DENPASAR, MENARA62.COM — Pengalaman belajar di luar negeri tidak selalu membuat seseorang memilih melanjutkan pendidikan di negara lain. Bagi Dafa Titan Arvian, justru Bali menjadi pilihan untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui BIM University.
Dafa merupakan lulusan Darwin High School, Australia. Sebelumnya, mahasiswa asal Jakarta Selatan itu juga pernah menempuh pendidikan di Bali Hati International School, Ubud.
Kini, ia memilih Program Studi Bisnis Digital di BIM University. Salah satu alasannya adalah keberadaan program internasional yang ditawarkan kampus tersebut, sekaligus karakter BIM University sebagai perguruan tinggi Muslim.
“Saya memilih BIM University karena BIM merupakan salah satu universitas yang memiliki program internasional di Bali. Selain itu, BIM juga merupakan universitas Muslim,” ujar Dafa, Senin (5/10/2026).
Pilihan tersebut sejalan dengan ketertarikannya pada dunia bisnis yang semakin erat dengan perkembangan teknologi digital. Melalui program Bisnis Digital, Dafa ingin memahami bagaimana sebuah bisnis dibangun, dipertahankan, hingga dikembangkan di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Namun, target Dafa selama kuliah tidak berhenti pada ruang kelas. Ia juga ingin aktif dalam organisasi mahasiswa untuk mengasah kemampuan komunikasi, kerja sama, dan kepemimpinan.
Baginya, pendidikan tinggi bukan sekadar mengejar gelar akademik. Lingkungan kampus juga menjadi ruang untuk membangun jejaring dan mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional maupun kewirausahaan.
Dari Timor Leste ke Bali
Cerita serupa datang dari Gladis Soares Gama. Mahasiswa asal Timor Leste itu memilih Bali sebagai tempat melanjutkan pendidikan tinggi setelah mengenal BIM University melalui media sosial.
Gladis mengaku pertama kali menemukan informasi mengenai BIM University melalui TikTok. Konten kampus yang muncul di halaman rekomendasinya membuatnya tertarik, terutama karena lingkungan internasional dan fasilitas yang ditawarkan.
“Saya lihat di TikTok tahun lalu ada universitas yang lewat FYP saya. Itu BIM University. Saya tertarik karena sekolahnya internasional dan fasilitasnya juga bagus,” kata Gladis.
Ketertarikan Gladis pada dunia bisnis juga tidak muncul begitu saja. Lingkungan keluarganya turut membentuk minat tersebut. Karena itu, kuliah di luar Timor Leste dipandangnya sebagai kesempatan untuk mempelajari hal-hal baru, memperluas wawasan, sekaligus mendapatkan pengalaman pendidikan yang berbeda.
“BIM ini yang saya pilih untuk meraih cita-cita saya untuk sukses ke depannya. Saya ingin mempelajari hal-hal baru,” tuturnya.
Gladis bahkan berharap pengalamannya selama belajar di BIM University dapat menjadi pintu bagi lebih banyak anak muda Timor Leste untuk mengenal pendidikan tinggi di Bali.
“Saya juga ingin membawa teman-teman saya kuliah di BIM,” ujarnya.
Mempertemukan Perspektif Global
Rektor BIM University Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., mengatakan pengalaman Dafa dan Gladis menunjukkan bagaimana BIM University mulai mempertemukan mahasiswa dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman internasional yang beragam.
Dafa datang dengan pengalaman pendidikan di Australia dan Bali. Sementara Gladis menempuh perjalanan dari Timor Leste untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Indonesia.
Menurut Harun, perbedaan latar belakang tersebut justru menjadi kekuatan dalam membangun lingkungan akademik yang berorientasi global.
“Keduanya melihat BIM University bukan hanya sebagai tempat memperoleh pendidikan akademik, tetapi juga sebagai ruang untuk mengenal lingkungan baru, membangun jejaring, dan mempersiapkan masa depan,” ujarnya.
Kehadiran mahasiswa dari berbagai latar belakang tersebut sekaligus menjadi bagian dari perjalanan BIM University dalam membangun ekosistem pendidikan yang terbuka terhadap perspektif global.
Semangat “Be International Mind” yang diusung BIM University semakin relevan ketika mahasiswa dengan pengalaman berbeda dipertemukan dalam satu ruang pembelajaran.
Bagi BIM University, pendidikan internasional bukan semata tentang asal negara mahasiswa. Lebih dari itu, pendidikan internasional berarti menciptakan lingkungan yang memungkinkan mahasiswa bertukar perspektif, memperluas jejaring, dan menyiapkan diri menghadapi dunia yang semakin terhubung.
Kisah Dafa dan Gladis menjadi gambaran bahwa Bali kini tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga mulai dilirik sebagai tujuan pendidikan tinggi oleh mahasiswa dengan pengalaman lintas negara. (*)
