SOLO, MENARA62.COM – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kota Bengawan kembali menggelar Kajian Rutin Tafsir Selasa Malam di Masjid Nurul Firdaus, Joyosuran, Selasa (22/9/2026). Kajian kali ini membahas kandungan Surat Al-Kahfi ayat 50–51 dengan menghadirkan Ustaz H Abdul Mutolib, M.Ag., dari Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas PDM Kota Surakarta.
Kajian mengupas kisah Iblis yang menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam AS. Dari ayat tersebut, jamaah diajak memahami ketaatan kepada Allah, hakikat Iblis sebagai bagian dari bangsa jin, serta pentingnya menyadari bahwa setan merupakan musuh manusia.
Dalam Surat Al-Kahfi ayat 50 disebutkan bahwa ketika Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam, mereka menaati perintah tersebut. Namun, Iblis menolak dan mendurhakai perintah Tuhannya.
Menurut penjelasan dalam kajian, kisah sujud malaikat kepada Adam AS disebutkan sebanyak tujuh kali dalam Al-Qur’an. Setiap penyebutan memberikan penekanan dan gambaran dari sisi yang berbeda.
Salah satu pesan penting yang disoroti adalah perbedaan karakter malaikat dan jin. Malaikat merupakan makhluk yang senantiasa taat kepada Allah SWT, sedangkan jin, sebagaimana manusia, memiliki pilihan untuk taat ataupun tidak.
Iblis sendiri ditegaskan dalam Surat Al-Kahfi ayat 50 sebagai bagian dari bangsa jin. Penolakan terhadap perintah Allah membuat Iblis disebut melakukan kefasikan.
Secara bahasa, istilah fasik berkaitan dengan sesuatu yang keluar dari kulitnya. Dalam konteks perilaku, kefasikan menggambarkan sikap keluar dari ketaatan kepada Allah SWT.
Bisikan Setan dan Malaikat
Kajian juga menjelaskan bahwa manusia menghadapi pengaruh dari dua arah, yakni bisikan yang mengajak kepada kebaikan dan bisikan yang mendorong kepada keburukan.
Hal tersebut dikaitkan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa setan membisikkan keburukan dan mendustakan kebenaran, sedangkan malaikat memberikan dorongan kepada kebaikan dan membenarkan kebenaran.
Pesan tersebut menjadi pengingat agar manusia mampu mengenali dorongan yang muncul dalam dirinya. Ketika muncul dorongan kepada kebaikan, manusia dianjurkan bersyukur kepada Allah. Sebaliknya, ketika muncul dorongan kepada keburukan, manusia diperintahkan berlindung kepada Allah dari godaan setan.
Dalam kajian juga dijelaskan bahwa perintah sujud kepada Adam AS bukanlah sujud ibadah, melainkan bentuk penghormatan. Penjelasan ini antara lain merujuk pada pandangan Mustafa Al-Maraghi mengenai tradisi penghormatan dengan sujud yang pernah dikenal pada masa terdahulu.
Iblis Adalah Musuh Manusia
Pesan berikutnya dari Surat Al-Kahfi ayat 50 adalah peringatan agar manusia tidak menjadikan Iblis dan keturunannya sebagai wali, baik dalam pengertian pelindung, penolong maupun pihak yang diikuti.
Allah SWT bahkan mempertanyakan bagaimana manusia dapat menjadikan Iblis sebagai penolong, sementara Iblis telah menunjukkan permusuhannya terhadap manusia.
Dalam kajian tersebut, ancaman Iblis kepada keturunan Adam juga dikaitkan dengan Surat Al-Isra ayat 62. Iblis menyatakan akan berusaha menyesatkan keturunan Adam, kecuali sebagian kecil dari mereka.
Hal serupa ditegaskan dalam Surat Shad ayat 39–40, ketika Iblis menyatakan akan menghiasi keburukan bagi manusia dan menyesatkan mereka, kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih karena keikhlasannya.
Karena itu, manusia diingatkan untuk tidak menjadikan setan sebagai pihak yang ditaati. Al-Qur’an dalam Surat Fatir ayat 6 juga secara tegas menyatakan bahwa setan merupakan musuh manusia sehingga harus diposisikan sebagai musuh.
Setan Tidak Memiliki Peran dalam Penciptaan
Surat Al-Kahfi ayat 51 kemudian memberikan penegasan lain. Allah SWT menyatakan bahwa Iblis dan keturunannya tidak dihadirkan untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi, bahkan tidak pula penciptaan diri mereka sendiri.
Pesan ini menunjukkan bahwa Iblis dan setan tidak memiliki peran dalam penciptaan alam semesta. Karena itu, mereka tidak memiliki dasar untuk dijadikan sekutu bagi Allah SWT dalam persoalan ibadah maupun kehidupan manusia.
Penjelasan tersebut juga dikaitkan dengan Surat Saba ayat 22 yang menegaskan bahwa pihak-pihak yang diseru selain Allah tidak memiliki kekuasaan seberat zarrah pun di langit maupun di bumi, tidak memiliki saham dalam penciptaan keduanya, dan tidak pula menjadi pembantu Allah.
Pada bagian akhir, Surat Al-Kahfi ayat 51 menegaskan bahwa Allah SWT tidak menjadikan pihak-pihak yang menyesatkan sebagai penolong.
Dari rangkaian ayat tersebut, kajian Tafsir PCM Kota Bengawan mengajak jamaah untuk memperkuat ketaatan kepada Allah SWT, mengenali tipu daya setan, serta tidak memberikan ruang bagi bisikan yang menjauhkan manusia dari kebenaran dan ketaatan. (*)


