25.2 C
Jakarta

Pelatihan Teknologi Tepat guna eco enzim : Dari yang tidak berarti menjadi sejuta manfaat

Baca Juga:

Bonni Febrianhttp://menara62.com
Belajar istiqomah dan lebih bermanfaat

 

SAMARINDA, MENARA62.COM– Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Kaltim bersama Paramita Foundation menggelar Pelatihan Teknologi Tepat Guna Eco Enzyme, sabtu (04/12). Kegiatan dilangsungkan di Gedung Buddist Center Samarinda dibuka oleh Ketua FKUB Prov. Kaltim Asmuni Ali.

Kegiatan ini berdurasi kurang lebih 3 jam yang dihadiri oleh peserta dari unsur Kanwil Kemenag Kaltim, Unsur Perempuan Lintas Agama (PERLITA), Unsur Pemuda Lintas Agama (PELITA) dan Unsur masyarakat desa Kerukunan, yang berjumlah 20 orang. Sebagai narasumber Yulianti yang merupakan aktifis, penggiat dari komunitas Eco Enzyme Nusantara.

Sebagaimana diungkapkan oleh Yulianti, eco enzyme ini pertama kali ditemukan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, pendiri Asosiai Pertanian Organik Thailan, yang melakukan Penelitian sejak tahun 1980-an kurang lebih 30 tahun dan kemudian diperkenalkan secara lebih luas oleh Murid Beliau Dr. Joen Oon, seorang peneliti Naturopathy dari Penang Malaysia.

Menariknya, Dr. Rosukon ini hidupnya bersahaja dan mempersembahkan penemuannya ini untuk berbagi dan tidak dikomersialkan karena tujuannya untuk melestarikan lingkungan dan menyelamatkan bumi.

Eco enzyme memiliki beragam manfaat, diantaranya membantu memudahkan pertumbuhan tanaman (sebagai ferlitizer atau pupuk), untuk kecantikan dan untuk kesehatan .

Kegunaan lainnya, eco enzyme bisa ditambahkan ke produk pembersih rumah tangga, seperti pencuci piring deterjen, sebagai pengharum dan pengsteril ruangan, sebagai pengurang radiasi, sebagai pencampuran cucian dan banyak lagi kegunaannya apabila digunakan dengan takaran dan ukuran yang sesuai. Eeco enzyme ini juga bermanfaat untuk mengurangi sampah organik yang memicu pemanasan bumi dan memanfaatkan sampah-sampah organik sehari-hari dirumah kita menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Cara membuat ecy enzyme ini sangat mudah yaitu terdiri dari bahan organik yaitu sampah dari buah dan sayur yang masih segar dari sisa dapur rumah kita, air bersih dan molusa yaitu gula merah atau gula kelapa dengan perbadingan 1:3:10.

Perbandingan 1 adalah molusa, 3 adalah kombinasi potongan buah dan sayuran yang tidak busuk lebih baik lagi lebih dari 5 jenis bahan organik dan 10 yaitu air bersih.

Untuk medianya, lebih dianjurkan terbuat dari plastik, dan tidak dianjurkan terbuat dari kaca, alumunium, seng dan keramik karena eco enzyme ini nantinya menghasilkan gas karena melalui proses fermentasi. Tempat dari plastik ini hanya boleh diisi air maksimal 60 persen dari kapasitas keseluruhan tempatnya..

Setelah semua bahan dimasukkan, lalu diaduk merata dan dianjurkan ditutup rapat menggunakan plastik dan karet. Pengadukan ulang setelah hari ke-7. Kemudian ditutup lagi, lalu dilakukan pengedukan kembali hari ke-30. Disarankan dalam prosesnya eco enzyme tidak terkena sinar matahari. Sehingga eco enzyme bisa dipanen setelah 3 bulan.

Kontributor : Hj. Arbayah, S.HI, M.Pd

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!