BOYOLALI, MENARA62.COM — Ketika remaja mulai jatuh cinta, respons orang tua menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana mereka mengelola perasaan tersebut. Bukan sekadar melarang atau memarahi, orang tua perlu hadir sebagai pendengar sekaligus pendamping.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan parenting Paguyuban Wali Santri SMA Manafiul Ulum Canden bertajuk “Panduan Cerdas Remaja Jatuh Cinta” di Aula Ponpes Muhammadiyah Canden, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan menghadirkan Etik Rahmawati, S.Psi., MM., Psikolog sebagai narasumber. Parenting diikuti para wali santri SMA Manafiul Ulum Canden sebagai ruang edukasi dan silaturahmi antara keluarga dengan pesantren.
Topik tentang ketertarikan remaja terhadap lawan jenis sengaja diangkat untuk membekali orang tua menghadapi salah satu fase perkembangan anak yang kerap memunculkan kekhawatiran.
Mudir Ponpes Manafiul Ulum Canden, Ustaz Pujiono, S.Si., MM., mengatakan masa remaja merupakan fase penting yang membutuhkan perhatian dan kedekatan orang tua.
Menurut dia, persoalan jatuh cinta pada remaja tidak cukup disikapi dengan larangan. Komunikasi terbuka diperlukan agar anak memiliki ruang aman untuk menyampaikan perasaan dan persoalan yang dihadapinya.
“Anak-anak kita tidak cukup hanya diberi nasihat. Mereka membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan, memahami dunianya, kemudian mengarahkannya dengan nilai-nilai agama dan akhlak,” pesan Pujiono.
Ia menegaskan, pendidikan karakter anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga dan lembaga pendidikan. Pesantren berperan memberikan pembinaan selama santri berada di lingkungan pendidikan, sementara keluarga tetap memegang peran penting dalam membentuk karakter dan kebiasaan anak di rumah.
Pujiono juga mengingatkan agar rasa cinta yang mulai tumbuh pada diri remaja diarahkan secara tepat.
“Ketika anak mulai mengenal rasa cinta, tugas kita bukan memusuhi rasa itu, tetapi mengajarkan bagaimana mengelolanya agar cinta tidak menjadi jalan menuju kemaksiatan, melainkan menjadi energi untuk menjaga kehormatan, prestasi, dan masa depan,” ujarnya.
Bekal Orang Tua Hadapi Masa Pubertas
Dalam sesi utama, Psikolog Etik Rahmawati memberikan pemahaman mengenai karakteristik psikologis remaja dan dinamika perasaan yang muncul pada masa pubertas.
Para wali santri juga mendapatkan pembekalan mengenai strategi komunikasi ketika anak mulai mengenal hubungan dengan lawan jenis.
Pendekatan komunikasi menjadi perhatian penting agar orang tua tidak justru membuat anak menutup diri. Dengan komunikasi yang tepat, orang tua dapat mengetahui persoalan yang dihadapi anak sekaligus memberikan arahan sesuai nilai agama dan perkembangan psikologisnya.
Kegiatan diawali dengan pembacaan Al-Qur’an oleh Aulia Azkiatuz Zahra dan dipandu Triana N sebagai pembawa acara. Hadir pula Mudir Ponpes Manafiul Ulum Canden Ustaz Pujiono, S.Si., MM., didampingi Wadir Ustaz Suradi, S.P.
Ketua Paguyuban Wali Santri SMA Manafiul Ulum Canden, Triana N, mengatakan kegiatan parenting tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat ukhuwah sekaligus membangun komunikasi antara wali santri dan pesantren.
Menurut dia, sinergi keluarga dan pesantren diperlukan agar pendampingan terhadap remaja tidak berjalan sendiri-sendiri.
Paguyuban Wali Santri SMA Manafiul Ulum Canden terdiri atas Triana N sebagai ketua, Sri Yamtini sebagai sekretaris, dan Wahyono sebagai bendahara.
Melalui kegiatan tersebut, orang tua dan pesantren diharapkan memiliki kesamaan visi dalam mendampingi generasi muda. Remaja tidak hanya diarahkan menjadi pribadi yang berilmu, tetapi juga berakhlak, mampu mengendalikan diri, dan bijak menghadapi dinamika kehidupan. (*)

