MADIUN, MENARA62.COM — Keberhasilan Tim Nasional (Timnas) Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 memicu euforia luar biasa di tengah masyarakat. Kemenangan atas Thailand melalui adu penalti 4-2 di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Senin (5/10/2026), tidak hanya menjadi pencapaian di lapangan hijau, tetapi juga dapat dibaca sebagai fenomena budaya.
Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT), Dr. Fajar Junaedi, M.Si., melihat euforia kemenangan Timnas Indonesia memiliki makna penting jika ditinjau dari perspektif cultural studies atau kajian budaya.
Menurut Fajar, kemenangan Timnas memperlihatkan bagaimana identitas nasional dibentuk dan terus diproduksi melalui representasi, narasi, serta praktik bersama masyarakat.
Ia merujuk pemikiran Stuart Hall yang menjelaskan bahwa identitas nasional bukanlah sesuatu yang sudah jadi dan bersifat tetap. Identitas justru terus menjadi melalui berbagai representasi dan pengalaman kolektif.
“Kemenangan Timnas berfungsi sebagai peristiwa yang menandai batas ‘kita’ dan ‘mereka’. Jersey merah putih, lagu kebangsaan, komentar ‘Garuda di dadaku’, atau seruan ‘Indonesia menang’ menjadi penanda yang mengaktifkan rasa memiliki,” ujar Fajar, Rabu (7/10/2026).
Ia menjelaskan, fenomena tersebut juga dapat dipahami melalui konsep imagined community yang diperkenalkan Benedict Anderson. Bangsa, dalam konsep tersebut, merupakan komunitas yang anggotanya membayangkan diri sebagai bagian dari komunitas yang sama meskipun tidak saling mengenal.
Menurut Fajar, siaran langsung pertandingan, pemberitaan media, hingga linimasa media sosial membuat jutaan masyarakat Indonesia seolah hadir secara bersamaan dalam satu momentum.
“Rasa kebersamaan di sini tidak lahir dari kedekatan fisik semata, melainkan dari keserentakan simbolik,” katanya.
Meme Jadi Ruang Produksi Makna
Euforia kemenangan Timnas juga terlihat dari menjamurnya meme, video edit, stiker, hingga komentar di media sosial. Fajar menilai fenomena tersebut menunjukkan munculnya budaya partisipatoris.
Masyarakat tidak lagi hanya menjadi penerima pesan dari media massa. Mereka turut memproduksi dan mendistribusikan makna melalui berbagai konten digital.
Fajar menyebut fenomena itu dapat dibaca melalui konsep textual poaching. Materi yang sebelumnya diproduksi secara resmi, seperti cuplikan pertandingan, selebrasi pemain, logo tim, atau foto pemain, diambil dan diolah kembali oleh masyarakat sesuai dengan konteks serta kreativitas mereka.
“Penonton tidak hanya menerima pesan dari media massa, tetapi mereka menjadi produsen makna,” jelasnya.
Dari perspektif semiotika budaya populer, kata Fajar, konten-konten tersebut bekerja dalam beberapa tingkatan.
Pada tingkat primer, terdapat tanda denotatif berupa skor pertandingan, selebrasi pemain, jersey, dan bendera. Pada tingkat sekunder, tanda tersebut kemudian memperoleh konotasi seperti kegigihan, kebangkitan, perjuangan, hingga perasaan “akhirnya kita bisa”.
Sementara pada tingkat tersier, unggahan tersebut berkembang menjadi praktik sosial. Masyarakat menunjukkan identitasnya sebagai bagian dari kerumunan simbolik dengan membagikan, memberikan komentar, maupun menciptakan versi konten mereka sendiri.
Media Sosial Buka Ruang Perbedaan Tafsir
Fajar yang baru merilis buku Komunikasi Olahraga di Era Digital juga menilai konsep encoding/decoding Stuart Hall relevan untuk membaca fenomena euforia kemenangan Timnas.
Menurutnya, media arus utama maupun akun resmi dapat mengodekan kemenangan sebagai prestasi olahraga, simbol nasionalisme, atau bahkan komoditas yang berkaitan dengan sponsor dan rating.
Namun, ketika pesan tersebut diterima audiens, maknanya tidak selalu sama.
Audiens dapat melakukan pembacaan dominan dengan menerima dan merayakan kemenangan. Mereka juga dapat melakukan pembacaan negosiatif, yakni tetap merayakan keberhasilan Timnas sembari menyampaikan kritik terhadap wasit, federasi, maupun ketimpangan fasilitas olahraga.
Di sisi lain, terdapat pula pembacaan oposisional ketika sebagian masyarakat menolak euforia tersebut karena alasan politik atau kekecewaan terhadap persoalan struktural.
“Komentar dan meme sering menjadi ruang pembacaan negosiatif itu,” ujar Fajar.
Dengan demikian, menurut Fajar, kemenangan Timnas Indonesia tidak semata-mata dapat dipandang sebagai hasil pertandingan sepak bola. Euforia yang muncul di tengah masyarakat memperlihatkan bagaimana olahraga, media, simbol nasional, dan budaya digital saling berkelindan dalam membentuk identitas kolektif.
Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sepak bola memiliki kekuatan sosial dan budaya yang mampu mempertemukan masyarakat dalam pengalaman simbolik yang sama, meski mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. (PJ/*)

