SOLO, MENARA62.COM – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id membantu dua sekolah Aisyiyah di Cabang Laweyan meningkatkan kesiapan menuju stratifikasi Sekolah Sehat. Hasilnya, pemenuhan indikator UKS Sehat yang semula sekitar 30 persen meningkat menjadi 90 persen.
Dua sekolah yang menjadi sasaran pendampingan adalah KB/TK Aisyiyah Karangasem dan TK Aisyiyah Tunggulsari.
Program bertajuk “Model Pendampingan Manajemen Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) untuk Meningkatkan Kesiapan Stratifikasi Sekolah Sehat pada Sekolah Aisyiyah di Cabang Laweyan” tersebut dilaksanakan sebagai respons terhadap kebijakan Dinas Pendidikan yang mewajibkan penilaian sekolah berbasis UKS sehat.
Ketua Tim P2M FKG UMS, Dr. drg. Ana Riolina, MPH, mengatakan sekolah perlu mempersiapkan berbagai komponen dan indikator agar dapat memenuhi standar UKS Sehat.
“Untuk sekolah dengan UKS Sehat itu terdapat empat komponen dengan sekitar empat puluhan indikator,” kata Ana, Selasa (1/9/2026).
Sebelum pendampingan dilakukan, lanjut dia, pemenuhan indikator di sekolah dampingan baru mencapai sekitar 30 persen. Setelah program berjalan, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 90 persen.
“Kami menilai sebelum kegiatan pengabdian ini, hanya ada sekitar 30 persen indikator yang terpenuhi oleh sekolah. Dan dengan kegiatan P2M ini, kesiapan sekolah dalam menyiapkan UKS Sehat menjadi sekitar 90 persen terpenuhi,” ujarnya.
Menurut Ana, indikator yang belum terpenuhi sebagian besar berkaitan dengan dokumen kerja sama dengan pihak terkait. Pemenuhannya dapat dilanjutkan secara mandiri oleh masing-masing sekolah.
Kebiasaan Sehat Mulai Masuk Kelas
Pendampingan tidak berhenti pada pemenuhan administrasi. Tim P2M juga mendorong agar prinsip perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi kebiasaan sehari-hari siswa.
Di KB/TK Aisyiyah Karangasem, pendampingan berlangsung pada 11-13 Agustus 2026. Guru sekolah, Dina Silvia Sari, mengatakan materi yang diberikan mulai diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.
“Anak-anak tidak lagi asal mencuci tangan dengan air saja, tetapi harus menggunakan sabun. Gosok gigi juga tidak hanya pagi hari, tapi juga rutin setelah selesai makan,” kata Dina.
Hal serupa dilakukan di TK Aisyiyah Tunggulsari pada 18-20 Agustus 2026.
Kepala TK Aisyiyah Tunggulsari, Dwiyatun, S.Pd., mengatakan pendampingan memberikan tambahan pengetahuan bagi guru sekaligus membantu sekolah memperbaiki sejumlah kebiasaan yang sebelumnya belum berjalan optimal.
“Alhamdulillah, banyak sekali yang kami terima, terutama ilmu yang diberikan kepada kami. Sangat bermanfaat untuk kemajuan dari pendidikan yang ada,” ujarnya.
Selain memberikan pendampingan, Tim P2M FKG UMS juga menyerahkan sejumlah perlengkapan penunjang kegiatan sekolah sehat yang sebelumnya belum dimiliki sekolah.
Dwiyatun berharap pendampingan tersebut dapat dilanjutkan sehingga pengetahuan mengenai kesehatan sekolah tidak berhenti setelah program selesai.
Dari Cuci Tangan hingga Jajanan Sehat
Anggota Tim P2M FKG UMS, drg. Reisca Tiara Hardiyani, MDSc, mengatakan penerapan PHBS menjadi salah satu fokus dalam membangun lingkungan sekolah sehat.
Beberapa materi yang diberikan mencakup pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang; penerapan toilet bersih; kawasan bebas asap rokok; pemantauan berat dan tinggi badan siswa secara berkala; serta penyediaan jajanan sehat.
Menurut Reisca, keberlanjutan program sangat bergantung pada perubahan perilaku yang dimulai dari individu.
“Agar program ini bisa berkelanjutan harus dimulai dari diri sendiri. Perlu dikenalkan dulu perilaku hidup bersih sehat, kemudian kesadaran dari individu untuk membentuk perilaku sehat, sehingga nantinya dapat terbentuk lingkungan sekolah yang sehat,” tuturnya.
Ia berharap model pendampingan tersebut dapat diterapkan lebih luas di sekolah-sekolah Aisyiyah lainnya.
Bagi Tim P2M FKG UMS, peningkatan capaian indikator dari sekitar 30 persen menjadi 90 persen menunjukkan bahwa pendampingan tidak hanya dibutuhkan untuk memenuhi standar UKS. Lebih jauh, program tersebut menjadi upaya membangun kebiasaan sehat sejak usia dini.
Dengan membiasakan perilaku sederhana seperti mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan toilet, mengonsumsi jajanan sehat, hingga rutin memantau pertumbuhan anak, sekolah dapat menjadi lingkungan yang turut membentuk perilaku hidup sehat siswa sejak dini. (*)
