JAKARTA, MENARA62.COM – Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI, Waryono Abdul Ghafur, menegaskan bahwa tujuan utama lembaga amil zakat (LAZ) bukan sekadar menghimpun dana, melainkan menghadirkan dampak nyata dalam mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Waryono saat memberikan sambutan pada resepsi Milad ke-24 Lazismu yang mengusung tema Integrasi Menguatkan Dampak. Menurutnya, tema tersebut sangat relevan dengan tantangan pengelolaan zakat di Indonesia.
“Semua orang berbicara tentang integrasi, tetapi mewujudkannya tidak mudah. Bahkan mengintegrasikan data saja bukan pekerjaan yang sederhana, apalagi mengintegrasikan berbagai potensi yang ada,” ujarnya.
Waryono menekankan bahwa sasaran utama badan maupun lembaga amil zakat adalah kelompok fakir dan miskin. Namun, meningkatkan taraf hidup mereka agar keluar dari lingkaran kemiskinan membutuhkan strategi, instrumen pengukuran yang tepat, serta dukungan para muzaki.
“Bagaimana menaikkan kelas fakir dan miskin itu tidak mudah. Pengukurannya juga memerlukan berbagai instrumen. Di sisi lain, penguatan muzaki sangat menentukan besarnya penghimpunan zakat,” katanya.
Ia mengungkapkan hasil penelitian Amelia Fauzia yang menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen muzaki masih menyalurkan donasi secara langsung di luar lembaga amil zakat. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi seluruh LAZ untuk meningkatkan kepercayaan publik melalui tata kelola yang profesional dan program yang berdampak.
Dalam kesempatan itu, Waryono juga mengucapkan selamat atas usia ke-24 Lazismu. Menurutnya, usia tersebut menunjukkan bahwa Lazismu telah menjadi lembaga yang matang dan memiliki kontribusi penting dalam mendukung tugas pemerintah.
“Saya berterima kasih karena ada lembaga amil zakat yang lahir dari organisasi kemasyarakatan keagamaan. Kehadirannya membantu Kementerian Agama dalam pembinaan dan pengawasan pengelolaan zakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, tata kelola yang baik akan memudahkan proses pengawasan sekaligus meringankan tugas negara. Meski demikian, ukuran keberhasilan lembaga amil zakat tidak dapat dilihat dari besarnya dana yang berhasil dihimpun, melainkan dari sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat.
“Jangan sampai kita bangga dengan pengumpulan yang besar, tetapi di sekitar kita masih banyak orang miskin. Itu berarti program yang dijalankan belum memberikan dampak yang optimal,” tegasnya.
Untuk memperkuat efektivitas program zakat nasional, Kementerian Agama tengah menyiapkan dashboard bersama yang akan mengintegrasikan data kemiskinan dengan badan dan lembaga amil zakat. Melalui sistem tersebut, perkembangan kondisi mustahik dapat dipantau secara real time, sehingga setiap program dapat diukur dampaknya secara lebih akurat.
Menurut Waryono, pemerintah juga akan terus melakukan orkestrasi bersama kementerian terkait agar seluruh badan dan lembaga amil zakat memiliki arah yang sama dalam menjalankan program pemberdayaan.
“Tujuan akhirnya hanya satu, yakni mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (*)
