SOLO, MENARA62.COM – Atmosfer internasional kembali menguat di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id. Sebanyak 30 mahasiswa dari 15 negara mengikuti orientasi mahasiswa internasional gelombang kedua 2026, memperluas ruang perjumpaan lintas budaya di lingkungan kampus.
Program Penyambutan dan Orientasi Mahasiswa Internasional 2026 itu digelar di Ruang Meeting B1 Lantai 2 Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Kamis (24/9/2026).
Para mahasiswa berasal dari Myanmar, Timor Leste, Brunei Darussalam, Filipina, Tanzania, Mesir, India, Yaman, Nigeria, Malawi, Bangladesh, Kenya, Vanuatu, Kepulauan Solomon, dan Malaysia.
Wakil Rektor V UMS, Prof. Supriyono, S.T., M.T., Ph.D., mengatakan UMS pada 2026 menerima sekitar 60 mahasiswa internasional yang terbagi dalam dua gelombang. Mereka menempuh pendidikan mulai jenjang sarjana, magister, hingga doktoral.
“Kehadiran Anda semua membawa budaya, bahasa, pengalaman, dan perspektif baru yang memperkaya universitas kami,” ujar Supriyono.
Dari Sarjana hingga Doktor
Mahasiswa internasional jenjang sarjana tersebar di sejumlah program studi, antara lain Teknik Sipil, Manajemen, Pendidikan Islam, Informatika, dan Geografi.
Sementara itu, mahasiswa jenjang magister menempuh studi pada program Psikologi, Pendidikan Bahasa Inggris, Ilmu Komputer, Farmasi, Teknik Mesin, Akuntansi, Keperawatan, dan Administrasi Rumah Sakit.
Adapun mahasiswa doktoral mengikuti program di bidang Psikologi, Pendidikan, dan Hukum.
Selain mahasiswa reguler, enam mahasiswa asal Malaysia juga mengikuti program pertukaran pelajar selama satu semester di UMS.
Supriyono menegaskan, orientasi tidak sekadar menjadi agenda penyambutan mahasiswa baru. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya UMS memastikan mahasiswa internasional memahami lingkungan akademik sekaligus memperoleh dukungan selama tinggal dan belajar di Indonesia.
Materi orientasi mencakup keselamatan dan keamanan, regulasi imigrasi, Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), akomodasi, asuransi, serta berbagai informasi terkait kehidupan dan studi di Indonesia.
UMS turut menggandeng Kantor Imigrasi Surakarta, Kepolisian Kota Surakarta, dan Kepolisian Sukoharjo dalam memberikan pembekalan kepada mahasiswa.
Setelah orientasi, mahasiswa internasional dijadwalkan mengikuti tur kampus dan tur Kota Surakarta. Agenda tersebut dirancang untuk membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus mengenal kehidupan sosial dan budaya setempat.
UMS Siapkan Ekosistem Internasional
Direktur Direktorat Reputasi, Kemitraan dan Urusan Internasional UMS, Nurgiyatna, Ph.D., mengatakan penerimaan mahasiswa internasional merupakan proses panjang yang melibatkan berbagai unit di UMS.
Tahapannya mencakup promosi dan komunikasi, aplikasi serta verifikasi dokumen, penilaian akademik dan administratif, penerimaan dan proses visa, pengaturan kedatangan, hingga registrasi dan orientasi.
“Komitmen kami bukan sekadar menerima mahasiswa internasional, tetapi juga memastikan bahwa perjalanan Anda di UMS dikelola dengan baik, aman, mendapat dukungan penuh, dan memberikan makna secara akademis,” jelas Nurgiyatna.
Menurut dia, keberagaman mahasiswa internasional menjadi kesempatan bagi sivitas akademika UMS untuk membangun interaksi lintas budaya.
Mahasiswa tidak hanya ditargetkan memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga mengenal budaya Indonesia, membangun jejaring internasional, serta bertukar pengalaman dan perspektif dengan komunitas kampus.
“Internasionalisasi sejatinya bukan sekadar tentang belajar di negara lain, melainkan tentang bertemu dengan banyak orang, memahami perbedaan, membangun koneksi, dan bersama-sama menciptakan dampak yang positif,” ungkapnya.
Mahasiswa Tanzania Terpikat Riset UMS
Salah satu peserta orientasi, Evarist Fuko Nsumie dari Dar es Salaam, Tanzania, menjadi bagian dari gelombang mahasiswa internasional tersebut. Ia merupakan mahasiswa baru Program Magister Administrasi Rumah Sakit UMS penerima International Priority Scholarship (IPS).
Evarist mengatakan pengalaman UMS dalam menerima mahasiswa dari berbagai negara serta pengembangan publikasi penelitian menjadi salah satu pertimbangannya memilih UMS.
“Saya memilih UMS karena ini adalah institusi swasta terbesar di Indonesia yang menerima mahasiswa internasional dari seluruh dunia. Universitas ini juga sangat mahir dalam publikasi penelitian,” tuturnya.
Kesan positif juga dirasakan Evarist sejak tiba di Indonesia. Ia menilai sambutan UMS ramah dan membantunya mengenal budaya serta kehidupan masyarakat Indonesia.
Selama berada di Surakarta, Evarist mulai mencicipi sejumlah makanan Indonesia, seperti nasi goreng, nasi ayam, dan gudeg. Ia juga mencoba jus jambu dan mangga.
Tak hanya soal kuliner, Evarist mulai mempelajari bahasa Indonesia. Ia bahkan telah mampu memperkenalkan diri, memesan makanan, hingga berbelanja menggunakan bahasa Indonesia.
Di luar kegiatan akademik, ia rutin berolahraga dengan jogging pada pagi hari dari kawasan kampus UMS menuju jembatan di sekitar kampus.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses adaptasi Evarist sebelum menjalani kehidupan akademiknya di UMS.
Ke depan, ia ingin memperdalam pengetahuan dan keterampilan di bidang administrasi rumah sakit. Setelah menyelesaikan studi, Evarist berencana kembali ke Tanzania dan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya di UMS untuk mendukung pengembangan sistem pelayanan kesehatan di negaranya.
“Saya ingin berprestasi lebih tinggi dan memperoleh lebih banyak keterampilan dalam administrasi rumah sakit. Setelah menyelesaikan studi, saya ingin kembali ke negara saya dan menggunakan pengetahuan, keterampilan, serta keahlian dari UMS untuk mengembangkan sistem perawatan kesehatan di Tanzania,” pungkasnya. (*)
