JAKARTA, MENARA62.COM — Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) sekaligus Presiden Direktur Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja, mendorong penguatan kemitraan internasional sebagai langkah strategis dalam membangun industri penerbangan Indonesia yang lebih kompetitif, aman, dan berkelanjutan.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Golf: Friendship Beyond Fairway di Pondok Indah Golf Course, Jakarta, Sabtu (31/10/2026). Pertemuan ini mempertemukan komunitas diplomatik dari 35 negara mitra internasional bersama Indonesia sebagai tuan rumah, regulator, dan pelaku industri aviasi dalam sebuah forum networking yang membuka ruang dialog mengenai masa depan penerbangan nasional.
Menurut Denon, karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menempatkan sektor penerbangan pada posisi yang berbeda dibandingkan banyak negara lain. Konektivitas udara tidak hanya berfungsi memindahkan penumpang, tetapi juga menghubungkan pusat-pusat ekonomi, membuka akses ke wilayah terpencil, serta mendukung perdagangan dan pariwisata.
“Bagi negara seperti Indonesia, penerbangan bukan sekadar sarana transportasi, melainkan kebutuhan nasional. Karena itu, pengembangan industri aviasi harus berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan konektivitas,” ujar Denon.
Dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memiliki kebutuhan layanan penerbangan yang luas. Namun, Denon menilai potensi tersebut tidak cukup dijawab melalui penambahan kapasitas semata. Industri juga membutuhkan regulasi keselamatan yang kuat, efisiensi operasional, serta model bisnis yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Ia menekankan bahwa pertumbuhan industri penerbangan tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan ekonomi para pelaku usaha. Ekspansi konektivitas perlu didukung oleh ekosistem yang sehat agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat maupun sektor produktif lainnya.
Di sisi lain, pengembangan aviasi nasional juga membutuhkan kerja sama dengan mitra internasional, terutama dalam investasi, pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pertukaran pengetahuan.
Melalui jejaring diplomatik dan industri yang terbangun dalam kegiatan tersebut, Denon melihat peluang untuk memperluas dialog antara pelaku usaha Indonesia dan mitra dari berbagai negara.
“Ambisi kita bukan hanya membangun industri penerbangan yang lebih besar, tetapi ekosistem aviasi yang lebih baik, yang mampu menciptakan peluang dan manfaat ekonomi bersama,” tambahnya.
Sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, Denon menilai kolaborasi lintas negara akan menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan daya saing industri penerbangan nasional.
Baginya, masa depan aviasi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh jumlah rute, armada, atau infrastruktur yang dibangun, tetapi juga oleh kemampuan industri menciptakan konektivitas yang bernilai ekonomi.
Pertemuan ini sekaligus menegaskan pentingnya membangun hubungan internasional yang tidak berhenti pada forum formal, tetapi terus berkembang menjadi kemitraan produktif bagi industri penerbangan Indonesia. (*)

