BOYOLALI, MENARA62.COM — Kemarau panjang membuat sejumlah wilayah di Kabupaten Boyolali kembali dilanda kekeringan. Ketika sumur warga mulai mengering, Muhammadiyah Surakarta turun tangan dengan menyalurkan 105 ribu liter air bersih untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Bantuan tersebut disalurkan pada Sabtu (3/10/2026) melalui 13 tangki air ke 12 titik yang tersebar di Kecamatan Wonosamodro, Wonosegoro, dan Juwangi.
Tiga wilayah tersebut termasuk kawasan yang rutin mengalami dampak kekeringan cukup parah. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kabupaten Boyolali menjadi salah satu wilayah yang terdampak kekeringan dengan status awas.
Musim kemarau yang berlangsung sejak Juni 2026 membuat sejumlah sumber air warga mengering. Kondisi itu memaksa masyarakat mengandalkan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sedikitnya 762 kepala keluarga (KK) menerima manfaat dari penyaluran bantuan tersebut.
Aksi kemanusiaan ini merupakan hasil kolaborasi RS PKU Muhammadiyah Surakarta, Kantor Layanan Lazismu RS PKU Muhammadiyah Surakarta, Lazismu Daerah Kota Surakarta, Lazismu Daerah Boyolali, dan MDMC Boyolali.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari semangat One Muhammadiyah One Response (OMOR) dalam merespons persoalan kemanusiaan dan bencana di masyarakat.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surakarta, KH Anwar Sholeh, M.Hum., mengapresiasi gerakan tersebut. Menurutnya, aksi membantu warga terdampak kekeringan sejalan dengan semangat Teologi Al-Ma’un.
“Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surakarta mengapresiasi upaya yang dilakukan ini. Mudah-mudahan untuk yang akan datang usaha yang sangat positif ini layak untuk dilanjutkan, sesuai dengan yang terkandung dalam Teologi Al-Ma’un. Semoga bisa membuat gembira masyarakat,” ujarnya.
Warga Andalkan Bantuan Air
Bagi warga terdampak kekeringan, air bersih bukan sekadar bantuan, melainkan kebutuhan pokok yang harus tersedia setiap hari.
Salah seorang warga Getas Krikil mengatakan air bantuan biasanya ditampung menggunakan jeriken di rumah. Persediaan tersebut hanya cukup untuk beberapa hari.
“Berharap bantuan dari masyarakat. Jeriken-jeriken ini kami tampung di rumah. Kurang lebih sekali ambil ini dua sampai tiga hari sudah habis. Kalau tidak musim kering, sumber air yang kami gunakan dari sumur,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menunjukkan beratnya dampak kemarau panjang bagi masyarakat. Ketika sumur tak lagi bisa diandalkan, distribusi air bersih menjadi salah satu tumpuan warga untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Perwakilan Kepala Kecamatan Wonosamodro, Azinar Ismail, menyampaikan terima kasih kepada RS PKU Muhammadiyah Surakarta dan seluruh pihak yang terlibat.
“Kami mewakili Kepala Kecamatan Wonosamodro mengucapkan terima kasih atas bantuan air bersih ke wilayah Wonosamodro. Semoga RS PKU Muhammadiyah Surakarta semakin jaya dan sukses selalu dalam melayani masyarakat, terutama di daerah Solo Raya,” katanya.
Muhammadiyah Hadir Lewat Aksi Nyata
Sebelum diberangkatkan menuju Boyolali, bantuan air bersih tersebut dilepas dalam seremoni di halaman parkir RS PKU Muhammadiyah Surakarta.
Kegiatan itu dihadiri jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surakarta, Direksi RS PKU Muhammadiyah Surakarta, Lazismu KL RS PKU Muhammadiyah Surakarta, Lazismu Daerah Kota Surakarta, Majelis PKU Kota Surakarta, serta tim RS PKU Muhammadiyah Surakarta.
Direktur RS PKU Muhammadiyah Surakarta, dr. Arief Budiman, M.Si.Med., Sp.B, M.H, MARS., FINACS, menegaskan bahwa kepedulian terhadap masyarakat harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Sebagaimana warga Muhammadiyah untuk ikut peduli, tidak hanya simpatik, tidak hanya berdoa, tapi wujud nyata yang bisa dilakukan. Salah satu upaya kita memberikan bantuan meskipun tidak seberapa. Tiga belas tangki ini memberikan harapan bagi masyarakat yang terdampak di sana,” tuturnya.
Menurut Arief, kondisi masyarakat di wilayah terdampak menunjukkan kebutuhan mendesak terhadap air untuk kehidupan sehari-hari. Karena itu, bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga selama kemarau masih berlangsung.
“Kondisi di sana benar-benar membutuhkan air untuk kehidupan sehari-hari. Bantuan ini menjadi harapan masyarakat di sana. Semoga yang bertugas bisa menjalankan tugas sebaik-baiknya, amanah ini sampai ke tujuan, dan harapannya akan bermanfaat di sana. Semoga upaya yang dilakukan dan diusahakan mendapatkan rida Allah SWT,” ujarnya.
Penyaluran 105 ribu liter air bersih tersebut menjadi bukti kolaborasi berbagai unsur Muhammadiyah dalam merespons persoalan kekeringan.
Melalui semangat One Muhammadiyah One Response, gerakan kemanusiaan tidak berhenti pada kepedulian, tetapi diwujudkan dalam aksi langsung untuk masyarakat yang membutuhkan.
Bagi warga Boyolali yang terdampak kekeringan, bantuan itu bukan sekadar air yang mengisi jeriken. Di tengah kemarau panjang, setiap tangki yang datang menjadi harapan untuk bertahan memenuhi kebutuhan sehari-hari. (AI/*)

