34.5 C
Jakarta

Dialog Nasional UM Bandung Soroti Kebangkitan Umat Islam

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM – Persatuan umat Islam dinilai tidak cukup dibangun melalui narasi kejayaan masa lalu. Kebangkitan umat membutuhkan penguatan pendidikan, ekonomi, teknologi, politik, serta kemampuan membangun kemandirian.

 

Gagasan tersebut mengemuka dalam Dialog Nasional Keagamaan Awaken Chapter 2 bertajuk “Persatuan Umat Islam: Spirit Kemerdekaan Menuju Kebangkitan Umat” yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bersama Rumah Pemuda Madani, Sabtu (22/8/2026).

 

Dialog yang berlangsung di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan, UM Bandung, itu mempertemukan mahasiswa, pemuda, akademisi, dan sejumlah tokoh untuk membahas masa depan umat Islam dalam momentum kemerdekaan Indonesia.

 

Wakil Presiden BEM UM Bandung Fajar Abidin mengatakan, semangat pembaruan Muhammadiyah sejak dirintis KH Ahmad Dahlan pada 1912 tidak dapat dilepaskan dari upaya membangun umat melalui pendidikan dan gerakan sosial.

 

Menurut Fajar, pemikiran pembaruan Islam dari tokoh seperti Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani turut memberikan pengaruh terhadap perkembangan gerakan tajdid Muhammadiyah.

 

“Sejak dekade 1920-an melalui tokoh Mas Mansur, Muhammadiyah juga aktif merespons isu-isu dunia Islam. Oleh karena itu, melalui dialog ini dan audiensi bersama pelajar Kota Bandung, kami ingin memupuk kembali nilai-nilai dan gerakan Islam secara utuh,” ujar Fajar.

 

Pendidikan dan Teknologi Jadi Kunci

 

Wakil Rektor I UM Bandung Ayi Yunus Rusyana menilai kebangkitan umat Islam pada abad ke-15 Hijriah membutuhkan kesiapan di berbagai bidang.

 

Ia menyebut pendidikan, ekonomi, politik, dan teknologi sebagai sektor yang harus mendapat perhatian serius.

 

“Umat Islam sejauh ini masih cenderung menjadi konsumen dalam bidang ekonomi dan objek dalam bidang politik. Oleh karena itu, perbaikan pendidikan dan literasi sangat mendesak,” kata Ayi.

 

Menurut Ayi, ketertinggalan dalam ekonomi dan teknologi dapat menjadi hambatan dalam membangun persatuan umat. Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu menciptakan kemandirian ekonomi dan teknologi.

 

Dalam konteks tersebut, UM Bandung mengembangkan visi sebagai Islamic Technopreneurial University.

 

Visi tersebut diarahkan untuk melahirkan generasi yang memiliki fondasi nilai-nilai Islam sekaligus kemampuan technopreneurship agar mampu mengambil peran dalam perubahan zaman.

 

Kebangkitan Tak Cukup dengan Nostalgia

 

Dialog menghadirkan tiga narasumber, yakni Wakil Ketua PWM Jawa Barat Usep Sudrajat, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Adian Husaini, dan dosen Universitas Brawijaya A Dedi Mulawarman.

 

Adian Husaini mengingatkan agar gagasan kebangkitan umat tidak berhenti pada romantisme terhadap kejayaan Islam di masa lalu.

 

Menurut dia, kebangkitan harus diwujudkan melalui kemampuan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan modern. Al-Qur’an dan keteladanan Rasulullah SAW menjadi landasan dalam menghadapi berbagai persoalan kontemporer.

 

“Kebangkitan umat tidak hanya soal politik, tetapi pendidikan, ilmu, ekonomi, teknologi, sosial, dan kebudayaan. Umat perlu memahami kondisi hari ini, mengevaluasi kelemahan, dan membangun kehidupan yang lebih baik,” ujar Adian.

 

Ia mengatakan sejarah menunjukkan umat Islam mampu membangun peradaban ketika memiliki visi, ilmu, kepemimpinan, dan kekuatan bersama.

 

Karena itu, semangat kemerdekaan Indonesia perlu diterjemahkan menjadi kekuatan untuk menghadapi tantangan baru, bukan sekadar diperingati sebagai bagian dari sejarah.

 

Kemandirian Umat Berangkat dari Tiga Fondasi

 

Sementara itu, A Dedi Mulawarman mengangkat gagasan kemerdekaan dan kemandirian umat melalui perspektif Tjokroisme.

 

Mengutip pemikiran HOS Tjokroaminoto, Dedi menyebut patriotisme dan nasionalisme sebagai bagian dari tanda kehidupan suatu umat.

 

Menurut dia, kemerdekaan nasional menjadi penting agar masyarakat memiliki kemampuan mengurus sekaligus menentukan nasibnya sendiri.

 

Namun, kebangkitan umat tidak cukup ditempuh melalui jalur politik.

 

Dedi menyebut tiga fondasi yang perlu diperkuat, yakni semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu, dan sepintar-pintar siyasah.

 

“Artinya, kebangkitan umat harus dimulai dari penguatan iman, peningkatan pengetahuan, serta kecakapan mengelola kehidupan sosial dan politik,” kata Dedi.

 

Ia menambahkan, perjuangan umat harus terus dievaluasi dan disesuaikan dengan tantangan zaman. Namun, proses tersebut tetap harus menjadikan tauhid sebagai pijakan utama.

 

Dialog Nasional Keagamaan Awaken Chapter 2 pada akhirnya tidak hanya membicarakan persatuan sebagai gagasan, tetapi juga menempatkan pendidikan, penguasaan ilmu dan teknologi, kemandirian ekonomi, serta kecakapan sosial-politik sebagai bagian dari agenda kebangkitan umat.

 

Bagi generasi muda, semangat kemerdekaan dinilai perlu diteruskan dalam bentuk kemampuan untuk menjadi subjek perubahan dan ikut menentukan arah masa depan bangsa. (FK/FA)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!