SOLO, MENARA62.COM – Sampah organik di Desa Pabelan, Kabupaten Sukoharjo, tak sekadar dipandang sebagai limbah. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mendorong warga mengolahnya menjadi kompos dan pakan alternatif melalui pemanfaatan komposter serta budidaya maggot.
Upaya tersebut menjadi bagian dari program Pengabdian Masyarakat Berbasis Pengembangan dan Pemberdayaan Desa Binaan (P2DB) UMS bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat melalui Penguatan Peran BUMDes dalam Pengembangan Sustainable Village Berbasis Pengelolaan Limbah dan Ketahanan Pangan di Desa Pabelan.”
Program tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari Kepala Desa Pabelan Sri Handoko, Direktur BUMDesa Paramajaya Pabelan, kelompok ibu-ibu PKK, hingga para pemuda desa.
Ketua Tim P2DB UMS, Ir. Alfia Magfirona, S.T., M.T., mengatakan pengelolaan limbah perlu diarahkan tidak hanya untuk menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Menurut dia, program tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sekaligus memperkuat peran BUMDes dalam mengembangkan potensi desa secara berkelanjutan.
“Peran BUMDes diharapkan dapat menjadi penggerak dalam mengembangkan hasil kegiatan tersebut menjadi program yang berkesinambungan dan berpotensi memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” ujar Alfia, Selasa (22/9/2026).
Sampah Organik Diubah Jadi Kompos
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Balai Desa Pabelan pada 12 dan 29 Agustus 2026 tersebut berfokus pada pembuatan komposter, pengolahan limbah organik, dan pemanfaatan maggot.
Warga tidak hanya mendapatkan materi mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga diajak mempraktikkan langsung teknologi sederhana yang dapat diterapkan menggunakan sumber daya yang tersedia di lingkungan desa.
Salah satunya melalui pembuatan komposter untuk mengolah sampah organik rumah tangga.
Limbah organik yang sebelumnya berakhir sebagai sampah dapat diolah menjadi kompos. Produk tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas tanah, mendukung kegiatan pertanian, maupun menyuburkan tanaman di pekarangan rumah.
Penerapan komposter juga diharapkan mampu mengurangi volume sampah organik yang dibuang tanpa melalui proses pengolahan.
“Pengetahuan mengenai komposter dan maggot juga membuka peluang pengembangan kegiatan produktif yang dapat dikelola bersama masyarakat maupun melalui BUMDesa Paramajaya,” kata Alfia.
Maggot Jadi Alternatif Olah Limbah
Selain komposter, tim P2DB UMS memperkenalkan budidaya maggot sebagai salah satu alternatif pengolahan limbah organik.
Praktisi lingkungan hidup Suryono Arief Wijaya, S.T., turut memberikan materi mengenai pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot.
Maggot dapat membantu proses reduksi limbah organik sekaligus menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan, terutama sebagai sumber pakan alternatif.
Pendekatan praktik dipilih agar peserta tidak berhenti pada pemahaman teori. Warga diarahkan memahami tahapan pengolahan limbah secara langsung sehingga teknologi tersebut dapat diterapkan sesuai kondisi Desa Pabelan.
Respons peserta terhadap program tersebut juga dinilai positif. Antusiasme terlihat dari keterlibatan warga dalam diskusi maupun praktik selama kegiatan berlangsung.
Bagi tim P2DB UMS, keterlibatan pemerintah desa, BUMDes, PKK, pemuda, perguruan tinggi, dan praktisi menjadi modal penting untuk membangun model sustainable village yang mengintegrasikan aspek lingkungan, pemberdayaan ekonomi, dan ketahanan pangan.
Program tersebut didukung Direktorat Riset, Pengabdian Masyarakat, Publikasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual (DRPPS) UMS.
Ke depan, kegiatan diharapkan dapat memperkuat peran BUMDesa Paramajaya Pabelan dalam mengembangkan inovasi pengelolaan limbah berbasis masyarakat.
Komposter dan maggot pun diarahkan tidak berhenti sebagai solusi pengurangan sampah. Keduanya berpotensi menjadi bagian dari ekonomi sirkular desa, yakni mengubah limbah menjadi sumber daya yang memiliki manfaat guna sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat. (*)

