31.8 C
Jakarta

Bukan Sekadar Nilai, SD Muhammadiyah 1 Solo Ubah Cara Belajar

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Pembelajaran di sekolah tidak selalu harus dimulai dari buku dan papan tulis. Di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta, proses belajar diarahkan agar anak merasa dihargai, memahami manfaat ilmu, sekaligus memiliki ruang untuk berkembang sesuai potensinya.

 

Gagasan itu menjadi bagian dari upaya SD Muhammadiyah 1 Solo membangun ekosistem pendidikan yang lebih humanis. Memasuki usia ke-91 tahun, sekolah tersebut menguatkan peran Kelompok Belajar (Kombel) sebagai ruang bagi guru untuk mengevaluasi sekaligus merancang strategi pembelajaran.

 

Staf Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SD Muhammadiyah 1 Solo, Sri Martono Lanjar Sari, mengatakan sekolah ingin menghadirkan kelas yang tidak hanya mengejar capaian akademik.

 

“Kita ingin melahirkan suasana kelas yang humanis, relevan, dan benar-benar hadir untuk mendukung tumbuh kembang anak-anak,” kata Sri Martono, Selasa (1/9/2026).

 

Guru Ditantang Lebih Dekat dengan Dunia Anak

 

Menurut Sri Martono, salah satu fokus pengembangan pembelajaran adalah membangun budaya saling menghargai antara guru dan murid.

 

Bagi sekolah, hubungan tersebut menjadi fondasi penting sebelum pembelajaran berlangsung. Anak yang merasa dihargai diharapkan lebih leluasa menyampaikan gagasan, bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.

 

Pada saat yang sama, guru didorong untuk menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa.

 

“Setiap materi pelajaran selalu kita kaitkan dengan realitas kehidupan nyata anak-anak,” ujarnya.

 

Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan mengingat materi. Siswa diarahkan untuk memahami, mengolah pengalaman, dan menemukan keterkaitan antara pengetahuan dengan persoalan yang mereka temui.

 

Sekolah menilai pendekatan semacam itu penting untuk membentuk karakter pembelajar sepanjang hayat.

 

Pembelajaran Mendalam Dipadukan dengan AI

 

Penguatan pembelajaran juga diarahkan melalui tahapan pengembangan yang terukur, mulai dari Pra-Berkembang hingga Tahapan Unggul.

 

Dalam prosesnya, SD Muhammadiyah 1 Solo memadukan pembelajaran mendalam dengan pengenalan koding dan kecerdasan artifisial atau AI.

 

Teknologi tidak ditempatkan sekadar sebagai alat bantu pembelajaran. Sekolah juga ingin siswa memahami cara menggunakan teknologi secara tepat, kritis, dan bertanggung jawab.

 

Pengembangan tersebut sekaligus menuntut guru untuk terus meningkatkan kapasitas. Karena itu, forum Kelompok Belajar menjadi salah satu ruang untuk membangun kesamaan pemahaman sekaligus menyusun praktik pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas.

 

“Optimalisasi pembelajaran mendalam dan asesmen holistik. Penguatan kemitraan dengan orang tua, komunitas, dan dunia kerja. Pengembangan projek koding dan AI secara menyeluruh dan berkelanjutan,” kata Sri Martono.

 

Dari Ketelan, Menyiapkan Model Pembelajaran

 

Ke depan, SD Muhammadiyah 1 Solo tidak hanya menargetkan perubahan di ruang kelas. Sekolah ingin membangun ekosistem belajar yang inovatif, reflektif, dan memberikan dampak lebih luas.

 

Satuan pendidikan tersebut diarahkan menjadi pusat praktik baik, termasuk dalam pengembangan inovasi teknologi dan penerapan etika digital.

 

Artinya, keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari nilai yang diperoleh siswa. Cara anak belajar, kemampuan berkolaborasi, keberanian mencoba, kemampuan menggunakan teknologi, serta karakter yang terbentuk menjadi bagian penting dari proses pendidikan.

 

“Dari Ketelan, Surakarta, sebuah ikhtiar untuk memuliakan anak dan menghidupkan kelas kini sedang terus dirajut,” ujar Sri Martono.

 

Gagasan tersebut menempatkan anak bukan sekadar sebagai penerima materi pelajaran. Anak menjadi pusat dari proses pendidikan, sementara guru berperan menciptakan ruang agar potensi mereka tumbuh.

 

Pada akhirnya, kelas yang hidup bukan hanya kelas yang ramai oleh aktivitas. Kelas yang hidup adalah ruang ketika anak merasa aman untuk bertanya, berani mencoba, mampu memahami dunia di sekitarnya, dan perlahan menemukan alasan mengapa mereka perlu belajar. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!