29.2 C
Jakarta

MTsN 13 Boyolali Dorong Guru Konsisten Menulis

Baca Juga:

BOYOLALI, MENARA62.COM – MTs Negeri 13 Boyolali mencanangkan gerakan “Satu Guru, Satu Karya” untuk membangun tradisi menulis di kalangan pendidik. Program tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Pengembangan Tradisi Menulis dan Berbagi Inspirasi yang digelar di MTs Negeri 13 Boyolali, Tanjung, Klego, Boyolali, Rabu (23/9/2026).

 

Kegiatan yang diikuti sekitar 30 guru tersebut dibuka langsung Kepala MTs Negeri 13 Boyolali Rosyid Eko Priyono. Pelatihan menghadirkan Dr. Bramastia, M.Pd., kolumnis sekaligus pemerhati kebijakan pendidikan dan dosen S2 Pendidikan Sains Pascasarjana FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

 

Rosyid mengatakan program tersebut dirancang untuk mendorong guru berani menuangkan gagasan dan pengalaman mengajar ke dalam berbagai bentuk karya.

 

“Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir guru-guru yang berani menuangkan ide dalam bentuk karya ilmiah, artikel, opini, narasi inspiratif, maupun tulisan positif di media sosial,” ujar Rosyid.

 

Menurut dia, pengalaman dan praktik baik yang berlangsung di ruang kelas selama ini tidak seharusnya berhenti sebagai pengalaman pribadi. Pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi pengetahuan yang memberikan manfaat bagi sesama pendidik, peserta didik, maupun masyarakat.

 

Guru Didorong Tinggalkan Jejak Lewat Karya

 

Rosyid menekankan bahwa guru tidak hanya berperan mendidik generasi, tetapi juga dapat meninggalkan jejak pemikiran melalui tulisan.

 

Ia berharap gerakan tersebut melahirkan budaya “Guru Menulis, Guru Berkarya, Guru Menginspirasi” di lingkungan MTs Negeri 13 Boyolali.

 

“Harapan terbesar dari pelatihan ini adalah lahirnya budaya ‘Guru Menulis, Guru Berkarya, Guru Menginspirasi’. Sehingga ke depannya setiap guru MTs Negeri 13 Boyolali mampu menghasilkan setidaknya satu karya yang dapat dibaca, diapresiasi, dan memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan,” katanya.

 

Usai pembukaan, pelatihan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Bramastia. Salah satu materi utama yang diberikan adalah teknik menulis opini untuk media massa.

 

Bramastia menjelaskan bahwa menulis merupakan aktivitas yang berkaitan erat dengan proses berpikir. Kebiasaan menulis, kata dia, dapat membantu guru menjaga pikiran tetap dinamis dalam menghadapi berbagai perubahan zaman.

 

“Guru yang sering menulis bisa menumbuhkan semangat baru dan membuat pikiran senantiasa dinamis menerima perubahan zaman,” ungkap Bramastia.

 

Menulis Jadi Ruang Berbagi Inspirasi

 

Bramastia juga menyampaikan bahwa tulisan dapat menjadi sarana berbagi gagasan sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

 

Menurut dia, kemampuan menulis memiliki berbagai dampak positif, mulai dari menghasilkan karya, mengasah cara berpikir, hingga memberikan nilai tambah terhadap aktivitas profesional yang telah dilakukan.

 

“Menulis bisa menginspirasi diri kita dan lingkungan kita. Menulis merupakan bentuk kesalehan sosial yang bisa berujung meninggikan derajat kita,” ujarnya.

 

Dalam pelatihan tersebut, Bramastia juga menekankan pentingnya bagian akhir tulisan. Menurut dia, penutup atau closing statement perlu dirancang secara kuat agar meninggalkan kesan bagi pembaca.

 

“Bagian penutup dari gagasan yang disampaikan harus lebih menarik dan menggigit. Akhir tulisan adalah ending yang harus dirumuskan secara kuat, menarik, dan meninggalkan kesan pada pembaca,” katanya.

 

Ia menambahkan, penutup tulisan dapat menjadi ruang bagi penulis untuk menegaskan kembali gagasan sekaligus memperkuat pandangannya terhadap isu yang dibahas.

 

Melalui pelatihan ini, MTs Negeri 13 Boyolali berharap semakin banyak guru yang produktif menulis dan membagikan pengalaman serta praktik baik pendidikan. Gerakan “Satu Guru, Satu Karya” pun diarahkan menjadi budaya yang mendorong guru menghasilkan karya yang dapat dibaca dan memberi manfaat lebih luas. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!