30.8 C
Jakarta

Panel Surya Masuk Pesantren dan Sekolah: Lentera Hijau Indonesia dan 1000 Cahaya Muhammadiyah Dorong Generasi Hemat Energi

Baca Juga:

JAKARTA.MENARA62.COM
Upaya membangun kesadaran energi bersih di kalangan generasi muda terus menemukan jalannya. Melalui kolaborasi antara Lentera Hijau Indonesia, Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, Kitabisa.org, Lazismu, PP ‘Aisyiyah, serta dukungan teknis dari Universitas Gadjah Mada (UGM), panel surya kini terpasang di ‘Aisyiyah Boarding School (ABS) Bandung dan SMP ‘Aisyiyah Kota Sukabumi.

Inisiatif ini bukan sekadar pemasangan perangkat energi terbarukan. Lebih dari itu, program ini menjadi ruang belajar nyata bagi santri, guru, dan siswa untuk memahami pentingnya transisi energi bersih sekaligus membangun budaya hemat energi sejak dini.

Pemasangan pertama dilakukan di ‘Aisyiyah Boarding School Bandung pada 10 Juni 2026. Tiga panel surya berkapasitas masing-masing 650 watt peak dipasang untuk mendukung kebutuhan energi di lingkungan pesantren. Energi yang dihasilkan akan digunakan terutama untuk mengoperasikan pompa air dan sistem pengairan lahan pertanian produktif yang menjadi bagian dari ekosistem pendidikan pesantren.

Wakil Mudir ABS Bandung, Teguh Mulyadi, mengatakan bahwa panel surya tersebut akan memperkuat program penghijauan yang selama ini menjadi salah satu identitas pesantren.

“Solar panel ini akan membantu menghidupkan alat siram otomatis untuk lahan pertanian yang kami kelola. Harapannya, ekosistem penghijauan dan energi terbarukan dapat berjalan beriringan di lingkungan pesantren. Kami sangat berterima kasih atas kolaborasi yang memungkinkan program ini terwujud,” ujarnya.

ABS Bandung selama ini dikenal sebagai pesantren yang mengusung konsep ramah lingkungan. Berdiri di atas lahan sekitar 18.000 meter persegi, pesantren tersebut mengembangkan berbagai aktivitas pertanian dan pendidikan lingkungan yang melibatkan para santri secara langsung.

Dari Bandung, perjalanan kemudian berlanjut menuju Kota Sukabumi. Menempuh jarak sekitar 100 kilometer selama hampir empat jam, tim bergerak memasang panel surya di SMP ‘Aisyiyah Kota Sukabumi pada 11 Juni 2026.

Sekolah yang baru berdiri pada tahun 2025 ini mengusung konsep Islamic Green School dan memberikan pendidikan berbasis lingkungan kepada para siswanya. Saat ini sekolah memiliki 11 siswa angkatan pertama yang seluruhnya mendapatkan beasiswa penuh.

Kepala SMP ‘Aisyiyah Kota Sukabumi, Siti Sundus Awaliyah, menyebut bantuan panel surya menjadi dukungan penting bagi proses pendidikan sekaligus sarana pembelajaran lingkungan hidup.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tim 1000 Cahaya Muhammadiyah, Lentera Hijau Indonesia, dan Kitabisa.org yang telah memberikan panel surya kepada SMP ‘Aisyiyah Kota Sukabumi. Manfaatnya sangat besar, bukan hanya sebagai sumber energi alternatif untuk kegiatan belajar mengajar dan penerangan sekolah, tetapi juga menjadi media pembelajaran bagi siswa tentang energi ramah lingkungan,” kata Siti.

Menurutnya, kehadiran panel surya dapat memperluas wawasan siswa mengenai sumber energi masa depan yang bersih dan berkelanjutan.

“Harapan kami, panel surya ini bisa menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk mulai memanfaatkan energi yang lebih ramah lingkungan. Anak-anak perlu memahami bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah sekaligus Ketua Perkumpulan Lentera Hijau Indonesia, Hening Parlan, menegaskan bahwa gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran ekologis berbasis nilai keagamaan.

“Ini bukan sekadar proyek pemasangan panel surya. Ini adalah bagian dari ikhtiar Islam Berkemajuan. Kita ingin menunjukkan bahwa amanah sebagai khalifah di bumi diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dalam cara kita mengelola energi,” kata Hening.

Ia menjelaskan bahwa pesantren dan sekolah dipilih karena merupakan ruang pembentukan karakter dan nilai yang sangat strategis.

“Ketika budaya hemat energi tumbuh di pesantren dan sekolah, pengaruhnya tidak berhenti di lingkungan lembaga pendidikan. Nilai itu akan dibawa pulang oleh siswa dan santri ke keluarga mereka, lalu menyebar menjadi gerakan sosial yang lebih luas,” ujarnya.

Hening menambahkan, gerakan energi bersih juga menjadi sarana memperkuat kolaborasi lintas komunitas dan lintas iman dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

“Kami menyebut energi matahari sebagai energi surga. Energi ini bersih, tidak menimbulkan polusi, dan dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan banyak orang. Melalui energi bersih, kita belajar bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama seluruh umat manusia,” katanya.

Program pemasangan panel surya di ABS Bandung dan SMP ‘Aisyiyah Sukabumi menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas untuk memperkenalkan energi terbarukan kepada masyarakat. Selain menghasilkan listrik, program ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bahwa transisi energi tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga tentang pendidikan, perubahan perilaku, dan tanggung jawab menjaga bumi bagi generasi yang akan datang.

Dengan langkah-langkah kecil yang dimulai dari pesantren dan sekolah, cahaya matahari kini tidak hanya menerangi ruang belajar, tetapi juga menyalakan harapan lahirnya generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan dan masa depan energi Indonesia

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!