31.6 C
Jakarta

AstroTactile UAD Bantu Siswa Tunanetra Kenali Alam Semesta

Baca Juga:

BANTUL, MENARA62.COM — Belajar astronomi tidak harus selalu melalui gambar dan pengamatan visual. Siswa tunanetra kini dapat mengenal galaksi, tata surya hingga permukaan planet melalui media taktil yang dapat diraba.

 

Pendekatan tersebut diperkenalkan Pusat Studi Astronomi (PASTRON) dan Pusat Studi Disabilitas (PSD) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melalui program AstroTactile: Meraba dan Mengenal Alam Semesta.

 

Kegiatan yang menjadi bagian dari skema pendanaan Program IN-SAINTEK 2026 Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi itu berlangsung di SLB Negeri 1 Bantul pada 14–15 September 2026. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan di kantor Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) pada 19 September 2026.

 

AstroTactile dirancang untuk memperluas akses literasi astronomi bagi siswa tunanetra dan low vision melalui media pembelajaran berbasis taktil. Berbagai objek astronomi dibuat dalam bentuk tiga dimensi menggunakan printer 3D maupun relief yang dapat dieksplorasi dengan indra peraba.

 

Media yang diperkenalkan meliputi model galaksi, rasi bintang, tata surya, serta relief permukaan sejumlah benda langit, seperti Bulan, Mars, Jupiter, asteroid, dan Saturnus.

 

Dengan bantuan modul penggunaan AstroTactile, siswa dapat meraba bentuk objek sembari mendapatkan penjelasan secara lisan. Metode tersebut memungkinkan peserta menghubungkan informasi yang didengar dengan bentuk yang dirasakan.

 

Mengenal Galaksi dan Rasi Bintang Lewat Rabaan

 

Pelaksanaan di SLB Negeri 1 Bantul melibatkan 30 peserta yang terdiri atas siswa, guru, dan pendamping mahasiswa.

 

Kegiatan diawali dengan pembukaan program IN-SAINTEK yang dihadiri Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat. Peserta kemudian diperkenalkan dengan alam semesta, galaksi, dan rasi bintang.

 

Siswa mendapat kesempatan mengeksplorasi model Galaksi Bimasakti, galaksi spiral, serta rasi bintang Orion yang juga dikenal dengan nama Waluku.

 

Melalui alat peraga tersebut, siswa dapat mengenali pola dan bentuk objek astronomi yang tidak dapat mereka amati secara langsung. Pengalaman meraba bentuk menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman mengenai objek-objek di alam semesta.

 

Pada hari kedua, materi beralih ke tata surya dan karakteristik benda langit. Peserta mengeksplorasi model kawah Bulan, gunung berapi dan ngarai di Mars, permukaan Jupiter, asteroid, hingga Saturnus.

 

Perbedaan bentuk dan relief pada setiap alat peraga menjadi bahan eksplorasi untuk mengenalkan karakteristik masing-masing benda langit.

 

Belajar Astronomi Bersama Komunitas Tunanetra

 

Rangkaian AstroTactile berlanjut di kantor ITMI pada 19 September 2026. Kegiatan ini melibatkan 11 peserta yang terdiri atas siswa tunanetra dan masyarakat.

 

Materi yang diberikan mencakup tata surya, galaksi, dan rasi bintang. Peserta menggunakan media taktil sembari mengikuti penjelasan dan sesi tanya jawab.

 

Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah rasi bintang Orion. Melalui pola taktil dan penjelasan pendamping, peserta diajak memahami gambaran Orion sebagai sosok pemburu yang dilengkapi perisai dan senjata.

 

Pembelajaran berlangsung secara eksploratif melalui praktik, diskusi, dan refleksi bersama guru pendamping. Peserta juga menggunakan berbagai analogi untuk menghubungkan bentuk planet dan galaksi dengan benda-benda yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

Sesi tanya jawab menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana peserta memahami materi. Pendamping juga memberikan penjelasan ulang terhadap konsep yang masih membutuhkan pendalaman.

 

Guru Disiapkan untuk Melanjutkan Pembelajaran

 

Keterlibatan guru pendamping menjadi salah satu bagian penting dalam program AstroTactile. Guru tidak hanya mendampingi siswa selama kegiatan, tetapi juga mempelajari cara menggunakan media taktil agar alat peraga dapat dimanfaatkan kembali dalam pembelajaran di sekolah.

 

Dengan demikian, pengalaman belajar astronomi yang diperoleh siswa tidak berhenti ketika kegiatan selesai.

 

Melalui AstroTactile, PASTRON UAD berupaya menghadirkan pembelajaran astronomi yang lebih inklusif dengan mengakomodasi keberagaman cara belajar. Media taktil, modul Braille, dan pendampingan digunakan untuk memperluas akses penyandang disabilitas netra terhadap pengetahuan astronomi.

 

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendekatkan sains kepada masyarakat melalui pengalaman belajar yang dapat diakses sesuai kebutuhan peserta.

 

Kolaborasi antara PASTRON UAD, PSD UAD, sekolah, guru pendamping, dan komunitas tunanetra diharapkan dapat mendukung keberlanjutan penggunaan media pembelajaran sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu peserta untuk terus mengenal alam semesta. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!