JAKARTA, MENARA62.COM – Integrasi data antar lembaga amil zakat menjadi sorotan dalam Resepsi Milad ke-24 Lazismu yang digelar di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Rabu (29/7/2026). Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) bahkan mengisyaratkan akan membangun dashboard data bersama berbasis waktu nyata (real-time) untuk memantau dampak program zakat dalam upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam resepsi yang mengusung tema “Integrasi Menguatkan Dampak”. Acara diikuti Lazismu wilayah se-Indonesia secara daring, serta dihadiri sejumlah mitra kolaborasi dan pemangku kepentingan di bidang filantropi Islam.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Waryono Abdul Ghafur, menegaskan bahwa ukuran keberhasilan lembaga amil zakat tidak lagi semata dilihat dari besarnya dana yang dihimpun, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
“Ukuran kesuksesan badan dan lembaga amil adalah seberapa besar dampaknya. Tantangan kita adalah memastikan program zakat benar-benar mampu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Waryono, Kemenag tengah mendorong integrasi data seluruh badan dan lembaga amil zakat melalui sebuah dashboard nasional. Sistem tersebut diharapkan mampu menyajikan informasi perkembangan layanan dan program pemberdayaan secara terintegrasi sehingga dapat terhubung dengan kementerian maupun lembaga terkait.
Ia menilai integrasi data menjadi langkah penting untuk menghindari tumpang tindih program sekaligus memastikan bantuan zakat lebih tepat sasaran.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, mengatakan tema Milad ke-24 merupakan refleksi perjalanan Lazismu selama lebih dari dua dekade dalam membangun gerakan filantropi Islam yang semakin berdampak.
Menurutnya, integrasi harus dimulai dari penguatan tata kelola kelembagaan dan sistem data yang berpijak pada kebutuhan riil masyarakat.
“Integrasi tersebut harus dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Apa yang bisa dibantu untuk menjawab persoalan masyarakat,” kata Mujadid.
Ia menambahkan, amil zakat dituntut memiliki kepekaan terhadap persoalan masyarakat agar program pemberdayaan benar-benar menjawab kebutuhan mustahik dan mampu mendorong mereka menuju kemandirian.
Sementara itu, Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief, menilai kualitas data dalam ekosistem filantropi Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah. Padahal, berbagai inovasi program pemberdayaan yang dijalankan lembaga zakat memiliki potensi besar untuk dikenal lebih luas, termasuk di tingkat internasional.
“Hingga kini masih sulit menemukan lembaga filantropi yang memiliki kualitas data yang kuat. Padahal kita memiliki banyak praktik baik, hanya belum optimal dalam literasi data dan eksposurnya kepada dunia,” ujarnya.
Hilman menekankan pentingnya memperkuat data, literasi, dan publikasi agar keberhasilan program pemberdayaan tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga menjadi rujukan dalam pengembangan filantropi global.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua Baznas, Zainut Tauhid Sa’adi. Menurutnya, tema “Integrasi Menguatkan Dampak” mencerminkan tantangan besar pengelolaan zakat di Indonesia.
Ia menyebut potensi zakat nasional sangat besar, namun pemanfaatannya akan lebih optimal apabila didukung integrasi kelembagaan, data, dan sumber daya.
“Minimal integrasi data dapat mengatasi tumpang tindih program sehingga kebutuhan masyarakat dapat dijangkau secara lebih efektif,” katanya.
Dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan empat arahan strategis bagi Lazismu. Pertama, memperkuat konsolidasi jaringan Lazismu di tingkat nasional maupun internasional. Kedua, mengintegrasikan dinamika gerakan yang semakin progresif. Ketiga, menyatukan aktivitas pentasyarufan dan pemanfaatan dana ZISKA secara lebih terpadu. Keempat, memperluas jejaring kolaborasi guna meningkatkan penghimpunan zakat dan memperbesar manfaatnya bagi masyarakat.
Haedar juga mendorong Lazismu memanfaatkan teknologi informasi dan media sosial untuk memperluas jangkauan dakwah filantropi serta membangun relasi baru yang lebih masif.
Resepsi Milad ke-24 Lazismu menjadi momentum untuk menegaskan bahwa masa depan gerakan filantropi Islam tidak hanya bergantung pada besarnya dana yang dihimpun, tetapi juga pada kemampuan membangun integrasi data, tata kelola, dan kolaborasi sehingga dampaknya benar-benar dirasakan dalam upaya mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat. (*)
