JAKARTA, MENARA62.COM – Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Dr. Amirsyah Tambunan, M.A yang dikenal sebagai ulama sekaligus tokoh Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), menyampaikan tausiyah kebangsaan dalam acara Silaturahmi Kebangsaan dan Halal Bihalal. Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional serta pengurus ICMI dari berbagai daerah, dan berlangsung pada Jumat (17/4/2026) di Ballroom Hotel Millennium, Jakarta.
Dalam kesempatan yang sama, ICMI juga memberikan sejumlah penghargaan, di antaranya kepada K.H. Ma’ruf Amin sebagai penerima penghargaan “Senior ICMI” tahun 2026.
Dalam tausiyahnya, Amirsyah menyoroti sambutan Ketua Umum ICMI, Prof. Arief Satria. Pertama, ia menekankan pentingnya setiap insan memiliki hati yang bersih sebagai fondasi dalam memperkuat karakter kepemimpinan. Menurutnya, kemenangan dan keberuntungan hanya dapat diraih dengan hati yang bersih, sebagaimana firman Allah dalam QS. Asy-Syams ayat 9:(قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا) “Qad aflaha man zakkaha” (Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya).
Ia menegaskan bahwa ICMI sebagai wadah cendekiawan Muslim harus terus menjaga karakter sebagai organisasi yang intelektual, inovatif, dan berakhlak mulia. Dalam konteks kebangsaan, berbagai program unggulan pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, dan subsidi perumahan, perlu dikelola secara profesional dan berkarakter.
Lebih lanjut, Amirsyah menyampaikan bahwa ICMI saat ini menghadapi tantangan besar di tingkat nasional dan global. Ia mengingatkan pentingnya mencegah terjadinya benturan peradaban, sebagaimana tesis “Clash of Civilizations” yang dikemukakan oleh Samuel P. Huntington, yang menyebutkan bahwa konflik pasca-Perang Dingin lebih banyak dipicu oleh perbedaan budaya dan agama.
“Oleh karena itu, para cendekiawan harus bersatu menolak benturan peradaban yang dapat merusak tatanan dunia, termasuk di Indonesia, yang kerap dipicu oleh kepentingan ekonomi, politik, dan lainnya. Kepentingan utama kita adalah menyelamatkan Indonesia dari ancaman geopolitik agar kedaulatan negara tetap terjaga,” tegasnya.
Kedua, ia menekankan pentingnya rasa kasih sayang yang dilandasi ukhuwah sebagai pondasi dalam menjaga kepentingan bangsa. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Maryam ayat 96:
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمٰنُ وُدًّا ٩٦
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta di dalam hati mereka.”
Menurutnya, kekuatan silaturahmi sepanjang masa merupakan bagian penting dalam merekatkan peradaban umat dan bangsa, terutama di tengah dunia yang menghadapi krisis akibat benturan kepentingan sumber daya alam dan energi.
Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus menjaga persatuan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 103:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ
“Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai.”
“Mari jadikan ICMI sebagai perekat peradaban umat dan bangsa dalam pergaulan dunia internasional,” pungkasnya.
