SOLO, MENARA62.COM – Prototipe kapal penjaga pantai karya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memadukan teknologi perkapalan dengan identitas budaya Jawa. Kapal bernama Nabara itu menjadi andalan tim Intelligence Maritime Development Center (IMDC) UMS dalam Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2026.
Nabara merupakan singkatan dari Nakula Bahtera Arunika, prototipe kapal bertenaga listrik yang dioperasikan menggunakan kendali jarak jauh. Kapal tersebut tampil pada kategori Electric Remote Control (ERC) dalam babak final KKI 2026 di Politeknik Negeri Bengkalis, Riau, pada 14–17 September 2026.
Melalui kategori ERC, mahasiswa ditantang mengembangkan kemampuan dalam merancang, membuat, hingga menguji performa kapal dengan sistem penggerak listrik dan kendali jarak jauh.
Tim Nabara dipimpin Iqbal Zunan Nur Majid sebagai manajer bersama tujuh anggota, yakni Baihakhi, Dhimas Yudha, Dimas Prayoga, Itfaul, Fadil, Farzha, dan Muflih. Proses riset dan persiapan tim didampingi Afif Faishal, S.T., M.T.
KKI 2026 mengusung tema “Garda Maritim Nusantara: Inovasi Teknologi Kapal Coast Guard yang Tangguh, Responsif, dan Mandiri untuk Kedaulatan Bangsa.”
Tema tersebut mendorong peserta menghadirkan inovasi kapal penjaga pantai yang dapat merepresentasikan fungsi pengawasan, pengamanan, hingga keselamatan di wilayah perairan.
Usung Konsep Kapal Penjaga Pantai
Iqbal menjelaskan, desain Nabara mengadopsi sejumlah elemen yang menggambarkan kapal penjaga pantai. Di antaranya naval gun, radar, rapid fire, serta ruang tahanan sementara untuk merepresentasikan fungsi pengamanan.
Kapal tersebut juga dilengkapi lifeboat dan liferaft sebagai representasi perlengkapan pendukung pencarian dan pertolongan atau SAR di laut.
Menariknya, unsur teknologi tersebut dipadukan dengan identitas budaya Jawa. Tim memasukkan motif batik kawung, batik parang, serta tokoh wayang Nakula pada desain lambung kapal.
Perpaduan tersebut membuat Nabara tidak hanya tampil sebagai prototipe kapal dengan pendekatan teknologi, tetapi juga membawa unsur budaya lokal dalam karya rekayasa mahasiswa.
“Lama proses riset dan pembuatan kapal kurang lebih selama tiga bulan, dimulai dari perancangan lambung dan bangunan atas dengan software, proses manufaktur, serta pengujian komponen,” jelas Iqbal, Rabu (23/9/2026).
Tiga Bulan Riset, Hadapi Beragam Kendala
Dalam proses produksi, tim menghadapi sejumlah persoalan teknis. Salah satunya berkaitan dengan penggunaan material berbasis PLA pada bangunan atas kapal.
Material tersebut, berdasarkan pengalaman tim, mengalami perubahan bentuk ketika terpapar panas dalam waktu lama. Tim juga masih perlu memperdalam riset terkait proses finishing, terutama pengecatan, agar kualitas akhir kapal semakin optimal.
Pemilihan baterai juga membutuhkan pengujian terhadap sejumlah produk untuk memastikan spesifikasinya sesuai dengan ketentuan kompetisi.
Tantangan lain muncul ketika tim tiba di Bengkalis. Perbedaan kondisi panas dibandingkan Surakarta serta karakter air di lokasi perlombaan menjadi faktor yang harus diperhatikan dalam pengoperasian Nabara.
Tim bahkan sempat menghadapi kendala flexible shaft yang terlepas dari kopel. Persoalan tersebut berpengaruh terhadap performa kapal dan mengharuskan tim melakukan penanganan secara cepat di arena perlombaan.
Meski demikian, Nabara mampu mencatatkan sejumlah hasil dalam kompetisi. Pada uji ketahanan atau endurance, kapal tersebut sempat memimpin perolehan hasil sebelum mengakhiri pengujian di posisi keenam dengan capaian 12 lap 2KL.
Capaian tersebut disebut setara dengan tim Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
“Atmosfer pada saat perlombaan sangat kompetitif,” ungkap Iqbal.
Sementara dalam sesi Fun Race, Nabara menempati posisi keempat, di belakang tim Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH).
Jadi Bekal untuk Kompetisi Berikutnya
Bagi Iqbal, pengalaman di KKI 2026 menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat riset sekaligus kesiapan teknis tim. Hasil tersebut memberikan gambaran mengenai sejumlah aspek yang masih perlu diperbaiki agar IMDC UMS dapat mencapai target podium pada kompetisi berikutnya.
Pengalaman serupa dirasakan Dimas Prayoga, driver Kapal Nabara. Ia mengatakan pertandingan berlangsung seru sekaligus penuh tantangan, terutama karena kondisi cuaca di venue Politeknik Negeri Bengkalis yang panas dan terik.
“Pertandingan kemarin berjalan sangat seru dan penuh tantangan. Kondisi di venue Polbeng memang sangat panas terik. Kami juga sempat mengalami kendala teknis yang cukup krusial saat running, yaitu shaft kapal yang tiba-tiba copot sehingga tim harus sigap melakukan penanganan langsung di lapangan,” ujar Dimas.
Kondisi tersebut menguji kemampuan tim dalam mengambil keputusan dan berkoordinasi dengan cepat. Terlepasnya shaft menjadi salah satu persoalan krusial karena komponen tersebut berkaitan langsung dengan sistem penggerak dan performa kapal di lintasan.
Dimas juga menyebut persaingan KKI 2026 berlangsung intens. Bertemu dengan puluhan delegasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia menjadi pengalaman tersendiri bagi tim Nabara.
“Atmosfer kompetisinya terasa sangat besar dan luar biasa intens. Berhadapan langsung dengan puluhan delegasi dari kampus-kampus besar lainnya di ajang nasional memberikan tekanan kompetitif yang tinggi, namun sekaligus menjadi pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi tim kami,” katanya.
Menurut Dimas, pengalaman tersebut menjadi kesempatan bagi tim untuk meningkatkan kemampuan mengambil keputusan, menjaga ketenangan ketika menghadapi gangguan teknis, serta mempertahankan konsentrasi selama kapal berada di lintasan.
Ia juga mengapresiasi dukungan UMS selama proses persiapan hingga kompetisi. Dukungan tersebut mencakup pendanaan riset, motivasi, akomodasi, serta berbagai kebutuhan tim selama mengikuti KKI 2026.
“Dengan dukungan penuh dari universitas dan dibarengi riset dan kekompakan tim, kami yakin tim Intelligence Maritime Development Center (IMDC) mampu bersaing dan mendapatkan podium untuk perlombaan selanjutnya,” pungkasnya.
Pengalaman di KKI 2026 menjadi modal bagi IMDC UMS untuk menyempurnakan Nabara. Evaluasi tidak hanya diarahkan pada desain dan performa kapal, tetapi juga kesiapan teknis serta koordinasi tim dalam menghadapi situasi tak terduga di arena kompetisi. (*)
