SOLO, MENARA62.COM — Pendidikan demokrasi dikenalkan kepada generasi muda sejak bangku sekolah. Sebanyak 219 siswa SMPN 24 Program Khusus Surakarta mengikuti simulasi pemilihan Ketua OSIS secara elektronik atau e-voting, Rabu (7/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di aula SMPN 24 Program Khusus Surakarta tersebut merupakan bagian dari program kokurikuler Suara Demokrasi. Dalam kegiatan itu, Bawaslu Kota Surakarta hadir sebagai pendamping sekaligus narasumber, yakni Agus Sulistyo dan Poppy Kusuma NW.
Sebelum mengikuti simulasi e-voting, para siswa diajak memahami praktik demokrasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Demokrasi, misalnya, dapat dimulai dengan membiasakan musyawarah, menghargai pendapat teman, serta bersikap hormat dan santun kepada guru maupun orang lain tanpa membedakan usia.
Para siswa juga didorong berani menyampaikan pendapat di kelas secara bertanggung jawab. Di tengah derasnya arus informasi digital, mereka diingatkan pentingnya melakukan cek dan ricek sebelum mempercayai ataupun menyebarkan informasi.
“Demokrasi itu sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana di sekolah. Berani berpendapat, menghargai pendapat orang lain, dan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya,” ujar Poppy, yang akrab disapa Poppy.
Belajar Menerima Kekalahan
Selain memahami cara menyampaikan pendapat, siswa juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menerima hasil dari sebuah proses pemilihan.
Perbedaan pilihan dalam pemilihan OSIS, kata dia, merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Siswa yang terpilih maupun yang belum terpilih tetap harus saling menghormati dan menerima kekalahan tanpa diikuti ujaran kebencian maupun permusuhan.
Antusiasme siswa terlihat ketika simulasi e-voting dimulai. Dengan memanfaatkan gawai masing-masing, mereka mengikuti tahapan pemilihan secara elektronik.
Penggunaan teknologi tersebut membuat pengalaman berdemokrasi terasa lebih dekat dengan keseharian siswa sebagai generasi yang akrab dengan teknologi digital.
Agus Sulistyo mengatakan, pembelajaran berdemokrasi secara santun sejak sekolah menjadi bagian dari upaya mempersiapkan siswa sebagai pemilih pemula pada Pemilu 2029.
Sebagian besar siswa kelas IX saat ini diperkirakan akan menggunakan hak pilih untuk pertama kalinya pada pesta demokrasi 2029.
“Mereka kita persiapkan menjadi pemilih yang cerdas pada Pemilu 2029. Karena nanti akan menjadi pemilih pemula, Bawaslu siap memberikan coaching dan pendampingan agar mereka memahami hak dan tanggung jawabnya sebagai pemilih,” kata Agus.
Menurutnya, pendidikan pemilih tidak harus menunggu tahapan pemilu dimulai. Sekolah justru dapat menjadi ruang strategis untuk membangun kebiasaan berdemokrasi sejak dini melalui pengalaman yang sederhana dan kontekstual.
Youth Election Jadi Model Pendidikan Demokrasi
Agus menilai model Youth Election melalui simulasi e-voting dapat dikembangkan sebagai salah satu bentuk pendidikan demokrasi bagi generasi muda.
Model tersebut memungkinkan siswa tidak hanya mengenal konsep demokrasi, tetapi juga mempraktikkan secara langsung proses memilih dan menentukan pilihan.
“Kegiatan Youth Election seperti ini bisa menjadi role model untuk meningkatkan kualitas pemilih pemula pada masa yang akan datang. Kita ingin mereka tidak hanya tahu cara memilih, tetapi juga memahami nilai-nilai demokrasi sehingga ikut mendukung ekosistem demokrasi next level,” ujar Agus.
Melalui kegiatan tersebut, demokrasi diharapkan tidak berhenti sebagai materi pembelajaran di kelas. Para siswa mendapatkan pengalaman langsung memilih, menghargai perbedaan pilihan, menerima hasil pemilihan, sekaligus menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dalam kehidupan demokrasi.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar pengetahuan, tetapi juga ruang untuk membentuk calon pemilih yang cerdas, kritis, santun, dan bertanggung jawab menjelang Pemilu 2029. (*)

