Oleh: Joko Intarto
JAKARTA, MENARA62.COM – Siapa yang belum kenal Warung Kopi Es Tak Kie? Datanglah ke Gang Gloria, pusat kuliner di kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat. Di gang sempit yang selalu ramai itu, Anda akan menemukan salah satu kedai kopi paling legendaris di Jakarta.
Malas ke Petak Sembilan karena membayangkan jauhnya perjalanan dan kemacetan kawasan Kota Tua? Kini Anda tidak harus ke Glodok. Warung Kopi Es Tak Kie juga hadir di kawasan wisata kuliner The Old Shanghai, Sedayu City, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Gerainya berada persis di sebelah kanan gerbang utama The Old Shanghai, berhadapan dengan patung Dewi Manzhou. Lokasinya mudah ditemukan.
Terus terang, sampai hari ini saya belum sempat menikmati Kopi Es Tak Kie, baik di Gang Gloria maupun di The Old Shanghai. Dua kali saya datang, waktunya ternyata kurang tepat: terlalu pagi. Warung belum buka. Akhirnya, saya hanya bisa memotret suasana dan menyimpan rasa penasaran untuk kunjungan berikutnya.
Meski belum sempat mencicipinya, cerita tentang Tak Kie sudah sejak lama membuat saya tertarik.
Tak Kie bukan sekadar kedai kopi tua. Tak Kie adalah saksi perjalanan Jakarta selama hampir satu abad.
Warung ini dirintis pada tahun 1927 oleh seorang perantau asal Tiongkok bernama Liong Kwie Tjong. Nama Tak Kie sendiri merupakan nama pemberian ayahnya. Dalam tradisi Tionghoa, nama bukan sekadar identitas, melainkan juga doa dan harapan. Nama itulah yang kemudian diabadikan menjadi nama usaha keluarga yang bertahan hingga sekarang.
Menariknya, pada masa awal berdiri, Tak Kie belum menjual kopi. Yang ditawarkan adalah roti, bakpao, bubur, cakwe, teh, dan berbagai makanan untuk sarapan. Beberapa tahun kemudian, kopi mulai menjadi menu utama. Sejak saat itulah Tak Kie dikenal sebagai kedai kopi.Menu yang kemudian menjadi ikon adalah Kopi Es Tak Kie.
Ada satu hal menarik yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Nama menu legendaris itu bukan Es Kopi Tak Kie, melainkan Kopi Es Tak Kie.
Sekilas, perbedaannya hanya urutan kata. Namun, menurut saya, pilihan nama itu memiliki makna.
Frasa Kopi Es menegaskan bahwa produk utamanya adalah kopi yang disajikan dengan es. Fokusnya tetap pada kopinya. Es hanyalah cara penyajiannya.
Sebaliknya, bila disebut Es Kopi, penekanannya seolah bergeser menjadi minuman es dengan rasa kopi, sebagaimana kita mengenal es jeruk, es teh, atau es campur.
Entah disengaja atau tidak, penamaan Kopi Es Tak Kie justru memperlihatkan identitas produknya dengan sangat jelas: mereka menjual kopi, bukan sekadar minuman dingin.
Resepnya pun tidak berubah sejak puluhan tahun silam. Racikannya sederhana: kopi robusta, susu kental manis, gula, dan es batu. Di tengah menjamurnya kopi kekinian dengan aneka sirup, krim, dan teknik penyeduhan modern, Tak Kie tetap setia pada resep warisan keluarga.
Pilihan itu terbukti tidak salah.
Selama hampir satu abad, Tak Kie berhasil melewati masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, pergantian rezim pemerintahan, berbagai krisis ekonomi, hingga pandemi COVID-19. Banyak kedai kopi lahir dan tenggelam. Tak Kie tetap bertahan.
Rahasia ketahanannya tampaknya bukan semata-mata terletak pada secangkir kopi.
Pengelolaan usaha diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap generasi menjaga resep, pelayanan, dan suasana yang menjadi ciri khas Tak Kie, sambil menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Karena itu, kini Tak Kie tidak hanya hadir di Gang Gloria, tetapi juga membuka gerai di berbagai lokasi baru, termasuk The Old Shanghai di Sedayu City.
Saya sendiri bukan pelanggan ideal Tak Kie. Sebagai diabetesi, saya harus menghindari minuman yang menggunakan susu kental manis dan gula. Di samping itu, saya juga lebih menyukai kopi dengan karakter rasa yang lebih kompleks daripada robusta yang menjadi dasar racikan Kopi Es Tak Kie.
Namun demikian, daya tarik Tak Kie ternyata bukan semata-mata soal rasa. Saya justru tertarik pada ceritanya: cerita yang membuat sebuah usaha mampu bertahan hampir satu abad.
Ada kualitas. Ada nilai, konsistensi, dan komitmen menjaga warisan yang terus dirawat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mungkin itulah resep paling rahasia dari Kopi Es Tak Kie.(jto)
Foto 1:
Saya di gerbang China Town Pancoran, Glodok, Jakarta Barat.
Foto2:
Warung Kopi Es Tak Kie di The Old Shanghai, Sedayu City, Kelapa Gading.
Foto 3:
Lukisan dinding yang menceritakan perjalanan sejarah Warung Kopi Es Tak Kie dari 1927 sampai hari ini.
