhamka
Facebook: FAI Uhamka

