32.1 C
Jakarta

Loper Koran

Serial Pak Bei

Baca Juga:

Edan tenan Kang Narjo. Omongannya mak-jleb di ulu hati. Sudah seminggu dia tak tampak batang hidungnya dan tugasnya ngantar koran sementara diganti si Azis anak bungsunya.

“Nengok cucu di Jakarta, Pak Bei. Istri kakak melahirkan anak kedua bulan lalu,” kata Azis ketika ditanya Pak Bei ke mana bapaknya.

Pak Bei sedang merawat tanaman Bunga mawar marna-warni di halaman ketika Narjo mak-bedunduk datang dan melempar korankan ke teras.

“Wah yang dari Jakarte. Mane nih oleh-olehnye?,” sapa Pak Bei pada Narjo dengan bercanda.

“Wah semakin kritis kok, Pak Bei,” jawab Narjo.

“Looh…apanya yang kritis, Kang?”

“Pekerjaanku.”

“Ada apa dengan pekerjaanmu?”

“Pak Bei kan tahu, aku sudah nekuni pekerjaan loper koran ini sejak baru lulus SMEA. Empat puluh tahun yang lalu.”

“Iya aku tahu. Kenapa, Kang?”

“Sejak aku masih ngepit onthel, naik sepeda, sampai gonta-ganti motor dan punya tiga cucu saat ini, aku masih tetap setia mengantar berita ke para pelanggan setiap pagi.”

“Iya, aku tahu Kang Narjo punya dedikasi tinggi sebagai loper koran.”

“Tapi jaman sudah jauh berubah. Sekarang pelangganku tinggal sedikit, Pak Bei. Pembaca koran sudah beralih ke media online. Kemarin ada koran Nasional yang bahkan sudah memilih tutup, tidak terbit lagi. Mungkin juga karena pembacanya tinggal sedikit.”

“Iya aku sudah baca berita itu, Kang.”

“Loper koran tak lagi ditunggu-tunggu kedatangannya,” kata Narjo dengan mata berkaca-kaca.

“Iya, Kang. Sabar, ya,” Pak Bei mencoba menenangkan hati Narjo.

“Tapi orang sekarang juga aneh, Pak Bei.”

“Aneh bagaimana?”

“Banyak orang justru memilih jadi loper koran.”

“Maksudnya?”

“Padahal orang-orang cukup pintar, berpendidikan, punya banyak teman, banyak relasi, juga banyak mengikuti group WhatsApp, tapi ternyata….,” Narjo tampak tidak tega meneruskan kalimatnya.

“Ternyata apa, Kang? Teruskan saja….”

“Ternyata sama saja dengan aku, hanya loper koran.”

“Maksudnya?”

“Coba saja Pak Bei cermati. Banyak orang main gadget, bermedsos tiap saat, aktif di Facebook dan group-group WA, tapi ternyata hobynya cuma copy paste berita atau tulisan dan pendapat orang lain.”

“Memangnya kenapa, Kang?”

“Lah itu kan sama saja dengan loper koran, Pak Bei. Mengantar tulisan atau pendapat orang ke teman-temannya. Iya, kan? ”

“Iya juga ya, Kang. Memang begitu biasanya.”

“Kenapa pada tidak belajar bikin tulisan sendiri saja, Pak Bei?”

“Wah ya gak segampang itu, Kang.”

“Ya memang tidak gampang, Pak Bei. Tapi kan sekarang media informasi sudah ada di tangannya, di tangan setiap orang, bukan lagi milik pengusaha media cetak seperti dulu.”

“Iya benar.”

“Kalau dulu, tulisan wartawan atau para kolumnis koran dan majalah kan harus lolos seleksi dulu di dewan redaksi. Hanya tulisan yang bagus yang bisa dimuat. Jaman medsos sekarang tidak ada dewan redaksi. Semua orang boleh menulis apa saja dan kapan saja. Bebas sebebas-bebasnya..”

“Iya benar.”

“Kenapa kebebasan itu tidak dimanfaatkan untuk belajar menulis, Pak Bei? Syukur-syukur bisa bikin tulisan yang bagus, yang mengabarkan kebaikan, untuk kebaikan hidup bersama. Jangan justru bikin tulisan yang penuh sak-wasangka, caci-maki, shu’udhon, tentang aib dan keburukan seseorang atau golongan. Mbok ya belajar jadi penulis yang elegan, bukan jadi provokator yang suka adu-domba dan permusuhan.
Ah sudahlah, Pak Bei. Aku pamit dulu ya….”

Narjo pun meninggalkan halaman Ndalem Pak Bei melanjutkan tugasnya. Entah mimpi apa Pak Bei tadi malam kok pagi ini tetiba diceramahi Narjo si loper koran? Entah ketemu siapa saja selama seminggu di Jakarta, kok tetiba Narjo bisa ngomong setajam itu? Apa dia juga sudah main medsos, ya? Wis embuhlah.
Edan tenan Narjo.

#serialpakbei
#wahyudinasution
#loperkoran

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!