25.6 C
Jakarta

Novel Rantau 1 Muara: Bahagia itu Sederhana

Must read

95 Persen Masyarakat Minta Pemerintah Mahalkan Harga Rokok

JAKARTA, MENARA62.COM - Perhelatan Festival Pemilu Harga yang diselenggarakan oleh Center for Indonesia Strategic Development Initiative (CISDI), Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI),...

BATAN Tingkatkan Pemanfaatan Nuklir pada Bidang Pertanian dan Industri

JAKARTA, MENARA62.COM - Pemanfaatan iptek nuklir dewasa ini terus berkembang dan banyak dirasakan oleh masyarakat, khususnya di bidang pertanian dan industri. Badan Tenaga Nuklir...

Musibah dan Semangat Membangun Minat Baca

Oleh: Ashari, SIP* Musibah bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Tidak peduli kaya miskin. Semua orang pasti mengalami musibah. Hanya yang membedakan, di...

KARSA Turi Dukung Kustini – Danang pada Pilkada Sleman 2020

SLEMAN, MENARA62.COM -  Sekitar 50 ibu-ibu dari Desa Wisata Pulesari Wonokerto Turi yang tergabung dalam kelompok KARSA menyatakan dukungannya pada pasangan calon bupati/wakil bupati...

Oleh: Ashari, SIP.*

Membaca Novel Ahmad Fuadi yang bercerita perjalanan hidupnya ini memang terasa mengasyikan. Pembaca ‘dipaksa’ untuk terus ingin tahu kelanjutannya. Di buku ke-3 dari Trilogi Negeri 5 Menara ini, penulis bercerita dari bagaimana suasana kos di Bandung, gigihnya mencari kerja di Jakarta hingga mengarungi separuh duniadi Eropa.

Pembelaan yang kuat akan cita-cita yang menjulang nampak jelas dalam perjalanan Ahmad Fuadi ini. Memberikan pesan kepada pembacanya untuk tidak mudah putus asa dalam mengarungi hidup dan meraih mimpi. Dari masa-masa jaya hingga sulit penulis ceritakan. Seperti nampak dalam bahasan Koran Kurus, A.Fuadi yang dalam Novel itu dianalogkan sebagai Alif Fikri, harus menerima kenyataan pahit, tulisannya tidak lagi bisa dimuat bukan lantaran kualitas yang buruk, namun kondisi jaman yang memaksanya. Amukan badai krisis ekonomi tahun 1998 berimbas hingga ke Bandung. (Hal 11-19).Membuat koran harus menipiskan halamannya. Demi bertahan.

Ada 46 item atau judul yang dirangkum A.Fuadi hingga berakhir pada Muara di Atas Muara sebagai ending dari buku yang sudah masuk cetak ke-5. Pergulatan Alif Fikri dalam meraih mimpi diracik dengan apik dan penuh haru. Meski ada masa-masa sulit yang harus dilalui, namun tidak menguras pembaca untuk meneteskan air mata. Namun justru semangat heroik untuk bersabar di jalannya. (Baca Doktor Alif, hal 67).

Dari sekian banyak bab, kisah asmara Alif ke-2 dengan Dinara membetot naluri untuk mengikutinya dengan khusuk. Tanpa dibumbui nafsu syahwat yang menggelora. Diawali dari pandangan pertamanya di Kantor Derap, Alif sudah merasa terpesona. Ada sesuatu yang hebat hingga Alif harus mencari tahu siapa dia. “Perasaan saya pernah bertemu, tapi dimana?” kata Alif dalam hati. Hingga Alif harus mengejarnya, ketika dia pergi dari wawancara awal sebagai wartawan. Alif sempat diledek oleh staf redaksi, “Naksir ya, dia calon anak baru di sini, doakan saja semoga diterima?” (baca : Wajah di Ujung Tangga, hal 113).

Pendekatan-pendekatan Alif ke Dinara juga digambarkan di novel ini. Termasuk kegamangan Alif untuk mengungkapkan rasa cintanya karena disergap oleh rasa malu. Kisah cinta Alif ini nampaknya mulai diendus oleh Pimpinan Redaksi, Mas Aji. terbukti sampai dia harus mendapatkan support untuk mendapatkan Dinara yang waktu itu menjadi ‘bunga’  di kantor Derap.

Cerita selanjutnya menggambarkan bagaimana ia mengembara ke Eropa. Hingga tarik ulur harus pulang ke Indonesia. Agar dirinya menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Yang kemudian dibuktikan dengan mendidikan Komunitas Negeri 5 Menara, salah satu program hebatnya mendidikan 1000 PAUD di Indonesia. Rintisan itu sudah mulai berjalan. Ahmad Fuadi ingin berpesan lewat novel ini bahwa  itu sederhana. Ketika kita bisa membahagiakan orang lain.

Namun ada sisi yang menurut saya agak kurang dibahas, adalah kurangnya informasi yang mendalam tentang keluarga Alif Fikri sendiri, berapa jumlah anaknya, sudah sekolah dimana? Juga bagaimana kehidupan Amak dan dua adiknya pasca di tinggal belajar di manca. Atau semua itu akan dibahas pada novel yang  lain? Kita masih tunggu.Sekian.

*Ashari, S.IP – Mengajar di SMP Muhammadiyah 1 Turi Sleman.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

95 Persen Masyarakat Minta Pemerintah Mahalkan Harga Rokok

JAKARTA, MENARA62.COM - Perhelatan Festival Pemilu Harga yang diselenggarakan oleh Center for Indonesia Strategic Development Initiative (CISDI), Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI),...

BATAN Tingkatkan Pemanfaatan Nuklir pada Bidang Pertanian dan Industri

JAKARTA, MENARA62.COM - Pemanfaatan iptek nuklir dewasa ini terus berkembang dan banyak dirasakan oleh masyarakat, khususnya di bidang pertanian dan industri. Badan Tenaga Nuklir...

Musibah dan Semangat Membangun Minat Baca

Oleh: Ashari, SIP* Musibah bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Tidak peduli kaya miskin. Semua orang pasti mengalami musibah. Hanya yang membedakan, di...

KARSA Turi Dukung Kustini – Danang pada Pilkada Sleman 2020

SLEMAN, MENARA62.COM -  Sekitar 50 ibu-ibu dari Desa Wisata Pulesari Wonokerto Turi yang tergabung dalam kelompok KARSA menyatakan dukungannya pada pasangan calon bupati/wakil bupati...

Biasakan Mengambil Risiko Sedang

Oleh: Ashari, SIP* Di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, sisi positif yang dapat kita ambil adalah munculnya aneka usaha baru. Baik skala rumahan alias...