26.3 C
Jakarta

Operasi Katarak dengan Teknologi Modern Fakoemulsifikasi

Baca Juga:

DEPOK, MENARA62.COM – Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) berhasil melakukan operasi dengan teknologi modern Fakoemulsifikasi pada penderita katarak juvenil (terjadi pada usia muda) dan katarak senilis (terjadi pada usia lebih dari 50 tahun). Operasi dilakukan oleh tim multidisiplin kedokteran spesialis mata RSUI yang terdiri dari dr. Anissa N Witjaksono, BMedSc(Hons), SpM dan dr. Syska Widyawati, SpM(K), M.Pd.Ked pada Senin, (8/3/2021).

Katarak merupakan kondisi yang mengganggu fungsi penglihatan. Gejalanya, lensa mata tampak keruh dan sulit ditembus cahaya, penglihatan menjadi buram sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Fungsi penglihatan yang menurun ini jika didiamkan bisa mengakibatkan kebutaan.

Untuk mengatasinya dilakukan tindakan operasi dengan mengganti lensa mata dengan lensa buatan, untuk mengembalikan penglihatan kembali optimal. Operasi katarak dengan teknik operasi Fakoemulsifikasi merupakan teknik modern yang menjadi pilihan saat ini. Operasi dengan menggunakan mesin canggih yang menggerakkan jarum yang bergetar sesuai frekuensi ultrasonik, kemudian akan menghancurkan lensa melalui luka yang sangat kecil. Teknik ini yang menyebabkannya unggul, karena penyembuhan dan rehabilitasi visual menjadi lebih cepat.

“Operasi fakoemulsifikasi memungkinkan dilakukan pada penderita katarak imatur, dengan luka operasi minimal dan umumnya tanpa jahitan, insersi Intra Ocular Lens (IOL) mengganti fungsi lensa yang sudah mengalami katarak sehingga fungsi pengelihatan menjadi optimal” ujar Anissa.

Operasi dengan teknik ini, lanjutnya, berlangsung cukup singkat 20 – 30 menit. Waktu perawatan operasi, one day care karena dokter tidak perlu membuat sayatan lebar sehingga operasi katarak ini cepat dan aman. Selain itu operasi fakoemulsifikasi ini tingkat kesuksesasnnya tinggi. Teknik operasi ini juga dapat mengatasi penglihatan yang buram akibat cedera atau trauma pada mata.

Di Indonesia, katarak termasuk salah satu penyebab terbanyak kebutaan di Indonesia. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menyebut katarak merupakan penyebab tertinggi kebutaan sekitar 81%. Selain itu, katarak juga merupakan khusus gangguan penglihatan paling banyak di Indonesia.

Melihat angka penderita gangguan penglihatan di Indonesia cukup tinggi, RSUI berharap keberhasilan pelaksanaan operasi ini sebagai upaya rumah sakit dalam membantu pemerintah menurunkan angka kebutaan akibat katarak di Indonesia.

Bagi masyarakat yang ingin menggunakan jaminan pemerintah untuk layanan operasi katarak, kini RSUI dapat menerima peserta jaminan BPJS Kesehatan. Dalam hal ini, penerimaan pasien sesuai dengan sistem rujukan berjenjang berdasarkan ketentuan dari BPJS Kesehatan.

 

 

 

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!