JAKARTA, MENARA62.COM -Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyelenggarakan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 sebagai forum untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung agenda hilirisasi dan pembangunan nasional, Sabtu (27/6).
Dalam sesi Strategi Hilirisasi dan Penguatan Industri Nasional untuk Nilai Tambah Ekonomi Indonesia, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menegaskan bahwa hilirisasi tidak hanya bertujuan meningkatkan investasi. Lebih dari itu, hilirisasi harus menciptakan nilai tambah, memperkuat industri nasional, membuka lapangan kerja, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Investasi yang kita harapkan adalah investasi yang berkualitas, investasi yang bisa menciptakan nilai tambah, yang juga memperkuat sumber daya manusia kita,” ujar Menteri Rosan.
Menteri BKPM juga menyampaikan bahwa sepanjang 2025, realisasi investasi pada sektor hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau sekitar 30,2% dari total investasi nasional. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Selama ini, investasi hilirisasi masih banyak bertumpu pada sektor mineral, terutama nikel. Namun, pemerintah mulai mendorong hilirisasi di sektor lain, seperti pertanian, perkebunan, kelautan, dan perikanan.
Menteri Rosan menjelaskan bahwa perluasan hilirisasi ke sektor-sektor tersebut penting karena dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja. Investasi di sektor pertanian dan perkebunan memang tidak sebesar sektor mineral, tetapi dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja dapat lebih luas. Karena itu, hilirisasi perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Dalam paparannya, Menteri BKPM juga menyampaikan keberhasilan hilirisasi nikel. Sebelum hilirisasi diperkuat, nilai ekspor bahan mentah nikel Indonesia sekitar US$3,3 miliar. Setelah hilirisasi berjalan, nilai ekspor produk nikel dan turunannya meningkat menjadi sekitar US$33,9 miliar. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa pengolahan sumber daya di dalam negeri dapat memberi nilai tambah yang jauh lebih besar bagi perekonomian nasional.
Menteri Rosan menekankan bahwa keberhasilan hilirisasi juga bergantung pada inovasi, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan riset dan inovasi yang dapat digunakan oleh dunia industri.
“Bagaimana peran bapak dan ibu di perguruan tinggi untuk hadir dengan inovasi baru dan teknologi baru agar kita menjadi lebih efisien dan lebih produktif dari produk-produk yang kita miliki,” kata Menteri Rosan.
Menteri Rosan juga menilai masih banyak hasil penelitian perguruan tinggi yang belum dimanfaatkan oleh industri. Padahal, riset kampus dapat menjadi kekuatan penting untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kemampuan industri dalam mengikuti perkembangan teknologi.
Kemandirian ekonomi tidak dapat dibangun secara sektoral, melainkan melalui keterhubungan berbagai bidang, mulai dari ekonomi, pangan, energi, industri, kelautan, hingga pendidikan. Karena itu, forum ini diperlukan untuk menghimpun masukan berbasis data dan ilmu pengetahuan guna mendukung pengambilan kebijakan yang lebih terintegrasi. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto pada pembukaan Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026, Jumat (26/6).
Melalui Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026, Kemdiktisaintek mendorong agar riset perguruan tinggi semakin terhubung dengan kebutuhan industri. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat hilirisasi, meningkatkan daya saing industri nasional, membuka lebih banyak lapangan kerja, serta memberi manfaat yang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
